Showing posts with label mahdi. Show all posts
Showing posts with label mahdi. Show all posts

Wednesday, August 3, 2011

Pembuktian Teologis atas Konsep Mahdiisme Menurut Ahlul Bait a.s.

Kode: 224599 Tanggal: 2011/02/06Sumber: www.madinah-al-hikmah.net
print

Pembuktian Teologis atas Konsep Mahdiisme Menurut Ahlul Bait a.s.

Argumentasi teologis atas konsep Mahdiisme terungkap dalam ratusan riwayat yang datang dari Rasulullah yang menunjukkan penentuan Imam Mahdi a.s. dan bahwa beliau dari Ahlul Bait a.s.

Pembuktian Teologis atas Konsep Mahdiisme Menurut Ahlul Bait a.s.
Argumentasi teologis atas konsep Mahdiisme terungkap dalam ratusan riwayat yang datang dari Rasulullah[1] yang menunjukkan penentuan Imam Mahdi a.s. dan bahwa beliau dari Ahlul Bait a.s.[2]
 Dinyatakan juga bahwa beliau adalah dari ke-turunan Fathimah a.s.[3], dari keturunan imam Husain a.s.[4], keturunan ketujuh dari imam Husain a.s.[5], dan bahwa beliau adalah khalifah dan pengganti Rasulullah adalah 12 orang.[6]
Lima kelompok dan kategori riwayat ini,[7] satu sama lain berlomba menjelaskan konsep Mahdiisme dan mendefinisikan Imam Mahdi a.s. Sedang yang perlu dicermati di sana adalah analisis atas hal tersebut dari topik umum ke topik yang lebih khusus sehingga sampai kepada topik penentuan personal.
Sahid Baqir Shadr ra. menggarisbawahi riwayat-riwayat tersebut dan mengatakan: ”Riwayat ini sangat-lah banyak dan tersebar, kendati para imam telah berhati-hati untuk memaparkan konsep ini pada konteks umum, sebagai upaya penyelamatan bagi pelanjut mereka (Imam Mahdi a.s.) dari konspirasi dan pembunuhan”[8].


Selain itu, perlu dipahami bahwa banyaknya riwayat bukan satu-satunya alasan yang cukup untuk menerima konsep ini. Akan tetapi di sana terdapat keistimewaan dan bukti-bukti lain yang menegaskan keabsahannya. Misalnya, hadis Rasulullah yang mulia tentang para imam dan khalifah atau amir setelah beliau dan ihwal mereka berjumlah 12 orang?dengan berbagai perbedaan riwayat yang datang dari jalur yang beragam?telah dihitung oleh sebagian para penulis hingga mencapai lebih dari 270 riwayat,[9] sebuah jumlah yang fantastik, di mana riwayat-riwayat tersebut diambil dari kitab hadis standar, baik dari kalangan Syi’ah maupun Ahli Sunnah, di antaranya Shahih Bukhari[10], Shahih Muslim[11], Sunan Tirmidzi[12], Sunan Abu Daud[13] dan Musnad Ahmad[14] serta Mustadrak Hakim.[15]
Yang menarik di sini, Bukhari yang menukil riwayat ini adalah orang yang hidup sezaman dengan imam Al-Jawad a.s. dan dengan dua imam yang lain; Imam Al-Hadi dan Imam Al-Askari a.s. Ini  merupakan sebuah keunikan yang besar, karena ia berdalil bahwa hadis ini telah dinukil dari Rasulullah sebelum kandungannya terwujud dan sebelum konsep kepemimpinan dua belas Imam itu terjadi di dunia nyata. Tentunya, tidak bisa diragukan lagi, bahwa penukilan hadis ini tidak dipengaruhi oleh kondisi nyata di luar dari dua belas Imam ataupun refleksi darinya, sebab hadis-hadis palsu yang disandarkan kepada Rasulullah adalah cerminan atau justifikasi atas peristiwa yang nantinya akan terjadi di masa depan.

Maka itu, selagi kita memiliki dalil bahwa hadis yang disebutkan tadi telah melalui rentetan sejarah para  Imam dua belas dan tercatat dalam kitab-kitab hadis sebelum menyempurnanya para personnya fakta kedua belas Imam, maka dapat kita tegaskan bahwa hadis ini bukanlah gambaran dari fakta yang terjadi di luar, akan tetapi ungkapan dari hakikat rabbani yang diucapkan oleh orang yang tidak pernah berucap selain wahyu dari Tuhan[16]. Beliau bersabda:
”Sesungguhnya khalifah sepeninggalku adalah dua belas orang”.

Fakta dua belas imam ini telah nyata; diawali oleh Imam Ali a.s. dan diakhiri oleh Imam Mahdi sebagai misdaq (personifikasi) logis dari hadis mulia tersebut.[17]

Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya dari Qutaibah ibn Said, dari Jabir ibn Samarah, dia berkata:

”Aku datang bertemu dengan Rasulullah bersama ayah-ku, maka aku mendengar beliau bersabda: ‘Sesungguhnya urusan ini (agama Islam) tidak akan berakhir kecuali dua belas khalifah berlalu”. Jabir berkata: “Kemudian beliau bersabda dengan kata-kata yang tidak aku dengar, maka aku bertanya kepada ayahku, apa yang beliau sabdakan? Ayah menjawab semuanya dari bangsa Quraisy.”[18]
Kemudian Muslim meriwayatkan dari jalur Ibnu Abu Umar, dari Abu Umar dari Hadab ibn Khalid, dari Nashr ibn Jahdhami, dan dari Muhammad  ibn Rafi’e; semua dari satu jalur. Dia juga menguatkan riwayat Abu Bakar ibn Abu Syaibah dari dua jalur, dan riwayat Qutaibah ibn Said melalui dua jalur yang lain.
Dengan demikian, terdapat sembilan jalur dari hadis tersebut yang hanya terdapat dalam kitab Sahih Muslim. Belum lagi kalau kita mau membawakan hadis ini dari jalur-jalur yang beragam yang terdapat dalam kitab-kitab hadis yang lain dari mazhab Syi’ah maupun Ahli Sunnah.[19]

Kerancuan Ahli Sunnah Dalam Menafsirkan Hadis
Pertanyaan di sini adalah, siapa mereka para khalifah tersebut? Sebelum memilih jawaban yang benar dari soal ini, kita akan memberikan dua alternatif yang dapat diasumsikan pada hadis itu dan maksud Rasul saw.  darinya. Maka, di sini hanya ada dua kemungkinan dan tidak ada pilihan ketiga di dalamnya. Kedua kemung-kinan tersebut adalah;
  • 1. Maksud dari sabda Nabi tersebut adalah penjelasan fakta politik umat beliau yang akan terjadi sepe-ninggal beliau, dengan cara penyingkapan akan masa depan. Sebagaimana hal ini juga terjadi dalam berbagai hal yang lain. Dengan demikian maksud hadis ini adalah pemberitahuan beliau akan masa mendatang dan menimpa umat beliau, atau dapat kita istilahkan kemungkinan pertama ini dengan nama tafsir mustaqbali (futurologis).
  • 2. Kemungkinan kedua adalah Nabi bermaksud menentukan kedua belas Imam dan penggantinya, maka tujuan hadis ini adalah pelantikan sesuai dengan tuntutan syariat bukan kabar akan masa mendatang. Kemungkinan ini disebut juga sebagai tafsir aqaidiyah (teologis).
Sejauh kajian ilmiah, kita dituntut untuk mencermati  dua kemungkinan ini dan memilih apa yang sesuai dengan bukti logis maupun dogmatis. Hanya saja, karena Ahli Sunnah sejak awal telah meyakini teori khilafah dan  menolak teori pelantikan serta membangun sistem akidah dan hukumnya di atas keyakinan ini, pada gilirannya mereka tidak menemukan alternatif selain kemungkinan atau tafsiran pertama, dan dengan segala cara berupaya menakwilkan apa-apa yang bertentangan dengannya. Kendati produk-produk penakwilan mereka itu jauh dari nalar yang lurus dan kearifan insani, namun demikian ini adalah konsekuensi yang tak terelakkan.
Semestinya, Ahli Sunnah memandang hadis ini secara ilmiah dan bebas dari asumsi sehingga kita dapat melihat kelemahan tafsir futuralistik itu. Maka, jika Nabi saw. bermaksud menjelaskan ihwal kejadian di masa depan, mengapa beliau hanya menentukan dua belas orang saja? Bukankah masa depan itu lebih panjang   dari sekedar jumlah dua belas pemimpin? Dan jika Rasulullah melihatnya dengan kaca mata khilafah yang sah yang sesuai dengan norma-norma syariat, maka  Ahli Sunnah tidak akan siap untuk meyakini Khulafa Rasyidin dan menolak legalitas kepemimpinan selain mereka. Oleh karena itu, mereka kebingungan dalam menentukan dua belas pribadi pengganti yang telah disinggung oleh Rasulullah saw.
Sejalan dengan ini, maka dua belas imam atau pemimpin?menurut Ibnu Katsir?adalah keempat khalifah awal, lalu Umar ibn Abdul Aziz, dan sebagian khalifah dari dinasti Abbasiyah, di mana Imam Mahdi yang dijanjikan berasal dari mereka.[20]
Menurut Qadhi Damaskus, mereka adalah Khulafa’ Rasyidin, Muawiyah, Yazid ibn Muawiyah, Abdul Malik ibn Marwan dan keempat anaknya (Walid, Sulaiman, Yazid dan Hisyam), dan diakhiri oleh Umar ibn Abdul Aziz[21].
Menurut Waliyyullah, seorang Ahli Hadis dalam kitab Qurratul ‘Ainain, sebagaimana dinukil dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, mereka adalah empat khalifah pertama muslimin, Abdul Malik ibn Marwan dan keempat anaknya, Umar ibn Abdul Aziz, Walid ibn Yazid ibn Abdul Malik. Kemudian Waliyyullah menukil dari Malik ibn Anas seraya memasukkan Abdullah ibn Zubair ke dalam dua belas orang tersebut, akan tetapi dia menolak perkataan Malik dengan dalil riwayat dari Umar dan Ustman dari Rasulullah saw. yang menunjukkan bahwa pemerintahan yang dipimpin oleh Abdullah ibn Zubair adalah sebuah bencana dari sederet malapetaka yang diderita umat Islam. Ia juga menolak dimasukkannya Yazid dan menegaskan, bahwa dia adalah sosok yang berperilaku bejat.[22]
Ibnu Qayim Jauzi mengatakan: “Sedangkan jumlah khalifah itu dua belas orang; sekelompok orang yang di antaranya; Abu Hatim, Ibnu Hibban dan yang lain mengatakan bahwa yang terakhir dari mereka adalah Umar ibn Abdul Aziz. Mereka menyebut khalifah empat pertama, Muawiyah, Yazid ibn Muawiyah, Muawiyah ibn Yazid, Marwan ibn Hakam, Abdul Malik ibn Marwan, Walid ibn Abdul Malik, Sulaiman ibn Abdul Malik, dan khalifah yang kedua belas Umar ibn Abdul Aziz. Khalifah yang terakhir ini wafat pada tahun seratus Hijriyah; di abad pertama dan paling awal dari abad-abad kalender Hijriah manapun, pada abad inilah agama  berada di puncak kejayaan sebelum terjadi apa yang telah terjadi”.[23]
Nurbasyti mengatakan: ”Cara terbaik memaknai hadis ini adalah menerapkan maknanya pada mereka yang adil, karena pada dasarnya merekalah yang berhak menyandang gelar sebagai khalifah, dan tidak mesti mereka memegang kekuasaan, karena yang dimaksud dari hadis adalah makna metaforis saja. Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Mirqat”.[24]
Dan menurut Maqrizi, jumlah dua belas imam adalah khalifah empat pertama dan Hasan cucunda Nabi saw.  Ia mengatakan: “Dan padanya (Imam Hasan a.s.), masa khalifah rasyidin pun berakhir”. Maqrizi tidak memasukkan satu pun dari penguasa dinasti Umawiyah. Masih menurut penjelasannya, khilafah setelah Imam Hasan a.s. telah menjadi sistem kerajaan yang di dalamnya telah terjadi kekerasan dan kejahatan. Lebih lanjut, ia juga tidak memasukkan satu penguasa pun dari dinasti Abbasiyah, karena pemerintahan mereka telah memecah belah kalimat umat dan persatuan Islam, dan membersihkan kantor-kantor administrasi dari orang Arab lalu merekrut bangsa Turki. Yaitu, pertama-tama bangsa Dailam memimpin, lalu disusul bangsa Turki yang akhirnya menjadi sebuah bangsa yang begitu besar. Maka, terpecahlah kerajaan besar itu kepada berbagai bagian, dan setiap penguasa suatu kawasan mencaplok dan menguasainya dengan kekerasan dan kebrutalan.[25]
Dengan demikian, tampak jelas bagaimana kebingungan madrasah Khulafa’ (Ahli Sunnah) dalam menafsirkan hadis tersebut; mereka tidak sanggup keluar dari keadaan ini selagi berpegang pada tafsir futuralistik itu.
Dalam kitab Al-Hawi lil Fatawa, As-Suyuthi mengatakan: ”Sampai sekarang, belum ada kesepakatan dari umat Islam mengenai setiap pribadi dua belas imam.”[26]
Oleh karena itu, jika tafsir futuralistik tersebut memang benar dan sesuai dengan kenyataan, maka pertama kali yang akan mengimaninya adalah para sahabat nabi, bukan yang lain, dan kita akan mendengar dampaknya secara langsung dari para khalifah itu sendiri. Khalifah pertama akan mengatakan, akulah khalifah pertama dari dua belas khalifah, khalifah  kedua juga demikian, begitu pula khalifah ketiga hingga khalifah kedua belas. Tentunya, pengakuan senada ini akan menjadi kebanggaan dan bukti yang mendukung legalitas kedaulatan setiap khalifah. Namun, sejarah tidak pernah mencatat satu pengakuan pun dari nama-nama khalifah yang telah disebutkan di atas itu.
Kemudian, hadis juga mengatakan bahwa masa kepemimpinan mereka adalah mencakup sepanjang sejarah Islam hingga akhir gugusannya; di mana dunia akan hancur ketika mereka sudah tidak ada lagi di muka bumi. Ahli Sunnah meriwayatkan dari Rasulullah, bahwa beliau bersabda:
”Agama ini akan senantiasa tegak dan langgeng selama ada kedua belas pemimpin dari bangsa Quraisy. Tatkala mereka tiada, dunia akan hancur lebur.”[27]
Di samping bukti sejarah, kita juga melihat dunia belum hancur kendati Umar ibn Abdul Aziz itu telah mati. Bahkan setelah ketiadaannya, ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu agama  berkembang pesat, seperti fikih, hadis dan tafsir di abad ketiga dan keempat Hijriah. Lebih dari itu, dapat dikatakan bahwa ilmu-ilmu keislaman berkembang dan menyebar setelah meninggalnya dua belas imam versi  Ahli Sunnah, sementara dunia masih saja tidak hancur lebur.
Diriwayatkan juga dari Jabir ibn Samarah:
”Umat ini akan tetap tegar menjalankan agamanya, menaklukkan para musuhnya sehingga dua belas khalifah berlalu; mereka semua dari bangsa Quraisy, kemudian tibalah  kekacauan yang dahsyat.”[28]
Jika maksud dari al-maraj dalam hadis itu  kegalauan dan kemelut, maka ini seharusnya tidak terjadi sampai masa Umar ibn Abdul Aziz. Sejarah juga mencatat, tidak ada cobaan dan fitnah, kemelut yang sangat dahsyat, kekacauan antara hak dan batil yang lebih besar dari tampilnya Muawiyah sebagai khalifah kaum muslimin. Ini berarti bahwa maksud dari al-maraj ialah kegalauan terbesar dan kemelut akbar. Dan boleh jadi maksudnya adalah ditinggalkannya agama secara total. Tak syak lagi, kekacauan ini tidak akan terjadi kecuali saat Hari Kebangkitan telah dekat; yaitu kekacauan yang didahu-lui oleh kemakmuran yang dibawa oleh Imam Mahdi a.s.
Kemudian, apa maksud mereka memasukkan para raja ke dalam kategori khalifah kaum muslimin, padahal telah diriwayatkan oleh Ahli Sunnah dari Sa’ad ibn Abi Waqash; satu dari sepuluh sahabat pemberi harapan dan seorang juru runding yang telah ditentukan oleh Umar, bahwa ia pernah menemui Muawiyah setelah, sementara ia juga orang yang terlambat berbaiat kepadanya, dan berkata: ”Salam sejahtera kepada rajaku!” Muawiyah menjawab: “Kenapa bukan orang lain? Kalian adalah hamba yang mukmin, dan akulah Amiril Mukminin kalian”. “Memang demikian kalau kita menerimanya, dan kita juga disebut sebagai orang-orang yang beriman, hanya saja kami tidak mengangkatmu sebagai Amirul Mukminin”.
Aisyah juga telah menolak klaim Muawiyah sebagai khalifah. Begitu pula Ibnu Abbas dan Imam Hasan a.s. melakukan hal yang sama. Bahkan, setelah perdamaian beliau dengannya,[29] Muawiyah adalah satu dari sekian manusia zalim yang disepakati umat, karena sabda nabi:
”Wahai Ammar! kamu akan dibunuh oleh golongan yang zalim”.
Kami juga tidak memahami kenapa orang zalim menjadi khalifah Rasul saw. atas umat Islam?!  Lalu, apa maksud mereka memasuk-masukkan anak Muawiyah; Yazid yang secara terbuka menyatakan maksiat dan kezaliman-nya, menginjak-injak kehormatan dan hukum Allah swt.?! Ini adalah hal yang sangat mengherankan sekali; bagaimana mungkin kaum muslimin menerima orang yang telah menumpahkan darah Ahlul Bait Nabi saw., orang yang bala tentaranya menghancurkan kota Madinah Munawwarah dan membantai sekitar sepuluh ribu penduduknya sehingga tidak tersisa lagi pejuang perang Badar setelah tragedi “Al-Hirrah”, lalu tetap saja diperkenalkan sebagai khalifah Rasulullah saw.?! Dan begitulah halnya dengan para penguasa yang menurut Al-Quran sebagai pohon yang terlaknat.
Rasulullah juga pernah melihat mereka dalam mimpinya?dan kita ketahui mimpi para nabi itu benar dan jujur sejujur sinar surya di pagi hari?bahwa mereka (pohon terkutuk tersebut) akan bertengger dan bergelantungan di mimbar beliau layaknya monyet-monyet. Demikian ini sesuai pendapat mayoritas ahli tafsir dari Ahli Sunnah, yaitu ketika mereka menafsirkan ayat ke-60 dari surat Al-Isra’, tanpa perlu dibawakan redaksi pernyataan mereka secara detail.
Dengan demikian, akan tampak jelas bagi kita tiga poin penting dan jelas berikut ini:
  • a. Kesalahan tafsir pemberitaan futuralistik atas hadis kepemimpinan dua belas orang imam.
  • b. Faktor dan motif politis yang memaksa dan mengarahkan Ahli Sunnah kepada tafsir tersebut.
  • c. Kebenaran tafsir teologis yang menjelaskan pelantikan Rasulullah saw. atas dua belas imam kaum muslimin. Tafsir ini bersandar pada dalil logis, quranik serta hadis yang banyak sekali dan sering kita jumpai dalam pusaka ajaran para imam, yang kuno maupun yang terbaru, di berbagai bidang tafsir, hadis, kalam dan sejarah.
Selain itu, sejarah tetap bersikeras bahwa dua belas imam dari Ahlul Bait a.s. adalah manifestasi tunggal yang tak terbantahkan dari hadis tersebut, walaupun hanya melalui pengakuan tegas. Mereka diawali oleh Amirul Mukminin Ali ibn Abi Tahlib a.s. dan diakhiri oleh Imam Zaman, Al-Mahdi Al-Muntadzar a.s.
Dalam hal ini, telah banyak hadis mulia yang tak terhitung jumlahnya, yang menunjukkan manifestasi tersebut. Di sini, kami akan menyebutkan satu di antara hadis-hadis itu, yaitu sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Juwaini As-Syafi’i dalam kitab Faraidus Samthain, dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah saw.; beliau  bersabda:
”Aku adalah penghulu para nabi, dan Ali ibn Abi Thalib penghulu para washi (khalifah), dan washi-washi setelahku berjumlah dua belas; yang pertama Ali ibn Abi Thalib, dan yang terakhir Al-Mahdi.”[30]
Atas dasar ini, sebagian para peneliti[31] mengasumsikan bahwa apa yang telah tertera dalam kitab-kitab hadis?yang menyebutkan bahwa tatkala Jabir ibn Samarah tidak mendengar dan tidak memahami sabda Nabi saw. kemudian bertanya kepada ayahnya yang segera  memberi jawaban, bahwa Rasulullah bersabda: ”Semuanya dari bangsa Quraisy”?telah mengalami tahrif dan penyensoran terhadap jawaban sang ayah. Demikian pula, sebagian riwayat telah membongkar sebab ketaktegasan jawaban tersebut, misalnya; “Lantas kaum muslimin yang hadir di sana gaduh dan berbicara satu sama lain”, atau “Orang-orang berteriak”, atau “Rasulullah mengatakan sesuatu yang membuat manusia hingga menulikan telingaku”, atau “Kemudian manusia berteriak sehingga aku tidak mendengar yang disab-dakan Nabi”, atau “Manusia bertakbir dan berteriak”, atau “Tiba-tiba orang-orang berdiri dan duduk”.
Semua sebab-sebab ketaktegasan jawaban itu tidak sesuai dengan apa yang didengar oleh perawi, karena penetapan kepemimpinan pada bangsa Quraisy adalah pernyataan yang mudah dan tidak perlu diteriakkan dan diherankan. Maka dari itu, apa yang sesuai dengan kondisi yang kita gambarkan dalam riwayat ialah bahwa kepemimpinan ilahi itu adalah kewenangan kelompok tertentu, bukan pada bangsa Quraisy secara umum. Inilah yang telah dibawakan oleh Al-Qanduzi dalam kitab Yanabiul Mawaddah. Di sana, ia menegaskan bahwa kalimat yang disabdakan oleh Rasulullah saw. menyata-kan bahwa semua pemimpin itu dari Bani Hasyim.[32]
Maka, tatkala tampak kesalahan tafsir pemberitaan futuralistik atas hadis kepemimpinan dua belas imam dari satu sisi, dan tampak kebenaran tafsir teologis dari sisi kedua, serta tampak nama Al-Mahdi dalam silsilah dua belas imam Ahlul Bait a.s. sebagai Imam Kedua Belas yang dengannya Allah swt. memperbaiki dunia setelah kehancurannya dari sisi ketiga, tentu tidak ada keraguan lagi mengenai validitas konsep Mahdiisme yang ditekankan oleh mazhab Ahlul Bait a.s. lantaran adanya relasi yang sangat erat antara prinsip Imamah Dua Belas Imam dan konsep Mahdiisme; di mana relasi ini memperlihatkan tiga poin di atas itu dari dalam konsep Mahdiisme.
Sesungguhnya kegagalan tafsir futuralistik atas prinsip Imamah Dua Belas Imam berarti juga kegagalan  tafsir demikian ini atas konsep Mahdiisme, sebagaimana kebenaran acuan politis pada tafsir ini mengenai prinsip Imamah Dua Belas Imam merupakan kebenaran acuan tersebut sekaitan dengan konsep Mahdiisme. Sebab, selain kalangan Ahli Sunnah memandang hadis ‘Khilafah Itsna Asyariyah’ sebagai pemberitaan masa depan berdasarkan teori Saqifah dan Khilafah serta legalitasnya, mereka juga memandang perlunya meletakkan konsep Mahdiisme dalam kerangka tafsir futuralistik sebagai upaya menghindari konsekuensi dari hak kepemimpinan Ahlul Bait a.s. dan dari ilegalitas sistem khilafah.
Tentu sebaliknya juga benar, bahwa terbuktinya kebenaran tafsir teologis atas hadis ‘Imamah Itsna Asyariyah’ berarti juga terbuktinya kebenaran muatan teologis dari konsep Mahdiisme.[]

[1] Lihat Mu’jam Imam Mahdi a.s., juz 1 hadis-hadis Nabi saw.

[2] Musnad Imam Ahmad juz 1, hal. 84, hadis ke-646 dan Ibnu Abi Syaibah juz 8 hal. 678, kitab ke-40, bab 2, hadis ke-90, Ibnu Majah dan Naim ibn Hamad di dalam fitnah-fitnah tentang Imam Ali a.s. berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Imam Mahdi dari kami Ahlul bait di mana Allah akan menyiapkan segalanya dalam semalam”. Lihat Sunan Ibnu Majah 2/ 1367, hadis ke-4085, Al- Hawi lil fatawa, karya As-Suyuthi: 2/213,  215. Di sana juga disebutkan, bahwa Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dan Abu Daud meriwayatkan dari Imam Ali a.s. dari Nabi saw.; beliau bersabda: “Jika zaman sudah tak tersisa lagi kecuali satu hari saja, maka Allah akan mengutus seorang hambanya dari Ahlul baitku yang akan memenuhi dunia ini dengan keadilan seperti telah dipenuhi oleh kezaliman dan kelaliman.” Lihat Shahih Sunan al- Mustafa 2/207. Lihat juga Mu’jam Hadis Imam Mahdi: 1/147 dan setelahnya, di mana telah dinukil riwayat yang begitu banyak dari kitab-kitab Ash-Shihah dan musnad dengan kandungan seperti ini.
Lihat juga Ensiklopedia Imam Mahdi a.s. karya Mahdi Faqih Imani, juz pertama. Di sana terdapat penukilan dari puluhan kitab-kitab ulama Ahli Sunnah dan para Ahlul Hadis tentang Imam Mahdi a.s.  dan sifat-sifatnya dan apa yang berkaitan dengannya, di sana juga terdapat artikel yang telah dikopi dari keterangan Syeikh Al-‘Ibad tentang hadis-hadis yang dan karya-karya ihwal Imam Mahdi a.s.
[3] Al-Hawi lil fatawa, Jalaludin As-Suyuthi; juz 2 hal. 214, dia berkata: “Abu Daud, Ibnu Majah, Thabrani, dan Hakim dari Ummi Salamah; beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Mahdi dari Itrahku dari keturunan Fatimah.” Lihat Sahih Sunanul Musthafa, karya Abi Daud: juz 2 hal. 208, dan Sunan Ibnu Majah: juz 2/1378 hadis ke-4086.  
[4] ‘Hadisul Mahdi min Durriyatil Husain a.s., sebagaimana terdapat dalam sumber-sumber berikut ini, juga dinukil oleh Mu’jam Hadis Mahdi, dan itu 40 hadis dari Abu Nu’aim, Al-Isfahani sebagaimana disebutkan oleh ‘Aqdu Ad-Durar, Muqaddisi Syafii. Thabrani juga meriwayatkan dalam Al-Ausath seperti yang dinukil al-Manarul Munif karya Ibnu Qayyim, dan di Sirah Halabiyah juz 1 hal. 193, dan di Al-Qaul Al-Mukhtashar, Ibnu Hajar Al-Haitsami. Lihat Muntakhabaul Atsar, Syeikh Luthfullah Ash-Shafi tentang apa yang ia nukil dari kitab-kitab Syi’ah. Lihat pula dalil-dalil kelemahan riwayat yang mengatakan bahwa beliau dari keturunan Imam Hasan a.s., kitab Sayyid Al-‘Amidi, Difa’ ‘Anil Kafi; juz 1, hal. 296.
[5] Lihat riwayat yang menandaskan bahwa beliau keturunan ke-tujuh dari Imam Husain a.s. di Yanabi’ul Mawaddah, Al-Qanduzi Al-Hanafi, hal. 492, Maqtalul Imam Husain  as Kharazmi juz 1 hal. 196, Faraidu Simthain Juwaini Syafii; juz 2 halaman 310-315, hadis-hadis dari 561-569, lihat pula Muntakhabul Atsar karya Ash-Shafi, di saat ia meriwayatkan dari dua jalur.

[7] Hadis “Para pengganti setelahku berjumlah dua belas orang, kesemuanya dari bangsa Quraisy”, atau hadis “Agama ini senan-tiasa akan langgeng dengan keberadaan 12 pemimpin yang berasal dari suku Quraisy” adalah mutawatir, dan diriwayatkan oleh kitab-kitab Shahih dan Musnad dengan berbagai jalan, kendati terdapat perbedaan sedikit dari sisi kandungannya. Memang mereka berbeda pendapat dalam penafsirannya dan tampak  kebingungan. Lihat Sahih Bukhari; juz 9, hal. 101, Kitabul Ahkam – bab ‘Al-Istikhlaf’, Sahih Muslim juz 6, halaman 4 kitab ‘Al-Imarah’, bab ‘Al-Istikhlaf’, Musnad Ahmad juz 5 hal. 90, 93 dan 97. 
[8] Lihat Al-Gaibah Kubra, Sayyid Shadr: hal. 272, dan seterusnya.
[9] Lihat At-Tajul Jami’ lil Ushul: juz 3 halaman 40. dia berkata
[10] Shahih Bukhari, jild 3: 9/101, kitab ‘Al-Ahkam, bab Al-Istikhlaf’, cetakan Dar- Ihya’ Turats Al-Arabi, Beirut.
[11] Lihat At-Tajul Jami’ lil Usul 3/40.
[12] Lihat At-Tajul Jami’ lil Usul 3/40.
[13] Lihat At-Tajul Jami’ lil Usul 3/40.
[14] Musnad Ahmad; 6/ 99 hadis ke 20359.
[15] Al-Musatadrak: 3/ 618.
[16] Hal ini sesuai dengan firman Allah:”dia tidak pernah berbicara atas dasar hawa nafsu, akan tetapi wahyu semat”. An-Najm 3-4.
[17] Para ulama merasa kebingungan dalam menerapkan hadis tersebut, dan apa yang mereka bawakan dari person-person tidak dapat diterima, bahkan sebagian tidak masuk akal sama sekali seperti dimasuk-masukkannya Yazid putra Muawiyah orang yang terang-terangan melakukan kemaksiatan dan kefasikan, orang yang divonis sebagai murtad, kafir atau mereka yang selevel dengannya.
[18] Sahih Muslim: 6 / 3 kitab ‘Al-Imarah’.
[19] Lihat Sahih Bukhari 4: 164, kitab Al-Ahkam, bab Istiklaf, Musnad Ahmad: 6/94, hadis ke-325, 20366, 20367, 20416, 20443, 20503, 20534, Sunan Abi Daud 4:107  4279-4280, Al-Mu’jamul Kabir, Thabrani : 2/238/1996, Sunan Tirmizi: 4/501, Mustadrak Hakim : 3/618, Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim: 4/333, Fathul Bari: 13/211, Syarah Sahih Muslim karya Nawawi: 12/201, Al-Bidayah wa Nihayah, Ibnu Katsir: 1/153, Tafsir Ibnu Katsir: 2/24 –dalam menafsirkan ayat ke-12 dari surat Al-Maidah, kitab Suluk fi Duali Muluk, Al-Maqrizi: 1/13–15 pada bagian pertama, Syarah Hafiz Ibnu Qayim Jauzi atas Sunan Ibnu Daud: 11/363, Syahrul Hadis 4259, Syarhul Aqidah Ath-Thahawiyah: 2/736, Al-Hawi lil Fatawa, As-Suyuti: 2/85, ‘Aunul Ma’bud, Syarh Abi Daud, Al-‘Adhim Abadi: 11/362, Syarhul Hadis 4259, Misykatl Mashabih, At-Tabrizi: 3/327, 5983, As-Silsilatu Sahihah, Al-Albani, hadis ke-376, Kanzul Ummal: 12/32, 33484 dan 12/33/33858 dan 12/34/33861. Hadis ini juga diriwayatkan oleh para tokoh hadis Syi’ah. Di antara mereka adalah Syeikh Shaduq ra. dalam Kamaluddin, 1:172, Al-Khishal, 2:469 dan 475, dan telah diperiksa jalur-jalur hadis ini secara cermat, di mana para perawinya dari kalangan sahabat yang disebutkan dalam Ihqaqul Haq: 13/1-50.
[20] Tafsir Al-Quran Karim, Ibnu Kasir: 2/34, saat menafsirkan ayat ke 12 dari surah Maidah.
[21] Syarhul Aqidah Thahawiyah, Qadhi Damaskus: 2 / 736.
[22] ‘Aunul Ma’bud fi Syarhi Sunani Abi Daud: 11/246, pada pen-jelasan hadis 427, kitab ‘Al-Mahdi’, cet. Darul Kutub ‘Ilmiyah.
[23] ‘Aunul Ma’bud fi Syarhi Sunani Abi Daud:11/245.
[24] ‘Aunul Ma’bud fi Syarhi Sunani Abi Daud: 11/244.
[25] As-Suluk lima’rifati Dualil Muluk: 1 / 13-15 bagian pertama.
[26] Al-Hawi lil Fatawa: 2/85.
[27] Kanzul Ummal: 12.34, hadis ke-33861, diriwayatkan oleh Ibnu Najjar dari Anas.
[28] Kanzul Ummal: 12 / 32, hadis 32848.
[29] Lihat Al-Ghadir, Allamah Amini: 1/ 26-27.
[30] Faraidus Samthain: 2/313, hadis ke-564.
[31] Al-Ghadir wa Mu’aridhun, Sayyid Ja’far Murtadha Al-‘Amili:70-72.
[32] Yanabi’ul Mawaddah: 3/104, bab 77.

Keserupaan Imam Mahdi as Dengan Nabi Adam as



Allah SWT menjadikan nabi Adam as sebagai khalifah di seluruh muka bumi, sedang Imam Mahdi as dijadikannya sebagai pewaris bumi, Allah SWT berfirman:

اني جاعل في الارض خليفه

"Sesungguhnya aku menjadikan khalifah di atas muka bumi.” [1]
Dalam ayat yang lain Allah SWT juga menjadikan hambanya yang saleh sebagai pewaris bumi / dunia . Abu Abdillah Shadiq as saat menafsirkan ayat:

وعد الله الذين امنوا منكم و عملو الصالحت ليستخلفنهم في الارض [2]

Maksud dari kalian (minkum) yang dikehendaki oleh Allah adalah Mahdi as dan para pengikutnya, di mana saat dia muncul di Mekah dia mengusap wajahnya seraya berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya terhadap kita, dan menjadikan kita sebagai pewaris bumi.." [3]

Dan dalam Hadis Mufadhal disebutkan: Beliau akan muncul di mana awan selalu memayungi kepala beliau , dan di atas sebuah podium / mimbar beliau akan menyeru demikian: "Akulah Mahdi khalifah tuhan, ikuti dan taatlah!.

Tangisan Adam as

Diriwayatkan dari Rasulullah saw: "Bahwa Adam as, saking banyaknya air mata yang ditumpahkan saat dikeluarkan oleh Allah dari Syurga, air mata tersebut membentuk sebuah selokan air" [4].

Dari Imam Shadiq as diriwayatkan, tatkala ayat: "Allah telah mengajari Adam segala nama-nama [5], bersabda: "Segala yang diajarkan oleh Allah juga diajarkan kepada Imam Mahdi as, bahkan beliau (Mahdi as) mendapatkan tambahan yang tidak didapati oleh Adam as. Adam as mengetahui 25 huruf dari nama-nama agung Allah – seperti yang telah tercatat dalam beberapa hadis – dan nabi Muhammad saw mengetahui 72 huruf darinya, dan segala hal yang diberikan oleh Allah kepada nabi juga diterima dan diberikan kepada para pengganti beliau as, sampai akhirnya jatuh ke tangan Imam Mahdi as.

Dan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tsiqatul Islam Kulaini, dari Imam Shadiq as, disebutkan: "Nama-nama yang diberitahukan Allah kepada Adam sampai sekarang masih ada, dan tiada seseorang yang mengetahuinya, kecuali hal itu adalah warisan dari orang sebelumnya, dan dunia tidak akan eksis tanpa seorang alim" [6].
Adam as, telah menghidupkan bumi dengan ibadah setelah para jin telah mematikannya dengan kekufuran dan kemaksiatan, Qaim as (al-Mahdi) juga akan menghidupkan kembali dunia dengan agama tuhan, ibadah, dan keadilan, setelah dimatikan oleh kemaksiatan dan kekufuran penduduk dunia.

Di dalam kitab Biharul Anwar dalam sebuah riwayat yang dinukil dari Imam Baqir as disebutkan, bahwa ayat yang berbunyi: يحي الارض بعد موتها   " Allah SWT akan menghidupkan dunia setelah mati" [7] maksud dari ayat ini adalah Allah akan kembali menghidupkan dunia yang telah mati melalui Qaim as, sedang kematian ini dikarenakan oleh kekufuran penghuninya, dan pada hakikatnya seseorang yang kafir adalah sebuah mayat hidup" [8].

Dalam kitab Wasailu Syi'ah tentang tafsiran dari ayat di atas disebutkan bahwa Abu Ibrahim Musa bin Ja'far as bersabda: "Dunia tidak akan dihidupkan degan derasnya siraman air hujan, akan tetapi Allah SWT akan mengutus pribadi-pribadi penegak keadilan, dunia akan hidup dengan tegaknya keadilan, dan sesungguhnya jika satu batasan atau hukum dijalankan secara sebenar-benarnya, pastilah lebih bermanfaat dari pada guyuran air hujan selama 40 hari". [9]
 
Dalam kitab yang sama, juga telah diriwayatkan dari Rasul saw yang bersabda:             "Kehidupan sesaat dengan dipimpin oleh seorang Imam yang adil, itu lebih baik dari pada 70 tahun tanpanya, dan jika satu batasan atau hukum dijalankan secara sejujurnya, pastilah lebih bermanfaat dari pada guyuran air hujan selama 40 hari ". [10]

Dengan ini semua , bagaimana mungkin kita tidak dapat mencari titik kesamaan antara Imam Mahdi as dengan nabiullah Adam as ?, di samping itu kita mengetahui bahwa Adam as tercipta berkat wujud suci beliau as.
ان الذي خلق المكارم حازها      في صلب آدم للامام القائم
Sesungguhnya segala keluhuran budi pekerti yang tertuang / tersurat dalam tulang rusuk (sulb) Adam adalah untuk Qaim as semata.

[1] Al-Baqarah ayat ke-30.
[2] An-Nur ayat ke- 55.
[3] Tafsir al-Burhan, juz 3, halaman 146, surat az-Zumar.
[4] Bihar anwar, juz 11, halaman 204.
[5] Bihar anwar, juz 101, halaman 320.
[6] Kafi, juz 1, halaman 223.
[7] Ar-rum, ayat ke- 19.
[8] Bihar anwar, juz 51, halaman 54.
[9] Wasailu syi'ah, juz 18, halaman 308.
[10] Wasailu syi'ah, juz 18, halaman 308.

 

Imam Mahdi as Dalam Al-Quran

Imam Mahdi as Dalam Al-Quran

Konsep Imam Mahdi as sebagai juru penyelamat adalah sebuah konsep yang sudah diterima oleh semua agama samawi, bahkan oleh semua umat manusia meskipun nama yang ditentukan untuk menyebutnya berbeda-beda. Kesepakatan konsep ini dapat kita bahas pada kesempatan yang lain. 

Oleh karena itu, dalam al-Quran terdapat beberapa ayat yang ditafsirkan dengan keberadaan Imam Mahdi as sebagai seorang juru penyelamat. Ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:

a. Surah al-Qashash (28) : 5

وَ نُرِيْدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِي الْأَرْضِ وَ نَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَ نَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِيْنَ
“Dan Kami ingin memberikan anugrah kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi ini, menjadikan mereka para pemimpin, dan menjadikan mereka sebagai para pewaris.” 

Secara lahiriah, ayat ini menggunakan kata kerja mudhâri’ dalam menjelaskan maksud Allah. Secara realita, janji-janji yang termaktub dalam ayat tersebut belum terealisasikan hingga sekarang. Dengan pemerintahan yang telah dibentuk oleh Rasulullah saw di Madinah yang berjalan kurang lebih selama sepuluh tahun, kami kira hal itu belum terwujudkan secara sempurna mengingat masih banyak pojok dunia yang belum pernah mencicipi lezatnya hukumnya

Menurut beberapa hadis, ayat ini mengindikasikan tentang Imam Mahdi as, bahwa semua janji Allah itu akan terwujud pada saat beliau turun ke bumi dan membentangkan sayap keadilan di atasnya. Dalam Nahjul Balâghah, Imam Ali as berkata: 

لَتَعْطُفَنَّ الدُّنْيَا عَلَيْنَا بَعْدَ شِمَاسِهَا عَطْفَ الضَّرُوْسِ عَلَى وَلَدِهَا
“(Pada waktu itu), dunia akan menganugrahkan kelembutannya kepada kami setelah ia membangkang sebagaimana unta betina yang membangkang (baca: enggan memberi air susu kepada anaknya) menyayangi anaknya.” 

Ibnu Abil Hadid berkata: “Para sahabat (baca: ulama) kita berpendapat bahwa beliau menjanjikan (kemunculan) seorang imam yang akan menguasai bumi dan menaklukkan seluruh kerajaan dunia.”
Dalam sebuah hadis yang lain beliau berkata: “Orang-orang tertindas di muka bumi yang termaktub di dalam al-Quran dan akan dijadikan para pewaris oleh Allah adalah kami, Ahlulbait. Allah akan membangkitkan Mahdi mereka yang akan memuliakan mereka dan menghinakan para musuh mereka.” [1]

 

 

b. Surah an-Nûr (24) : 56

وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَ لَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَ لَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُوْنَنِيْ لاَ يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْئًا وَ مَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih untuk menjadikan mereka sebagai khalifah di muka bumi ini sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai khalifah, menyebarkan bagi mereka agama yang telah diridhainya untuk mereka secara merata dan menggantikan ketakutan mereka dengan rasa keamanan (sehingga) mereka dapat menyembah-Ku dan tidak menyekutukan-Ku.  

Barangsiapa ingkar setelah itu, merekalah orang-orang yang fasiq.”
Secara lahiriah, kita dapat menangkap tiga janji dari ayat tersebut:

Pertama, menjadikan mereka sebagai khalifah di atas bumi ini. 

Kedua, menyebarkan agama mereka (Islam) di atas bumi secara merata sehingga dapat dinikmati oleh seluruh penduduk dunia.

Ketiga, menggantikan rasa takut mereka dengan rasa aman sehingga mereka dapat menyembah Allah dengan penuh keleluasaan dan tidak menyekutukan-Nya. 

Yang jelas, semua janji itu belum pernah terwujudkan hingga sekarang. Kapankah kita pernah merasakan Islam dijalankan secara sempurna? Oleh karena itu, dalam beberapa hadis Ahlulbait as, kita akan menemukan takwil dari ayat tersebut bahwa semua janji itu akan terealisasikan pada masa kemunculan Imam Mahdi as. 

Dalam tafsir Majma’ al-Bayân disebutkan bahwa Imam Ali bin Husain as pernah membaca ayat tersebut. Setelah itu beliau berkata: “Demi Allah, mereka adalah para pengikut kami Ahlulbait as. Allah akan mewujudkan semua itu dengan tangan salah seorang dari kami. Ia Adalah Mahdi umat ini, dan ia adalah orang yang disabdakan oleh Rasulullah saw: “Jika tidak tersisa dari usia dunia ini kecuali satu hari, niscaya Allah akan memanjangkannya hingga seorang dari ‘Itrahku muncul. Namanya sama dengan namaku. Ia Akan memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana ia telah dipenuhi oleh kezaliman dan kelaliman.”[2] (Bersambung)

[1] Al-Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jilid 51, hal. 63, bab ayat-ayat yang ditakwilkan dengan Imam Mahdi as.
[2] At-Thabarsi, Majma’ al-Bayân, jilid 7, hal. 152.






Imam Mahdi as Dalam al-Quran Karim

Tanpa diragukan lagi pembahasan tentang Mahdi as telah tertera di pelbagai sumber dan kitab-kitab Islami. Rasul saw sendiri yang mengajarkan hal tersebut. Imam Ali as dan para imam yang lain juga tidak ketinggalan, mereka senantiasa menyinggung pembahasan yang satu ini dan mengulang-ulangnya. Para ulama dan pemuka sekte-sekte islam sepanjang sejarah juga satu demi satu di segenap penjuru Negara Islam telah menulis dan menyusun buku yang tidak sedikit jumlahnya.

Dengan pelbagai hal tersebut apakah dapat dibayangkan topik dan pembahasan yang begitu populer dan urgen ini tidak tertera dalam kitab suci al-Quran? Jawaban tentu tidak. Pasti pembahasan semacam ini benih-benihnya telah  terdapat di dalamnya. 

Al-Quran sebatas singgungan atau secara gamblang telah menjelaskan peristiwa dan kejadian yang nantinya akan terjadi di akhir zaman seperti kemenangan kaum mukmin terhadap kaum non-mukmin. Ayat-ayat semacam ini, telah ditafsirkan oleh para mufasir-dengan mengacu pada riwayat dan poin-poin- berkaitan dengan pemerintahan Imam Mahdi as di akhir zaman. 

Al-hasil para mufasir mutaakhir menghitung dan mentahqiq jumlah ayat-ayat yang berkaitan dengan beliau as, jumlah umumnya mereka dapatkan yaitu sekitar 350 ayat. Tahqiq ini dilakukan oleh Yayasan Intidhare Nur. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa metode mereka dalam pencarian tersebut adalah umum mencakup ayat-ayat yang secara gamblang menjelaskan permasalahan Mahdawiyah (berkaitan dengan Imam Mahdi) dan yang lain, atau ayat yang para mufasir dengan suatu hal dalam tafsiran ayat tersebut membawakan riwayat atau pembahasan Mahdawiyah. 

Pada kesempatan ini, kita akan membawakan 10 ayat saja yang memiliki indikasi yang jelas terhadap permasalahan Mahdawiyah.

Ayat pertama

وَ لَقَدْ كَتَبْنا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الأَْرْضَ يَرِثُها عِبادِيَ الصَّالِحُونَ ( ‏انبيا 105)
Allah SWT berfirman:
“Dan sesungguhnya kami telah menuliskan di Zabur setelah Dzikr, bahwa dunia akan diwarisi oleh hamba-hamba yang saleh”. 

Imam Muhammad Baqir as bersabda: ”Hamba-hamba tuhan yang akan menjadi pewaris bumi-yang tersebut dalam ayat-adalah para sahabat Mahdi as yang akan muncul di akhir zaman.”
Syekh Thabarsi setelah menukil riwayat ini mengatakan: Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Syi’ah dan Ahlusunnah menjelaskan dan menguatkan riwayat dari Imam Baqir as di atas, hadis tersebut mengatakan ‘jika usia dunia sudah tidak tersisa lagi kecuali tinggal sehari, Allah SWT akan memanjangkan hari tersebut sehingga seorang saleh dari Ahlul-baitku bangkit, dia akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman dan kelaliman”’. Imam Abu bakar Ahmad bin Husain Baihaqi dalam buku “al-Ba’tsu wa Nutsur” telah membawakan riwayat yang banyak tentang hal ini [1] .
Dalam kitab Tafsir Ali bin Ibrahim disebutkan: Kami telah menulis di Zabur setelah zikr … semua kitab-kitab yang berasal dari langit disebut dengan Zikr. Dan maksud dari bahwa dunia akan diwarisi oleh para hamba-hamba yang saleh adalah (Mahdi) Qaim as dan para pengikutnya [2] .

Ayat kedua

وَ نُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأَْرْضِ وَ نَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَ نَجْعَلَهُمُ الْوارِثِينَ (قصص 5)
Kami menginginkan untuk menganugerahkan kepada mereka yang tertindas, dan akan Kami jadikan para pemimpin dan pewaris dunia. 
Ayat ini sesuai dengan beberapa ungkapan Imam Ali as di dalam Nahjul balagah serta sabda para imam yang lain berkaitan dengan Mahdawiyah, dan sesungguhnya kaum tertindas yang dimaksud adalah para pengikut konvoi kebenaran yang terzalimi yang akhirnya akan jatuh ke tangan mereka. Fenomena ini puncaknya akan terwujud di akhir zaman. Sebagaimana Syekh Shaduq dalam kitab Amali menukil sabda Imam Ali as yang berkata:”ayat ini berkaitan dengan kita”.

Ayat Ketiga

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَ يُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكافِرِينَ يُجاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَ لا يَخافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ (ما ئده 54)
Wahai orang-orang yang beriman barangsiapa dari kalian berpaling (murtad) dari agamanya maka Allah SWT akan memunculkan sekelompok kaum yang Dia cinta mereka dan mereka juga mencintaiNya,
Dalam tafsir Ali bin Ibrahim disebutkan:”ayat ini turun berkaitan dengan Qaim dan para pengikutnya merekalah yang berjuang di jalan Allah SWT dan sama sekalim tidak takut akan apapun”.

Ayat Keempat

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَْرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَ لَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضى‏ لَهُمْ وَ لَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَ مَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ الْفاسِقُونَ ( نور 56)
Allah SWT menjanjikan orang-orang yang beriman dari kalian dan yang beramal saleh, bahwa mereka akan dijadikan sebagai khalifah di atas muka bumi, sebagaimana Ia juga telah menjadikan para pemimpin sebelum mereka dan –Ia menjanjikan untuk menyebar dan menguatkan agama yang mereka ridhai, dan menggantikan rasa takut mereka menjadi keamanan. 

Syekh Thabarsi mengatakan: ”Dari para Imam Ahlul bait diriwayatkan bahwa ayat ini berkaitan dengan Mahdi keluarga Muhammad saw. Syekh Abu Nadhr ‘Iyasyi meriwayatkan dari imam Ali Zainal Abidin as bahwa beliau membaca ayat tersebut setelah itu beliau bersabda: ”Sumpah demi Allah SWT mereka yang dimaksud adalah para pengikut kita, dan itu akan terealisasi berkat seseorang dari kita. Dia adalah Mahdi (pembimbing) umat ini. Dialah yang rasul saw bersabda tentangnya: ”Jika usia dunia sudah tidak tersisa lagi kecuali sehari lagi, Allah SWT akan memanjangkan hari tersebut sampai seseorang dari keluarga ku muncul dan memimpin dunia. Namanya seperti namaku (Muhammad), riwayat semacam ini juga dapat ditemukan melalui jalur yang lain seperti dari imam Muhammad Baqir as dan imam Ja’far Shadiq as”. 

Aminul Islam Syekh Thabarsi mengakhiri ucapan dan penjelasannya tentan ayat ini dengan penjelasan berikut ini: ”Mengingat penyebarluasan agama ke seluruh penjuru dunia dan belum betul-betul global, maka pastilah janji ini akan terwujud dalam masa yang akan datang, di mana hal tersebut-globalitas agama- tidak dapat dielakan dan dimungkiri lagi”. Dan kita ketahui bahwa janji Allah tidak akan pernah hanya janji semata.

Ayat Kelima

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدى‏ وَ دِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَ لَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dialah Zat yang yang telah mengutus rasulNya dengan hidayah dan agama yang benar untuk sehingga Ia menangkan agama tersebut terhadap agama-agama yang lain, kendati para musyrik tidak menginginkannya. 

Dalam kitab tafsir Kasyful Asyrar, disebutkan:
Rasul dalam ayat tersebut adalah baginda nabi Muhammad saw, sedang hidayah yang dimaksud dari ayat tersebut adalah kitab suci al-Quran dan agama yang benar itu adalah agama Islam. Allah SWT akan memangkan agama (Islam) ini, atas agama-agama yang lain, artinya tiada agama atau pedoman di atas dunia, kecuali ajaran Islam telah mengalahkannya. Dan hal ini sampai sekarang belum terwujud. Kiamat tidak akan datang kecuali hal ini terwujud. 

Abu Said al-Khudri menukil, bahwa Rasul saw pad suatu kesempatan menyebutkan bala dan ujian yang akan datang kepada umat Islam, ujian itu begitu beratnya, sehingga beliau mengatakan bahwa setiap dari manusia tidak dapat menemukan tempat berlindung darinya. Ketika hal ini telah terjadi, Allah SWT akan memunculkan seseorang dari keluargaku yang nantinya dunia akan dipenuhi oleh keadilan. Seluruh penduduk langit dan bumi rela dan bangga dengannya. Di masanya hujan tidak akan bergelantungan di atas langit kecuali akan turun untuk menyirami bumi, dan tiada tumbuh-tumbuhan yang ada di dasar bumi kecuali bersemi dan tumbuh. Begitu indah dan makmurnya kehidupan di masa itu sehinga setiap orang berandai-andai jika sesepuh dan sanak keluarganya yang telah meninggal dunia kembali lagi dan merasakan kehidupan yang sedang mereka rasakan.

[1] Tafsir Majma’ul bayan, jild 7, hal 66-67.
[2] Tafsir Nur Tsaqalain, jild 3, hal 464.


Monday, July 18, 2011

DIALOG MENGENAI IMAM 12 YANG DILANTIK OLEH RASULULLAH

 (dikutip dari muktamar baghdad)

Rasul Melantik Khalifah-Khalifah Selepasnya

       Al-‘Alawi berkata: Sesungguhnya Rasul sendiri telah melantik- dengan perintah daripada Allah- khalifah-khalifahnya selepasnya. Di dalam satu hadis Rasul bersabda: Khalifah-khalifah selepasku adalah dua belas orang seramai bilangan Nuqabaa’ Bani Israel dan semuanya daripada Quraisy[1]

Raja Meminta Penjelasan

       Raja berkata kepada wazir: Adakah benar bahawa Rasul telah bersabda sedemikian?

       Wazir berkata: Ya.

       Raja berkata: Siapakah mereka yang dua belas itu?

       Al-‘Abbasi berkata: Empat daripada mereka adalah terkenal,      mereka: Abu Bakr, Umar, Uthman dan Ali.

       Raja berkata: Siapa lagi?

       Al-‘Abbasi berkata: Khilaf di kalangan para ulama. 
   
       Raja berkata: Namakan mereka.

       Al-‘Abbasi diam.

Nama-Nama  Imam Dua Belas
      
       Al-‘Alawi berkata: Wahai raja, sekarang aku akan menyebut kepada anda nama-nama mereka menurut kitab-kitab ulama Ahl al-Sunnah, mereka adalah: Ali, al-Hasan, al-Husain, Ali, Muhammad, Ja‘far, Musa, Ali, Muhammad, Ali, al-Hasan dan al-Mahdi a.s.

       Al-‘Abbasi berkata: Dengarlah, wahai raja,: Sesungguhnya Syi‘ah berkata: Bahawa al-Mahdi masih hidup di dunia semenjak tahun 255 hijrah dan adakah ini masuk akal? Dan mereka juga berkata: Dia akan zahir pada akhir zaman untuk memenuhi bumi dengan keadilan selepas ia dipenuhi dengan kezalaiman.

Raja Meminta Penjelasan

       Raja berkata kepada al-‘Alawi: Adakah benar kamu percaya sedemikian?

       Al-‘Alawi berkata: Ya, benar, kerana Rasul telah bersabda sedemikian. Ia telah diriwayatkan oleh Syi‘ah dan Ahl al-Sunnah.

Bagaimana Manusia Boleh Kekal Dalam Masa Yang Panjang?
      
       Raja berkata: Bagaimana mungkin manusia boleh kekal di dalam masa yang begini panjang?

       Al-‘Alawi berkata: Sekarang umur Imam al-Mahdi belum sampai seribu tahun[2]. Allah berfirman tentang Nuh a.s di dalam Surah al- ‘Ankabut (29): 14 “Maka dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun” Adakah Allah lemah mengekalkan manusia sepanjang masa ini?

       Tidakkah Allah di tangan-Nya kematian dan kehidupan Dia berkuasa di atas segala sesuatu? Kemudian Rasul telah bersabda sedemikian, maka ia adalah benar dan dipercayai.
    
Raja Meminta Penjelasan

       Raja berkata kepada Wazir: Adakah benar bahawa Rasul telah memberitahu tentang al-Mahdi sebagaimana dikatakan oleh al-‘Alawi?

       Wazir berkata: Ya[3].

       Raja berkata kepada al-‘Abbasi: Kenapa anda mengingkari hakikat-hakikat yang terdapat di sisi kita Ahl al-Sunnah?
    
Al-‘Abbasi Khuatir Orang Awam Cenderung Kepada Syi‘ah!
      
       Al-‘Abbasi berkata: Kerana khuatir tentang akidah orang awam akan bergoncang dan cenderung hati mereka kepada Syi‘ah!

       Al-‘Alawi berkata: Jikalau begitu, anda wahai al-‘Abbasi, termasuk di dalam firman Allah Surah al-Baqarah (2): 159 “Sesungguhnya golongan yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan pula oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati” Maka laknat daripada Allah meliputi anda…

       Kemudian al-‘Alawi berkata: Wahai raja, tanyalah al-‘Abbasi ini: Adakah wajib di atas orang yang alim menjaga Kitab Allah dan sabda-sabda Rasul-Nya atau wajib di atasnya menjaga akidah golongan awam  yang terpesong daripada Kitab dan Sunnah?

       Al-‘Abbasi berkata: Sesungguhnya aku menjaga akidah orang awam sehingga hati mereka tidak cenderung kepada Syi‘ah, kerana Syi‘ah adalah Ahli Bid‘ah!

       Al-‘Alawi berkata: Sesungguhnya kitab-kitab muktabar memberitahu kami bahawa imam kamu; Umar adalah orang pertama yang memasukkan bid‘ah di dalam Islam. Dia sendiri dengan jelas berkata: Sebaik-baik bid‘ah adalah ini. Ini dirujukkan kepada kisah sembahyang Taraawih manakala dia memerintahkan orang ramai supaya melakukan sembahyang sunat secara berjemaah. Dia mengetahui bahawa Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan sembahyang sunat dilakukan secara berjemaah. Justeru itu, bid‘ah Umar adalah menyalahi Allah dan Rasul-Nya secara terang-terangan.

       Kemudian: Tidakkah Umar telah melakukan bid‘ah pada azan dengan membuang perkataan “Hayya ‘alaa khairi al-‘Amal” dan menambah perkataan “Al Salaat khairun mina al-Naum”?[4]

       Tidakkah Umar telah melakukan bid‘ah dengan memansuhkan saham golongan muallaf menyalahi Allah dan Rasul-Nya?[5]

       Tidakkah Umar telah melakukan bid‘ah dengan memansuhkan mut‘ah haji menyalahi Allah dan Rasul?[6]

       Tidakkah Umar telah melakukan bid‘ah dengan memansuhkan mut‘ah perempuan menyalahi Allah dan Rasul-Nya?[7]

       Tidakkah Umar telah melakukan bid‘ah dengan memansuhkan had zina ke atas penjenayah zina: Khalid bin al-Walid menyalahi Allah dan Rasul-Nya yang mewajibkan supaya dijalankan hukum had ke atas penzina dan pembunuh?

       Dan lain-lain bid‘ah kamu yang mengikut Umar.
       Oleh itu, adakah kamu ahli bid‘ah atau kami Syi‘ah?[8]

Raja Meminta Penjelasan

       Raja berkata kepada wazir: Adakah benar apa yang disebutkan oleh al-‘Alawi tentang bid‘ah-bid‘ah Umar?

       Wazir berkata: Ya, sekumpulan ulama telah menyebutnya di dalam kitab-kitab mereka!

       Raja berkata: Bagaimana kita mengikut orang yang telah melakukan bid‘ah pada agama?

       Al-‘Alawi berkata: Justeru itu, diharamkan mengikuti manusia seperti ini, kerana Rasul (s.a.w) bersabda: Setiap bid‘ah adalah sesat dan setiap kesesatan ke neraka” Maka mereka yang mengikuti Umar di dalam bid‘ahnya- mereka mengetahuinya- maka mereka adalah daripada ahli neraka- secara putus-!

Para Imam Mazhab Empat  
      
       Al-‘Abbasi berkata: Tetapi para Imam Ahl al-Sunnah telah mengakui perbuatan Umar.

       Al-‘Alawi berkata: Ini adalah bid‘ah yang lain pula, wahai raja!
       Raja berkata” Bagaimana begitu? 

       Al-‘Alawi berkata: Kerana para imam mazhab: Abu Hanifah, Malik bin Anas, al-Syafi‘I dan Ahmad bin Hanbal, bukan hidup semasa Rasulullah (s.a.w), malah mereka datang dua ratus tahun –lebih kurang- selepasnya. Adakah kaum muslimin di antara masa Rasul dan masa mereka berempat berada di atas kebatilan dan kesesatan? Apakah pengukur bagi menghadkan mazhab-mazhab kepada mereka berempat dan tidak mengikut semua fakih? Adakah Rasul telah berwasiat mengenainya?

       Raja berkata: Apakah pendapat anda, wahai  ‘Abbasi?

       Al-‘Abbasi berkata:  Mereka itu lebih alim daripada selain daripada mereka!

       Raja berkata: Adakah ilmu telah kering tanpa mereka?

Mazhab Ja‘fari
      
       Al-‘Abbasi berkata: Tetapi Syi‘ah juga mengikut mazhab (Ja‘far al-Sadiq)?

       Al-‘Alawi berkata: Kami mengikut mazhab Ja‘far, kerana mazhabnya adalah mazhab Rasulullah, kerana beliau adalah daripada Ahl al-Bait yang difirmankan Allah di dalam Surah al-Ahzab (33): 33 “Sesungguhnya Allah mahu menghilangkan dosa daripada kamu Ahl al-Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” Jika tidak, kami mengikut setiap imam dua belas, tetapi disebabkan Imam al-Sadiq (a.s) dapat menyebarkan ilmu, tafsr, hadis yang mulia lebih banyak daripada para Imam yang lain (disebabkan wujud kebebasan pada masanya) sehingga majlis ilmunya dihadiri oleh lebih empat ribu pelajar sehingga Imam al-Sadiq a.s mampu memperbaharui lambang Islam selepas Bani Umayyah dan Bani ‘Abbas menghapuskannya. Justeru itu, Syi‘ah dinamakan dengan al-Ja‘fariyyah dinisbahkan kepada Ja‘far al-Sadiq a.s.

       Raja berkata: Apakah jawapan anda, wahai ‘Abbasi?

       Al-‘Abbasi berkata: Kami Ahl al-Sunnah biasanya mengikut para imam empat mazhab.!

       Al-‘Alawi berkata: Malah, sebahagian penguasa memaksa kamu supaya berpegang kepada mazhab empat[9]. Kamu telah mengikut mereka secara membabi buta, tanpa hujah dan dalil!

       Al-‘Abbasi diam.


Mati Sebagai Seorang Jahiliyah
      
       Al-‘Alawi berkata: Wahai raja, sesungguhnya aku naik saksi bahwa sesungguhnya al-‘Abbasi daripada ahli neraka, jika dia mati di dalam keadaan ini.

       Raja berkata: Dari manakah anda mengetahui bahawa dia daripada ahli neraka? 

       Al-‘Alawi berkata: Kerana Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa mati dan dia tidak mengetahui imam pada zamannya, dia mati sebagai seorang Jahiliyah” (Man maata wa lam ya‘raf imaama zamaani-hi maata maitatan jaahiliyyatan). Lantaran itu, bertanyalah kepada al-‘Abbasi, wahai raja, Siapakah imam zaman al-‘Abbasi?

       Al-‘Abbasi berkata: Tidak ada hadis Rasulullah mengenainya.

Raja Meminta Penjelasan

       Raja berkata kepada wazir: Adakah terdapat hadis daripada Rasulullah tentang perkara ini?

       Wazir berkata: Ya, terdapat hadis Rasulullah tentangnya.
       Raja berkata di dalam keadaan marah: Aku menyangka bahawa anda, wahai al-‘Abbasi, seorang yang boleh dipercayai (thiqah), sekarang terserlah pembohongan anda!

       Al-‘Abbasi berkata: Sesungguhnya aku mengetahui imam zamanku!

       Al-‘Alawi berkata: Siapakah dia?

       Al- ‘Abbasi berkata: Raja!

       Al-‘Alawi berkata: Ketahuilah, wahai raja, bahawa dia berbohong, dia hanya berkata sedemikian kerana mengambil hati anda!

       Raja berkata: Ya, aku mengetahui bahawa dia berbohong, aku mengetahui diriku bahawa aku tidak layak menjadi imam zaman orang ramai, kerana aku tidak mengetahui apa-apapun. Aku hanya menghabiskan waktu-waktuku dengan memburu dan mengurus pejabat!

       Kemudian raja berkata: Wahai al-‘Alawi, siapakah imam zaman pada pendapat anda?

       Al-‘Alawi berkata: Imam zaman pada pendapatku dan akidahku adalah Imam al-Mahdi a.s sebagaimana di dalam hadis terdahulu daripada Rasulullah s.a.w. Justeru itu, barangsiapa mengetahuinya, dia akan mati sebagai seorang muslim dan dia adalah daripada ahli syurga. Dan barangsiapa yang tidak mengetahuinya, maka dia mati sebagai seorang jahiliyah, dia di neraka bersama ahli jahiliyah.

Kebenaran Bersama Syi‘ah
      
       Di sini muka raja berseri dan terserlah kesan-kesan kegembiraannya pada mukanya dan berpaling kepada hadirin seraya berkata:

       Ketahuilah, wahai jemaah, sesungguhnya aku terasa senang dan yakin daripada dialog ini (Selama tiga hari). Aku telah mengetahui dan aku telah yakin bahawa kebenaran adalah bersama Syi‘ah pada setiap apa yang mereka katakan dan pada setiap apa yang mereka percayai. Sesungguhnya Ahl al-Sunnah adalah batil mazhab mereka, dan akidah mereka adalah menyeleweng.

Raja Mengisytiharkan Diri Sebagai Seorang Syi‘ah
      
       Sesungguhnya aku adalah di kalangan mereka apabila kebenaran terserlah, tunduk kepadanya dan mengakuinya. Aku bukanlah daripada ahli kebatilan di dunia dan ahli neraka di akhirat. Justeru itu, sesungguhnya aku mengisytiharkan kepada kamu bahawa aku menjadi seorang Syi‘ah (tasyayyu‘). Oleh itu, barangsiapa yang suka bersamaku, maka hendaklah dia menjadi Syi‘ah di atas keberkatan Allah dan keredaan-Nya, dia mengeluarkan dirinya daripada kegelapan kebatilan kepada cahaya kebenaran!
     
Wazir Mengisytiharkan Diri Sebagai Seorang Syi‘ah
      
       Wazir Nizam al-Mulk berkata: Aku telah mengetahui bahawa Syi‘ah adalah benar. Sesungguhnya mazhab yang benar adalah mazhab Syi‘ah Imam Dua Belas sahaja semenjak hari-hari persekolahanku. Justeru itu, aku mengisytiharkan bahawa aku juga menjadi seorang Syi‘ah.

       Demikianlah kebanyakan para ulama, menteri-menteri dan ketua-ketua tentera yang hadir pada muktamar itu (bilangan mereka hampir tujuh puluh orang) telah memasuki mazhab Syi‘ah.

       Berita tentang raja Malik Syah, wazir Nizam al-Mulk, menteri-menteri, ketua-ketua tentera dan penulis-penulis telah memasuki mazhab Syi‘ah telah tersebar di seluruh negara, lalu sebilangan besar daripada orang ramai telah berpegang kepada mazhab Syi‘ah dan Nizam al-Mulk- bapa kepada isteriku- telah memerintahkan supaya guru-guru mengajar mazhab Syi‘ah di sekolah-sekolah Nizamiyyah di Baghdad![10]

Sebahagian Mereka Kekal Di Atas Mazhab Mereka
     
       Tetapi sebahagian ulama yang berkeras di atas kebatilan, kekal di atas mazhab mereka yang terdahulu sebagaimana firman Allah di dalam Surah al-Baqarah (2): 74 “Seperti batu, bahkan lebih keras lagi
                                          
Rancangan Jahat
      
       Mereka mulai membuat rancangan-rancangan jahat[11] bagi menentang Malik Syah dan Nizam al-Mulk. Mereka menjadikan Nizam al-Mulk bertanggung jawab di atas perkara yang berlaku, kerana dia adalah akal yang mentadbir negara sehingga tangan yang berdosa dihulurkan kepadanya- daripada penentang-penentang Ahl al-Sunnah.

Kematian Nizam Al-Mulk Dan Malik Syah

       Kemudian mereka membunuh Nizam al-Mulk pada 12 Ramadan tahun 485 hijrah. Dan selepas itu pula mereka membunuh Malik Syah Saljuqi[12].

       Fa-innaa li-llah wa innaa ilai-hi raaji‘uun. Sesungguhnya kedua-duanya telah dibunuh pada jalan Allah, kerana kebenaran dan keimanan, maka ucapan tahniah kepada mereka berdua dan kepada setiap mereka yang dibunuh pada jalan Allah, kerana kebenaran dan keimanan.



Sebuah Qasidah
              
       Sesungguhnya aku telah menulis sebuah qasidah meratapi  Nizam al-Mulk (bapa mentuaku) di antaranya:

                  Wazir Nizam al-Mulk adalah mutiara yang berharga
                    Diukir oleh Yang Maha Pemurah daripada kemuliaan
                    Hari-hari tidak mengetahui kemulian nilainya
                    Dikembalikannya kerana cemburu kepada kulitnya
                    Dia memilih mazhab kebenaran di dalam dialog
                    Melahirkan hakikat pada bukti yang terbuka
                    Agama tasyayyu‘ suatu kebenaran tanpa
                    kemegahan untuknya
                    Selain daripadanya adalah fata morgana penipu licik
                    Tetapi dengki terpendam mereka lakukan untuknya
                    Dia bermalam di bulan terang di bayangan yang redup
                    Ke atasnya seribu salam Allah yang mengikutinya
                    Mencucuri rohnya yang abadi
                   
Aku Menghadiri Muktamar Dan Aku Menulis Buku Ini
      
       Sesungguhnya aku telah menghadiri muktamar dan dialog. Sesungguhnya aku telah menulis setiap apa yang berlaku di muktamar itu, tetapi aku membuang apa yang tidak perlu dan sekarang aku mengemukakan [kepada anda] apa yang telah berlaku di muktamar itu di dalam buku ini.
       Segala pujian kepada Allah sahaja, selawat dan salam kepada Muhammad, keluarganya yang baik dan para sahabatnya yang cerdik.
       Aku telah menulis buku ini di Madrasah Nizamiyyah di Baghdad.

      

Penulis:
Muqaatil bin ‘Atiyyah bin Muqaatil al-Bakri















                                                                              


                                          BIBLIOGRAFI


Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, Beirut, 1382 H.
al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, Baghdad, 1959.
al-Baladhuri, Ansab al-Asyraf, Tunis, 1384 H.
al-Bukhari, Sahih, Beirut, 1377 H.
al-Darimi, al-Sunan, Cairo, 1385 H.
al-Dhahabi, al-Talkhis, Cairo, 1969.
____________, Mizan al-I‘tidal, Cairo, 1978.
al-Fadhl bin Syadhan al-Naisaburi, al-Idhah, Beirut, 1990.
Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Cairo, 1382H.
al-Haithami, Majma‘al-Zawa’id, Baghdad, 1378 H.
al-Hakim, al-Mustadrak Baina al-Sahihaini, Cairo, 1969.
Al-Kasyi, al-Rijal,  Baghdad, 1389 H.
Ibn ‘Abd al-Birr, al-Isti‘ab fi Ma‘rifah al-Sahabah, Cairo, 1365 H.
Ibn ‘Abd Rabbih, ‘Iqd al-Farid, Tunis, 1378 H.
Ibn Abu al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, Baghdad, 1382 H.
Ibn al-Athir al-Jazari, Usd al-Ghabah, Baghdad, 1969.
Ibn Athir, al-Kamil fi al-Tarikh, Cairo, 1956.
al-Kanji al-Syafi‘i, Kifayah al-Talib, Teheran, 1378 H.
al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, Baghdad, 1959.
Ibn ‘Asakir, Mukhtasar Tarikh Dimasyq, 1386 H.
Ibn Hajr al-‘Asqalani, al-Isabah fi Ma‘rifah al-Sahabah, Beirut, 1953.
____________, Fath al-Bari, Cairo, 1965.
____________, Tahdhib al-Tahdhib, Hyderabad, 1328 H.
Ibn Hajr al-Makki, al-S.a.wa‘iq al-Muhriqah, Baghdad, 1374 H.
al-Halabi, al-Sirah al-Halabiyyah, Beirut, 1987.
Ibn Hisyam, Sirah Ibn Hisyam, Beirut, 1987.
Ibn Kathir, al-Tafsir, Cairo, 1958.
____________,al-Bidayah wa al-Nihayah, Cairo, 1365 H.
Al-Kulaini, Raudhat al-Kaafi, Beirut, 1985 H.
Ibn Majah, al-Sunan, Baghdad, 1367 H.
al-Majlisi, Muhammad al-Baqir, Bihar al-Anwar , Beirut 1993.
Malik bin Anas, al-Muwatta’, Tunis, 1972.
Muhibb al-Din al-Tabari, Dhakha’ir al-‘Uqba, Tunis, 1376 H.
____________, al-Riyad al-Nadhirah, Cairo, 1389 H.
Muhsin al-Amini, al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab,
Beirut, 1967.
Muslim, Sahih, Cairo, 1967.
al-Muttaqi al-Hindi, Kanz  al-‘Ummal, Hyderabad, 1374 H.
al-Nasa’i, al-Khasaa’is, Beirut, 1959.
____________, al-Sunan, Cairo, 1958.
al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi‘ al-Mawaddah, Baghdad, 1395 H,
al-Qurtubi, al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’an, Cairo, 1381 H
al-Salih al-Hanafi , al-Kaukab al-Durriyy, Tunis, 1367 H.
Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwaas, Cairo, 1381 H.
al-Syablanji al-Syafi‘i, Nur al-Absar, Cairo, 1367 H.
al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghagh, Beirut, 1984.
Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, Cairo, 1961.
____________, Tarikh al-Khulafa’, Cairo, 1368
_________, al-Itqaan fi  ‘Ulum al-Qur’an, Cairo, 1387
Al-Tabari, Tarikh, Beirut, 1958
al-Turmudhi, Sahih, Cairo, 1382
____________, Jaami al-Turmudhi‘, Cairo, 1380
al-Ya‘qubi, Tarikh, Beirut, 1379 H.


                  
                          
                                                                                            
                                             INDEKS

A                                                                     D    

Abdullah bin  ‘Abbas, 34                                   dhimmah,28
Abu Bakr, 22 ,30 ,33, 40, 55, 57, 58                
Abu Basir,18, 23, 24                                           F            
Abu Ja‘far al-Baqir, 34,
Abu Hamzah al-Thumali, 32 ,                             al-Fadhl bin Ibrahim,10      
31.36, 38, 322, 33,37,49, 68                              al-Fadhl bin Rabi‘, 70
Abu Hanifah,10, 23,56                                       al-Fadhl bin Syadhan, 40
Abu al-Hasan Musa, 21 ,38, 65                          al-Fadhl bin Yunus, 34                                                                         
67                                                                       al-Farazdaq,12 20, 21
Abu al-Hasan al-Ridha, 30,32,36,                      farsi,18,17, 25, 30, 38
10,14,18, 28, 27,36,36                                       Fadak, 20, 23,25
Ahl l-Bait,17, 23, 25,48,72, 81,82,           
10,12,13,142,14,16,2125,26,
281,63,65                                                          G
Ali bin Abu Talib,9,17, 22, 31,44,68,73,7
88, 93,                                                                gabenor,15,16,13,28, 27
Al-Asbagh bin Nabatah, 30, 31, 32, 33
34, 34

B                                                             H

Baiah, 22, 28, Habtar,345
Baligh,17,29                                                         Hamraan bin A‘yan, 26,24
Bani Hasyim,17,18 , 28                                        Harun al-Rasyid,65,70,72