Friday, June 15, 2012

Studi Kritis Sirah Nabawiyah versi Jalaluddin Rakhmat



16 09 2010 

Beberapa hari yang lalu saya membuka arsip sebuah milis tempat saya berdiskusi. Hal ini bermula karena pekan lalu sebelum Idul Fitri, email saya tiadk bisa dibuka, bahkan ada yang memakainya tanpa saya ketahui. Jadi, tiga hari kemarin saya bikin beberapa email baru. Kemudian pada Rabu kemarin, dicoba lagi dan dimasukkan beberapa kali paswordnya, alhamdulillah terbuka lagi.

Nah, pada arsip milis itu saya mencari komentar tanggapan pada postingan saya yang lama. Ternyata, pada postingan studi kritis sirah nabawiyah, banyak muncul tanggapan. Ustadz Jalaluddin Rakhmat pun memberikan komentar atas beberapa komentar postingan yang dalam tulisan itu saya menyebut-menybut beliau. Kemudian ditanggapi oleh mereka yang kurang suka pada pendapat Ustadz Jalaluddin Rakhmat, khususnya tentang metode studi kritis untuk sejarah Nabi Muhammad saw.

Pada postingan itu, saya sedikit meresensi studi kritis versi Jalaluddin Rakhmat yang tertuang dalam buku “Al-Mushthafa” yang diterbitkan oleh salah satu penerbit di Bandung. Dala buku tersebut, Ustadz Jalal—penggilan saya untuk Prof. Dr.Jalaluddin Rakhmat—secara khusus menulis kritik terhadap hadits-hadits yang dijadikan bahan penulisan Sirah Nabawiyah dan hal-hal yang berkaitan dengan sosok Muhammad dan nubuwwah Rasulullah saw.
Menurut Ustadz Jalal, sejarah Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam sekarang sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa. Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw.

Metode Studi Kritis
Dalam upaya menguji kebenaran sejarah Nabi Muhammad saw, Ustadz Jalal menggunakan tiga tahap (yang saya sebut metode studi kritis versi Jalaluddin Rakhmat). 

Pertama, mengujinya dengan doktrin al-Quran bahwa Muhammad saw adalah teladan yang baik dan berakhlak mulia. Karena itu, Ustadz Jalal menolak hadits atau fakta sejarah yang menggambarkan Nabi Muhammad saw pernah keliru dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi. 

Begitu pun tentang peristiwa mendapatkan wahyu yang sampai membuat Muhammad saw ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya (Khadijah) atau bertelanjang dada, bermesraan di depan umum, hendak bunuh diri dan lainnya, oleh Ustadz Jalal ditolak kebenarannya karena telah merendahkan derajat Nabi Muhammad saw. Sangat tidak mungkin manusia yang disebut berakhlak al-quran melakuk perilaku tidak terpuji dan seperti orang bodoh. 

Kedua, mempertemukan riwayat Nabi Muhammad saw dengan pesan Allah dalam al-Quran. Jika hadits atau sunah itu sesuai dengan al-Quran maka bisa diterima. Apabila tidak, wajib ditolak. 

Ketiga, mengujinya dengan kritik sanad (orang yang mengabarkan) dan matan hadits
(isi/materi) dengan tambahan analisa aliran politik dari periwayat hadits.
Tahapan studi kritis yang dikemukakan Ustadz Jalal dalam buku “Al-Mushthafa” yang dipraktikan juga dalam buku tersebut untuk menganalisa beberapa hadits, saya sebut metode kritik sejarah versi Jalaluddin Rakhmat, khususnya untuk kajian Sirah Nabawiyah. 

Kemudian muncul beberapa tanggapan, termasuk Ustadz Jalal yang menanggapi komentar atas postingan saya. Memang ada yang menolak metode tersebut. Alasannya: bukan soal ilmiah tidaknya, tetapi lebih melihat mazhab yang melekat pada sosok Ustadz Jalal.
Saya sendiri pada waktu munculnya tanggapan dari mereka tidak mengetahui karena email saya tidak bisa dibuka. Baru tahu ketika email tersebut bisa diaktifkan lagi dan sudah tidak panas lagi.

 

16 09 2010
Memurnikan Ajaran Islam
Dari berbagai komentar, yang menarik adalah yang disampaikan oleh Oman Abdurahman. Kang Oman menulis:

“Untuk sejarah Sirah Nabawiyyah saya setuju dengan metode Kang Jalal yang ternyata cukup ampuh. Banyak pertanyaan sekitar muatan hadist yang saya rasakan mengganggu dapat terpecahkan dengan solusi hasil dari metode tersebut. 

“Selain dari itu, metode tersebut membuat kita lebih kritis dan mengantarkan pada temuan-temuan yang terkadang mencengangkan, di samping juga lebih memurnikan ajaran Islam dari takhayul, mitos, dan rekaan-rekaan.

“Asumsi bahwa Nabi Muhammad saw sebagai uswatun hasanah sangat ampuh dalam menjawab keraguan-raguan terhadap muatan beberapa hadist yang dikenal selama ini. Sebagai contoh, hadist tentang cara menanam kurma yang mashur sebagai asal-usul atau asbabun nujul hadist yang terkenal “Antum ‘alamu bi umuri dunyaukum” yang membawa konsekuensi pemisahan antara urusan dunia dengan urusan akhirat, dengan metode studi kritis atas hadist (Sirah Nabawiyah) patut dipertanyakan kembali. Masa Rasulullah saw yang mulia yang dalam kehidupan sehari-harinya aktif dalam urusan sosial dan urusan hidup sehari-hari (berdagang, ikut berperang sejak kecil mempertahankan kabilah) tidak mengenal cara menama kurma? Akan sangat mengurangi kemuliaannya apabila seorang Rasul penutup para utusan Allah tidak sadar akan ucapannya yang sangat besar implikasinya itu.

“Demikian pula hadist tentang asababun nuzul turunnya surah Al Falaq dan An Naas yang bertentangan dengan tingkat kesadaran spiritual Nabi saw (sehingga tidak mungkin seorang Nabi saw terkena sihir. Bila hendak menjadikan surah tersebut untuk mencegah sihir dan sejenisnya, Alloh tidak perlu merendahkan derajat Nabi saw – sampai harus terkena sihir segala macam- sebagai asbabun nuzulnya). Banyak lagi peristiwa yang diberitakan sejumlah hadist yang patut kita kritisi. Semua itu tidak bermakna kita harus menjadi atau mendapat label sebagai ‘inkar sunnah’.

Komentar Kang Oman tersebut mengingatkan saya pada sesepuh Jawa Barat Tjetje Hidayat Padmadinata dalam acara diskusi buku “Api Sejarah” di Redaksi Pikiran Rakyat Bandung. Tjetje Hidayat Padmadinata menerangkan, sekarang ini era reformasi sehingga setiap orang bebas untuk berpendapat dan menyampaikan pemikirannya asal berdasarkan dalil yang jelas. Mungkin dalam hal ini didasarkan pada kajian ilmiah yang kebenarannya menjadi standar dunia. Karena itu, label “inkar sunnah” bagi yang mengkritisi sunnah Nabi atau sirah nabawiyah tidak perlu dihiraukan. 

Saya kira munculnya label “inkar sunnah” lahir dari mereka yang tidak mampu untuk “bertarung” secara ilmiah dalam membuktikan kebenarannya.

Abdul Karim Souroush
Saya juga jadi teringat pada Abdul Karim Souroush bahwa pemahaman agama oleh sebagian umat Islam telah dijadikan sakral dan yang sakral berupa “nash-nash” malah ditinggalkan. Dari hal inilah tampaknya kita perlu membedakan antara agama sebagai kebenaran dan agama sebagai identitas yang lahir dari berbagai tafsir atau pemahaman dari “nash” agama.
Saya kira Kang Oman lebih tahu tentang sejarah munculnya aliran yang disebut inkar sunnah di Indonesia kemudian merebak di Malaysia. Pada kajian kali ini, aliran tersebut, saya yakin tidak akan disematkan oleh jamaah yang cerdas dan tercerahkan pada mereka yang bersikap kritis dan hendak ‘membersihkan’ berbagai kotoran yang menodai sosok Baginda Al-Mushthafa Nabi Muhammad saw.


 


18 03 2011

Oleh AHMAD SAHIDIN

Studi kritis historis
Dalam tanya jawab, ada penanya yang cukup menggelitik yang bertanya tentang pengertian sahabat yang sebenarnya dan alat uji untuk membuktikan kebenaran hadis juga sirah nabawiyyah.

Ustadz Jalal menjawab bahwa ada tiga penjelasan tentang mana yang termasuk sahabat nabi dan bukan sahabat. 

Pertama, lihat al-quran yang membagi dua sahabat, termasuk ciri-cirinya: ashabul jannah wa ashabunnar. Kedua, nanti di akhirat. Dalam riwayat disebutkan bahwa nanti Rasulullah saw menantikan kedatangan para sahabatnya di telaga alkautsar dan akan terpisahkan antara sahabat yang benar-benar setia dan mengikuti ajaran Rasulullah dengan sahabat yang menyalahi sunnah Nabi atau mereka yang mengubah-ubah ajaran Islam setelah wafat Nabi Muhammad saw. Ketiga—yang ini mungkin termasuk promosi—buka buku The Road to Muhammad (diterbitkan Mizan). 

“Dalam buku saya ini, Anda akan mengetahui siapa saja sahabat yang termasuk lulusan madrasah Rasulullah saw. Juga akan mengetahui kualitas dan ciri dari para sahabat Nabi yang sebenarnya,” jawab Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia.
Adapun mengenai alat uji kesahihan hadis dan sirah nabawiyyah, Ustadz Jalal menyarankan untuk membaca bukunya yang berjudul Al-Mushthafa: Manusia Pilihan yang Disucikan (diterbitkan Simbiosa) yang di dalamnya membahas kajian kritis terhadap hadis dan riwayat yang berkaitan dengan Nabi Muhammad saw, termasuk metodologi studi kritis historis.

“Kalau Anda tak mau susah-susah meneliti seperti Pak Fuad, cukup melihat al-quran dan gunakan akal sehat. Apabila Anda menemukan hadis yang walaupun diriwayatkan Bukhari atau Muslim, bertentangan dengan al-quran, tolaklah. Begitu juga jika terdapat hadis yang tidak dapat diterima akal, yang merendahkan derajat dan kemuliaan Nabi maka wajib ditolak,” pesan Ustadz Jalal yang diakhiri dengan menyebutkan contoh riwayat Bukhari .
Dikisahkan Nabi mendatangi rumah istri seorang sahabat tanpa ada sahabat tersebut. Kemudian kepala Nabi bersandar pada pangkuan istri yang bukan muhrim tersebut dan diseliksik—mencari kutu—selanjutnya terbangun dengan wajah ceria. 

Ustadz Jalal menjelaskan bahwa hadis tersebut harus ditolak karena telah menunjukkan perbuatan Nabi yang tidak mengetahui aturan-aturan Islam dalam bertamu.

“Mendatangi perempuan yang bukan istrinya dan tidur dipangkuan istri orang, bukan termasuk akhlak Nabi. Begitu pun kepala Nabi berkutu, menunjukkan Nabi tidak menjaga kebersihan. Al-Quran menerangkan bahwa Nabi Muhammad saw berakhlak mulia, terpuji, bersih, dan suci. Jelas hadis tersebut bertentangan dengan informasi al-quran. Karena itu, jika menemukan hadis-hadis atau berita sejarah Nabi yang merendahkan kemuliaan Rasulullah saw perlu dikaji secara kritis, atau langsung tolak,” ungkap Ustadz Jalal mengakhiri pembicaraannya.

Ngaler ngidul…
Setelah mengikuti Diskusi Buku SAHABAT NABI karya Fuad Jabali, saya tidak langsung kembali ke tempat beraktivitas. Saya bersama kawan lama yang kini menjadi dosen berbincang agak lama tentang perkembangan kajian keislaman dan kesejarahan di jurusan tempat dahulu saya menimba ilmu.

Setelah berpamitan pulang, masih dalam kawasan kampus, saya bertemu kawan yang pernah sama-sama aktif dalam organisasi internal kampus. Ia mengajak saya ke pascasarjana untuk mengikuti kuliah cultural studies yang disampaikan Bambang Q. Anees. Mungkin karena lama tak bertemu, saya mengiyakannya. Mendengar kuliah cultural studies mengingatkan saya kembali pada masa-masa kuliah yang kalau tak ada kuliah, seharian baca buku-buku budaya dan sejarah di perpustakaan UIN Bandung yang kini raib dan rata untuk dibangun gedung baru.

Sambil menunggu hujan reda… saya dan kawan, mulai ngaler ngidul. Ngomongin dari soal agama, diskusi buku Sahabat Nabi, sampai urusan keluarga. Hujan sedikit reda… telepon genggam saya berdering.

“Assalamu’alaikum…. Bah, geura uih jemput Ambu,” kata istri yang menandakan saatnya berpisah dengan kawan dan kampus.
cag ah…. wassalam

No comments:

Post a Comment