Thursday, August 4, 2011

arti Pembangunan sebenarnya adalah “membangun AKHLAQ”

arti Pembangunan sebenarnya
adalah
“membangun AKHLAQ
By.Dewi



(Belajar Dengan Mencuplik Artikel Prof. Dr. Jalaludin Rahmat)


Terpesona pada sebuah artikel tulisan Prof. Dr. Jalaludin Rahmat, di www.jalal-center.com tempat saya menimba ilmu beberapa minggu terakhir ini,  membuat saya sebagai pemula lancang menulis kembali apa yang ada dibenak dan hati nurani. Mumpung sekarang sedang tidak ada beban pekerjaan dan juga beban psikologi yang mengganggu, rasa-rasanya sudah gatal nalar dan tangan untuk menggores pena. Insyaallah semata-mata untuk mencari Ridho-Nya amien.

Tadi siang ketika saya mendengar berita tentang ajaran al –qiyadah (entah namanya benar atau tidak saya kurang menyimak ejaaannya) yang memploklamirkan pimpinan mereka sebagai seorang nabi “al masih al mawt” istilah mereka, setelah sebelumnya mendengar dan membaca tentang aliran ahmadiyah, dsb. Dimana jumlah jam’ahnya lumayan banyak untuk ukuran aliran baru “ Masyaallah” seorang teman kantor saya menyeletuk “Wih, mba wong ajaran baru kok ya banyak pengikutnya ya ?” saya hanya membatin dalam hati "La iya kok banyak ya". Kemudian saya mengembalikan pada nalar dan akal serta logika berpikir sehat. Kembali kepada al-Qur’an yang jelas menyebutkan bahwa Rasullulah SAW (nabi Muhammad SAW) adalah nabi akhir jaman titik tidak ada koma demikian juga sesuai dengan hadist Rasullulah SAW tentang kedudukan Imam Ali as yang berbunyi “ Kedudukanmu adalah seperti Harun as disamping Musa as, akan tetapi tidak ada nabi setelahku.” Demikianlah beliau menyebut dengan jelas permasalahan kenabian menjawab keraguan orang tentang nabi akhir jaman. “Allahuma shali ala syaiddina Muhammad wa ala Ali syaiddina Muhammad”. Saya hanya berpikir dan berusaha untuk netral dan tidak memihak. Memang setiap orang setiap manusia berhak untuk memilih agama atau menciptakan agama yang baru tapi mbok ya jangan mendompleng Islam yang jelas-jelas sudah digariskan dalam sebuah aturan pakem yaitu Al-Qur’an.

Kemudian analisa saya berkembang melebar apakah ini yang dimanakan dehidrasi moral “ kurangnya suntikan ruhani dan juga pendalaman agama oleh masing-masing individu sehingga mereka kurang atau tidak mengerti atau enggan mengerti akan pembangunan Islam dalam ruh masing-masing atau tepatnya membangun islam dalam taman hatinya”. Sehingga Iman yang goyah ditengah hati yang koyak moyak berubah menjadi selingkuh iman, begitu saja menerima ilmu dari suatu ajaran yang belum pasti kebenarannya demi mencari kedok ketenangan jiwa. Tak cukupkah Al-Qur'an sebagai penyejuk jiwa dan Hadist Rasullulah SAW yang selalu dibimbing langsung oleh Allah SWT sebagai tuntunan serta Teladan dari kisah dalam qur'an maupun imam-imam yang zuhud menjadi contohnya ? (Allahualam Bisawab) Semoga Allah SWT selalu memberikan petunjuk dan arahan yang benar menuju ke jalan-Nya bagi kita sekalian yang mencari kebenaran dari ahlinya amien. 

Banyak orang pandai membaca Al-Qur’an tanda kutip hanya pandai membaca dan menerjemahkannya tapi tidak banyak yang pandai mengerti isinya dan mengamalkannya. Masyaallah.

Beberapa hari yang lalu saya dikejutkan oleh berbagai mecam peristiwa yang sempet mengguncang hati dan nurani saya, menempatkan saya pada posisi terendah dan serasa diinjak-injak harkat dan martabat saya sebagai menusia tapi kemudian saya kembalikan semuanya dalam rengkuhan kesabaran. Biarlah saya dihina dan dicaci didepan manusia asalkan Allah SWT tidak menganggap saya Hina, dan dari sini saya berusaha menekan sifat hewani saya (emosional) dan menonjolkan sifat manusia saya yaitu sikap diam dan sabar  Insyaallah amien.

Mengutip beberapa tulisan saya tentang budaya hedonisme dan penjara kapitalisme, yang sekarang sedang membelenggu jutaan anak adam, harusnya kita telaah kembali, sehingga kita mampu menelaah arti Islam sebenarnya dan moral sesungguhnya. Seperti halnya saya tersenyum bersama puluhan senyum saya yang lain ketika saya membaca tulisan cerdas Prof. Dr. Jalaludin Rahmat yang entah kenapa selalu mengena dihati beliau bercerita tentang cermin keluarga modern dimana bapak-ibunya bekerja dikantor pagi dan soro diantar jemput sang sopir, sedangkan anak-anak dirumah ditinggalkan menjadi anak pembantu, kemudian setelah sekian tahun atau bahkan sekian puluh tahun pembantu dan sopir bekerja akhirnya merindukan untuk pulang ke kampung halaman, yah walaupun berat melepas kepergian mereka akhirnya sang majikan mengijinkan mereka pulang. Mencoba mengais kebahagian dari gurat senyuman sang sopir dan pembantu mereka, sebab mereka hanya ingin pulang bukan karena mendapat jatah cuti dan istirahat dari pekerjaan dan “dikerjai’ oleh majikan tapi hanya untuk sekedar berkumpul dengan keluarga “meraih happiness (kebahagiaan)” sedangkan sang majikan mencapai hikmah dengan tidak adanya pembantu dan sopir akhirnya mereka melaksanakan semua kegiatan sendiri atau lebih tepatnya bersama-sama setelah sekian bulan, sekian tahun, atau bahkan sekian puluh tahun mereka terjebak dalam penjara kapitalisme yang mengatasnamakan dirinya “rutinitas”, sibuk atau disibukkan dengan aktivitas masing-masing sehingga berkurangnya komunikasi dan kebersamaan diantara mereka. “Ketidakadaan” sang majikan karena ketidakbiasaan bekerja tanpa pembantu dan sopir menjadikan hikmah lebaran kali ini dengan kebahagian berkumpul bersama anak dan suami lebih lama karena mereka tidak kemana-mana melainkan disibukkan dengan membersihkan rumah dan mengasuh anak-anaknya bersama-sama. Bukankah kebahagian dimasa lebaran itu sangat Indah dilihat dari kacamata sabar dan sekali lagi positive thanking. Disadari ataupun tidak bahwa  Reuni keluarga adalah salah satu berkah Lebaran.  Baik oleh si pembantu dan sopir maupun majikannya yang sepanjang tahun telah mengorbankan keluarganya pada altar konsumerisme. Ketika si sopir dan pembantu, meninggalkan kampung halamannya dan ketika si Tuan menyelesaikan studinya di luar negeri, mereka didorong masuk ke dalam pusaran angin kapitalisme internasional. Mereka berubah wujud menjadi –apa yang disebut Erich Fromm- homo consumens. “Sebagai manusia, kita tidak punya tujuan kecuali  memproduksi dan mengkonsumsi terus-menerus,” kata Fromm.

Sedangakan hikmah untuk saya pribadi ditinggal pembantu adalah menyelami pekerjaan kasar yang mereka lakukan untuk saya dan keluarga dirumah dengan berperan seperti layaknya mereka seminggu penuh, mencuci, mengepel, menyapu,memasak, momong, bergerak ke sana sini seperti kitiran. Ternyata sangat melelahkan dan berat kemudian saya bertanya dalam hati "Ya Allah ternyata berat juga pekerjaan pembantu dan ibu rumah tangga !", maka Alhamdullilah saya diberikan teman-teman dan patner kerja yang amanah yang menggantikan fungsi sementara saya sebagai ibu rumah tangga sementara saya tengah bergelut dengan pekerjaan dikantor walaupun terkadang menganggur karena pekerjaan sudah usai atau tidak diberikan pekerjaan he he he .
Dengan menyelami perasaan dan pekerjaan mereka saya semakin menyayangi dan menghargai mereka melebihi sebelumnya. Bahkan ketika seseorang menegur saya dan mengatakan bahwa saya "Terlalu memanjakan Mereka" saya hanya mengatakan "Saya tidak pernah memanjakan mereka, Saya hanya ingin menempatkan derajat mereka sebagai "manusia". Sekali lagi sebagai manusia sama seperti Saya. Masyaallah ! Allahuakbar! 

Kembali lagi adanya persepsi mengakar diera berpikir yang katanya modern, (mencuplik kata-kata Prof. Dr. Jalaludin Rahmat) bahwa boleh jadi kita punya tujuan untuk membangun keluarga yang bahagia dengan bekerja mati-matian dan menjadi makhluk "cuek" karena dibelenggu kesibukan untuk meraih material sesaat. Tapi akhirnya kebahagiaan keluarga diukur dari jumlah barang yang kita konsumsi. Tampaknya kita ingin memberikan masa depan yang indah bagi anak-anak. Tapi keindahan masa depan mereka diukur dari banyaknya uang yang mereka miliki. Kelihatannya kita berjuang untuk menegakkan ajaran agama. 

 Tapi tegaknya ajaran Tuhan dilihat dari jumlah penghasilan dari kegiatan dakwah kita. Atau kita bercita-cita untuk membangun bangsa ini. Tapi ukuran keberhasilan pembangunan ialah jumlah jalan tol, pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat hiburan. Karena pembangunan yang sebenar-benarnya adalah dengan membangun akhlaq pada jiwa setiap insan dan itu yang sangat sulit dilakukan oleh karena itu ibarat tumbuhan seluruh raga harus selalu disiram dan dijaga dari hama menyiramnya dengan kalimah-kalimah Allah dan menjaganya dengan iman dan takwa. Sehingga bila pondasi bangunan yang berupa akhlaq telah tertanam maka kita tingga membuat gedungnya dengan bahan-bahan berkualitas sehingga bangunan tidak hanya terlihat mewah tapi juga kuat walaupun dihempas berbagai macam badai ataupun gempa. Itulah ibaratnya yang saya tanggkap dari artikel beliau. Kalau akhlaq sudah dipupuk dan iman terus tertancap jauh didalam lubuk hati Insyaallah diri akan selalu dalam penjagaan Allah SWT dari kesesatan dan kefasikan. Sehingga menjauhkan diri kita dari segala macam bentuk fitnah yang keji.

Mengenai Hasrat konsumsi, “rage to consume” (Marshall Sahlins), mendorong kita untuk membeli dan membeli. Kita mencari kebahagiaan  dalam membeli.  Kita menyebut orang baik kepada orang yang membeli barang dan jasa yang baik; bukan pada orang yang bekerja dengan baik. Menurut Daniel Bell, kita sudah mengganti work ethic dengan consumer ethic.  Pahlawan yang dielu-elukan   di zaman ini dan gambarnya dipajang di mana-mana adalah “heroes of consumption”, bukan “heroes of production”.

Menurut salah satu nubuwat Nabi Muhammad, “Akan datang suatu zaman ketika manusia menyembah dinar (uang). Mereka bekerja keras pagi dan sore untuk mendapatkan uang.” Uang, dalam bahasa Marx, telah menjadi fetish, benda mati yang mempunyai kekuatan supranatural. Uang menjadi ukuran derajat manusia. Manusia yang paling mulia ialah yang paling banyak uangnya. Dengan uang, mereka bisa terlibat dengan aktif dalam budaya konsumerisme.

Jadi konsumerisme itu sebuah agama. Iklan adalah kitab sucinya.
Mal-mal  rumah ibadatnya, dan kaum kapitalis orang-orang sucinya.  Apa bedanya Al-Quran dengan iklan?  Al-Quran dibaca dengan cepat, iklan diikuti dengan khusyuk. Al-Quran mendatangkan ketentraman, iklan membina kekecewaan. “Tujuan iklan,” kata Robert E Lane dalam The Loss of Happiness in Market Democracy, “ ialah menciptakan bukan kepuasan, tetapi kekecewaan, termasuk  kecewa terhadap diri sendiri.”

Anda akan merasa puas dengan apa yang Anda punyai, selama Anda tidak dibandingkan dengan orang yang memiliki apa yang tidak Anda punyai. 
Anda sudah cukup bahagia dengan mobil tua Anda, sampai di depan muka Anda diperlihatkan gemerlap mobil baru.  Dengan jeratan psikologis, iklan menambah penderitaan Anda dengan menegaskan bahwa Anda terhina karena tidak punya mobil baru.  “Anda pecundang tanpa mobil baru”.
Tugas iklan memang membuat Anda kecewa dengan kehidupan Anda sekarang ini. Anda didorong untuk  bergairah membeli. Iklan dirancang tidak untuk memenuhi kebutuhan tetapi untuk menciptakan kebutuhan. Ketika kebutuhan baru muncul, Anda harus bekerja lebih keras. Sekarang Anda harus mengambil banyak waktu untuk bekerja. Di antara waktu yang disita untuk pekerjaan Anda adalah waktu untuk kegiatan-kegiatan sosial, termasuk berkumpul dengan keluarga. 

Bernard de Mandeville berkata, “Kemewahan telah mempekerjakan jutaan orang miskin.  Kesombongan memperkejakan jutaan orang lebih banyak lagi. Irihati dan kesombongan adalah duta-duta industri”.

Semua agama mengharamkan kedengkian dan kepongahan. Konsumerisme mewajibkannya. Semua agama membentuk manusia yang berkhidmat kepada manusia yang lain, bersikap rendah hati, dan mendahulukan kepentingan orang lain. Konsumerisme mendidik Anda untuk menjadi egois, narsisis, dan mementingkan diri sendiri.

Perlahan-lahan tapi pasti, cerita tentang sopir, pembantu, dan majikannya, dan kita semua menjadi kita seperti sekarang ini. Kita memandang semua makhluk Tuhan sebagai instrumen untuk melayani kebutuhan kita. Kita tidak berpikir bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain. Kita memutar otak bagaimana bisa memanfaatkan orang lain. kemarin saya sempat melihat sebuah drama komedi amerika yang berjudul "CLICK" oleh karena keingininannya memndapatkan promosi, dan uangn yang lebih banyak dari perusahaan dan juga rekan kerjanya dna  alih-laih demi membahagiakan istri dan anak-anaknya dia menggunakan alat ajaib seperti remote kontrol untuk mempercepat jalan hidupnya sehingga dia mencapai jangkauan yang oleh isltilah kapitalis disebut sukses yaitu memperoleh promosi dan perusahaan yang besar hingga istrinya meninggalkannya dan menikah dengan pria lain kemudian anak-anaknya mengikutnya menjadi work alcoholic dan mengabaikan keluarga. Hingga diakhir hayatnya dia tidak bahagia berpenyakit jantung, diabaikan keluarganya setelah bertahun-tahun dia dulu yang mengabaikan keluarganya. Untungnya ini hanya sebuah film tapi sayangnya, jarang sekali kehidupan bermain cantik layaknya sebuah drama, kalau di film cerita bisa diputar ulang dan dibenahi tapi kalo dikehidupan sehari-hari apakah dapat cerita hidup bisa diputar ulang (allahualam) yang ada kita hanya akan menyesali. Bukankah hidup hanya sekali lalu kenapa kita mau-maunya dijajah dengan uang dan menjadi tidak bahagia karenanya ???.

Sedangakan apa yang diperoleh kaum pemilik modal? Uang yang lebih banyak. Apa yang kita peroleh? Kita kehilangan kehangatan dalam pergaulan dengan orang-orang penting di sekitar kita. Kita kehilangan kepercayaan dan cinta kasih.
Kita tidak bisa percaya dan orang pun tidak percaya kepada kita. Kita tidak bisa menyayangi, karena itu juga tidak disayangi.  Akhirnya, seperti kata Robert E Lane, kita kehilangan kebahagiaan dalam demokrasi pasar.

Robert Lane berbicara tentang penderitaan semua masyarakat demokratis kapitalis. Untuk bangsa Indonesia, kita harus menambah penderitaan kita karena penindasan yang dilakukan oleh para pemimpin kita. Di Amerika, betapa pun kapitalisnya, orang-orang yang menganggur dapat “unemployment check”, gaji secukupnya untuk sekedar tetap hidup.
Di Jerman, betapa pun kapitalisnya, orang-orang sakit dapat  perawatan kesehatan gratis. Di negara-negara kapitalis lainnya, betapa pun menindasnya para pemilik modal, rakyat kecil bisa makan kenyang, memperoleh pendidikan yang berkualitas, mendapat tunjangan pada masa tuanya. Pajak yang mereka bayar kembali lagi pada mereka.

Rakyat Indonesia telah kehilangan kebahagiaannya dalam masyarakat industri.
Tapi mereka juga harus menanggung beban tambahan. Mestinya bangsa ini sudah gila semua. Mengapa tidak? Karena ada Lebaran.  Pada hari itu mereka kembali kepada keluarganya, budayanya, nilai-nilai tradisionalnya dan agamanya. Maka Min pun gembira ketika memeluk anak-anaknya. Dan majikannya pun tertawa-tawa di tengah-tengah keluarganya. 

(Naudubilah himindzalik) Lagi-lagi kata-kata prof. Jalal membuat saya merasa bersalah dan tertohok disana-sini pelurunya benar-benar mengenai sasaran karena demikianlah hidup saya dikukung budaya konsumerisme dengan mengatasnamakan mencintai dan demi anak-anak (dengan menulis dan mencuplik artikelnya disana sini, sedemikian ini agar mengingatkan saya kembali untuk selalu berusaha terus belajar menjadi “manusia” bukan hewan (meredam emosional). Masyaallah !!


Prev: Nasehat Rasullulah SAW
Next: ISLAM IS RAHMATAN LIEL ALAMIEN

sumber: http://yulyanidewi07.multiply.com/journal/item/66

No comments:

Post a Comment

Post a Comment