Showing posts with label tafsir. Show all posts
Showing posts with label tafsir. Show all posts

Thursday, August 4, 2011

Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib (sa) dan Kesempurnaan Agama

Surat Al-Maidah: 3
الْيَوْمَ أَكْمَلْت لَكُمْ دِينَكُمْ وَ أَتمَمْت عَلَيْكُمْ نِعْمَتى وَ رَضِيت لَكُمُ الاسلَمَ دِيناً
“Hari ini Aku sumpurnakan agamamu dan Kulengkapi nikmatku, dan Aku ridha kepadamu Islam sebagai agama.”

Pendapat Ahlul Bait (sa)

Surat Al-Maidah adalah surat yang paling terakhir turun, dan ayat ini adalah ayat yang paling terakhir setelah penyempurnaaan turunnya seluruh yang wajib. (Tafsir Al-Ayyasyi 1: 288; Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 1: 582; Al-Kafi 1: 289)

Dalam Tarikh Al-Ya’qubi 2: 43 dikatakan: Sesungguhnya ayat yang paling terakhir turun adalah: Alyawma Akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaykum ni’maî wa radhîtu lakum al-Islâma dînâ.

Pendapat Ahlussunnah yang sesuai dengan Ahlul bait (sa)

1. Durrul Mantsur 2: 252 mengutip riwayat yang bersumber dari Said bin Manshur dan Ibnu Mundzir, dari Abu Maisarah, ia berkata: Surat yang terakhir turun adalah surat Al-Maidah, dan di dalamnya terdapat 17 kewajiban.

2. Al-Mahalli 9: 407 menyebutkan: Kami meriwayatkan Aisyah Ummul mukminin (ra) berkata bahwa surat Al-Maidah adalah surat yang terakhir turun. Riwayat ini juga terdapat dalam jilid 7: 389. Riwayat yang semakna dengan riwayat ini juga terdapat di dalam:

1. Musnad Ahmad 6/188.
2. Sunan Al-Baihaqi 7/172.
3. Thabaqat Al-Hanabilah 1/427.
4. Mustadrak Al-Hakim 2/311. Hadis ini shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim, dan mereka tidak meriwayatkannya.
5. Majma’ Az-Zawaid 1/256.
6. Ad-Durrul Mantsur 2/525: Abu Abid meriwayatkan dari Dhamrah bin Habib dan Athiyah bin Qais, mereka berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Surat Al-Maidah adalah surat yang terakhir turun..”
7. Tafsir At-Tibyan 3/413: Abdullah bin Umar mengatakan, surat yang terakhir turun adalah surat Al-Maidah.

Pendapat yang saling bertentangan

Dalam Al-Itqan 1: 101, As-Suyuthi nampak malu menyebutkan, saking banyaknya pendapat dan riwayat yang saling bertentangan, antara lain:

1. Ayat yang terakhir adalah ayat tentang riba, yakni surat Al-Baqarah: 278.
2. Ayat yang terakhir adalah ayat tentang pembagian warisan, yakni An-Nisa’: 176.
3. Ayat yang terakhir adalah ayat ke 281 surat Al-Baqarah. (juga dalam Mu’jam Al-Kabir
Ath-Thabrani 12: 19).
4. Ayat yang terakhir adalah ayat ke 93 surat An-Nisa’ ( juga dalam Bukhari 5: 182).
5. Ayat yang terakhir adalah ayat 128 surat At-Taubat.
6. Ayat yang terakhir adalah ayat 25 surat Al-Anbiya’.
7. Ayat yang terakhir adalah ayat 110 surat Al-Kahfi.
8. Surat yang terakhir turun adalah surat At-Taubat.
9. Surat yang terakhir turun adalah surat An-Nashr.(juga dalam Shahih Muslim 8: 243)

Mengapa terjadi begitu banyak pendapat yang saling bertentangan?

Ada kisah menarik: Pada suatu hari khalifah Umar bin Khattab ditanyai tentang tafsir ayat riba dan hukum riba, ia tidak tahu dengan mengatakan: “Saya menyesalkan, karena ayat ini turun paling terakhir, dan Nabi saw wafat belum menjelaskannya kepadaku.”

Padahal ayat tentang riba disebut dalam 4 surat: Al-Baqarah: 275-276; surat An-Nisa’: 161; surat Ar-Rum: 39; surat Ali-Imran: 130. Ayat yang mana yang dia tidak bisa menjelaskan dan Rasulullah saw belum menjelaskan?

Dalam Musnadnya 1: 36 Imam Ahmad mengatakan: Said bin Musayyab berkata bahwa Umar bin Khaththab (ra) mengatakan: “Sesungguhnya ayat yang terakhir turun adalah ayat tentang riba, dan Rasulullah saw wafat sebelum menjelaskannya…” Riwayat ini juga disebutkan dalam:

1. Kanzul Ummal 4: 186.
2. Al-Mansuth 2: 51, 12: 114.

Bukhari 5: 115 meriwayatkan bahwa surat yang terakhir turun adalah surat Al-Bara’ah, dan ayat yang terakhir adalah ayat yang terakhir surat An-Nisa’ (Juga dalam jilid 5:185).

As-Suyuthi mengatakan dalam Al-Itqan 1:101: Syaikhan (Bukhari dan Muslim) meriwayatkan dari Barra’ bin Azib bahwa ayat yang terakhir turun adalah An-Nisa’: ayat terakhir, dan surat yang terakhir adalah surat Al-Bara’ah.

Dalam Shahih Bukhari 6: 242 disebutkan: Umar bin Khattab berbidato di mimbar Rasulullah saw: “Telah turun pengharaman khomer yaitu lima sesuatu: buah anggur, buah kurma, biji gandum (hinthah), biji gandum (syaîr), dan madu…” Lebih rinci dapat kita baca dalam:

1. Shahih Muslim 2: 18; 5: 61; 8: 245.
2. Sunan Ibnu Majah 2: 910.
3. Ad-Durrul Mantsur 2: 249.
4. Mustadrak Al-Hakim 2: 303.

Yang mengherankan mengapa Umar bin Khattab tidak menanyakan kepada Rasulullah saw tentang ayat yang turun terakhir, dan ayat tentang riba sehingga ia tidak paham dan mengatakan bahwa Rasulullah saw belum menjelaskan tentang riba? Yang menarik lagi Umar bin Khattab bingung dan tidak paham tentang hukum waris Kalalah. Anda dapat membacanya secara rinci dalam:

1. Shahih Muslim 5: 61.
2. Ad-Durrul Mantsur 2: 250.
3. Kanzul Ummal 11: 80, hadis ke 30688.

Bagaimana Umar bin Khattab sebagai khalifah tidak mengetahui ayat yang terakhir turun, hukum riba dan hukum waris kalalah? Sehingga berdampak pada generasi berikutnya, terjadi bermacam-macam pendapat yang saling bertentang.

Sebab Turunnya Surat Al-Maidah: 3

Pendapat Ahlu bait (sa)

Ayat ini turun pada hari Kamis 18 Dzul-Hijjah di Juhfah ketika Nabi saw pulang dari haji wada’, ketika Allah memerintahkan kepada beliau agar menghentikan kaum muslimin di Ghadir Khum. Yaitu ketika Nabi saw berkhutbah di hadapan mereka untuk menyampaikan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib s.a (Al-Kafi 1: 289)

Pendapat Ahlussunah yang sesuai dengan Ahlul bait (sa)

Sebagian Mufassir dan Ahli hadis di kalangan Ahlussunnah berpendapat bahwa ayat ini turun di Ghadir Khum sehubungan dengan pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib (sa) sebagai pemimpin pasca Rasulullah saw.

Al-Hafizh Abu Bakar Al-Khathib Al-Baghdadi dalam kitab Tarikhnya 8: 290 meriwayatkan: Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya.” Kemudian Umar bin Khattab berkata: Selamat, selamat wahai putera Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin semua orang-orang mukmin. Kemudian turunlah ayat: Alyawma akmaltu lakum dînakum…(Al-Maidah: 3)

Hadis dan riwayat yang semakna dengan hadis tersebut terdapat juga dalam:
1. Ad-Durrul Mantsur 2/259.
2. Syawahid At-Tanzil Al-Haskani, jilid 1 halaman 157, hadis 211, 212, 213, 214, 215, 250, cetakan pertama, Bairut.
3. Tarikh Damsyiq 2/73, Ibnu Asakir, hadis ke 575, 576, 578, 585, cetakan pertama, Bairut.
4. Tarikh Baghdad 8/259, Al-Khathib Al-Baghdadi.
Lebih rinci dapat Anda membacanya dalam bab tentang hadis Al-Ghadir.

Pendapat ketiga

1. Shahih Bukhari 1: 16: Umar bin Khattab mengatakan ayat ini turun pada hari Arafah, hari Jum’at dalam haji wada’. (juga dalam jilid 5:127 dan jilid 8: 137).
2. Sunan An-Nasa’i 5: 251: Dari Umar bin Khattab, ayat ini turun pada hari Arafah, hari Kamis, dalam haji wada’.

Mengapa Umar bin Khattab menyampaikan informasi penting ini berbeda-beda dan bermacam-macam? Satu sisi ia mengatakan ayat yang terakhir turun ayat tentang kalalah, ayat hukum waris, dan lainnnya, sehingga ayat ini turun sebelum ayat-ayat tersebut. Sisi yang lain ia mengatakan agama menjadi sempurna setelah ayat ini turun, tidak ada lagi hukum Islam yang turun sesudahnya.
Wassalam
Dikutip dari Blog Syamsuri Rifai

Ayat Tabligh: Penegasan Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib (sa)

Surat Al-Maidah: 67
يَأَيهَا الرَّسولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْك مِن رَّبِّك وَ إِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْت رِسالَتَهُ وَ اللَّهُ يَعْصِمُك مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يهْدِى الْقَوْمَ الْكَفِرِينَ‏
“Wahai Rasul, sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika kamu tidak melakukan berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah menjagamu dari bahaya manusia, sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”

Makna yang terkandung dalam ayat ini: Sampaikan bagian yang terpenting dari risalah Tuhanmu, jika kamu tidak melakukannya berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalah-Nya.

Hadis-hadis yang shahih dan mutawatir yang bersumber dari Ibnu Abbas, Jabir Al-Anshari, Abu Said Al-Khudri, Ibnu Mas’ud, Barra’ bin Azib dan Abu Hurairah menyatakan bahwa ayat ini turun kepada Rasulullah saw dalam haji wada’ untuk memproklamirkan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib (sa) di Ghadir Khum.

Pendapat di kalangan Ahlussunnah

Tentang sebab turunnya ayat ini kitab-kitab Ahlussunnah menyebutkan riwayat-riwayat hadis yang sangat bervariatif. Jika kita pahami secara teliti riwayat-riwayat itu dapat kita kelompokkan ke dalam enam pendapat.

Pendapat yang pertama

Ayat ini turun pada awal kenabian. Ayat ini turun karena Nabi saw takut kepada orang-orang kafir dalam menyampaikan risalah Allah swt. Setelah mendapat jaminan dari ayat ini Nabi saw merasa aman dalam menyampaikan risalah-Nya. Kesimpulan pendapat ini: ayat ini turun 23 tahun sebelum turunnya surat Al-Maidah.

Pendapat ini berdasarkan riwayat yang semakna dengan riwayat yang bersumber dari Abu Asy-Syaikh bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mengutusku untuk menyampaikan risalah, lalu aku merasa khawatir dan aku tahu bahwa manusia akan mendustakanku; kemudian Allah memberi jaminan kepadaku untuk menyampaikan risalah atau mengazabku, lalu Allah menurunkan (ayat ini) Ya Ayyuhar Rasul balligh ma unzila ilayka mir Rabbika.

Riwayat ini terdapat dalam:

1. Ad-Durrul mantsur As-Suyuthi jilid 2 halaman 298.
2. Asbabun Nuzul Al-Wahidi, jilid 1 halaman 438.

 Pendapat yang kedua
 
Ayat ini turun di Mekkah sebelum hijrah.

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Jabir Al-Anshari, ia berkata: Jika Rasulullah saw akan keluar rumah datanglah Abu Thalib untuk mendampingi dan menjaganya. Sehingga turunlah ayat Wallahu ya’shika minannas. Kemudian datang lagi Abu Thalib ketika Rasulullah saw hendak pergi, lalu beliau berkata kepadanya: “Wahai pamanku, Allah telah menjagaku, karena itu aku tidak butuh pendamping untuk menjagaku.” (Ad-Durrul Mantsur 2: 298-299).

Thabrani, Abu Asy-Syaikh dan Abu Naim meriwayatkan dalam kitab Ad-Dalail, Ibnu Mardawaih dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi saw perlu pendamping untuk menjaganya, maka diutuslah Abu Thalib untuk mendampinginya. Setiap hari tokoh-tokoh dari Bani Hasyim menjaganya. Kemudian Nabi saw bersabda: Wahai pamanku, Allah telah menjagaku sehingga aku tidak perlu lagi pendamping untuk menjagaku. (Mu’jam Al-Kabir, Ath-Thabrani 11: 205).

Pendapat yang ketiga

Ayat ini turun di Madinah tanpa ada peristiwa yang penting. Suyuthi mengutip beberapa riwayat yang berkaitan dengan ayat ini bahwa Nabi saw tidak perlu adanya penjagaan, baik di Mekkah maupun di Madinah.

Suyuthi mengatakan dalam kitabnya Ad-Drrul Mantsur 2: 298-299:
Thabrani dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari ‘Ishmah bin Malik Al-Khathami, ia berkata: kami menjaga Rasulullah saw pada malam hari, sehingga turunlah ayat ini, maka kami tidak perlu lagi menjaga beliau.

Ibnu Jarir dan Abu Asy-Syaikh meriwayatkan Said bin Jubair, ia berkata: Ketika ayat ini turun Rasulullah saw bersabda: “Janganlah kalian menjagaku, karena Tuhanku telah menjagaku.”

Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Abdullah bin Syaqiq bahwa Rasulullah saw selalu diikuti sekelompok sahabatnya sehingga turun ayat ini. Ketika turun ayat ini Nabi saw keluar rumah dan bersabda: “Jagalah siapa yang perlu kalian jaga, karena Allah telah menjagaku dari bahaya manusia.”

Abd bin Hamid, Ibnu Jarir dan Abu Syaikh meriwayatkan dari Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi bahwa Rasulullah saw senantiasa butuh penjagaan sahabatnya, sehingga turun ayat ini, dan mereka tidak menjaga beliau setelah ada berita Nabi saw dijaga oleh Allah dari bahaya manusia.

Benarkah Rasulullah saw tidak perlu dijaga? Sementara banyak riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah saw tetap dijaga baik di Mekkah maupun di Madinah sampai beliau wafat.

Di antara hadis-hadis tentang sirah Nabi saw yang disepakati adalah beliau mengharapkan kabilah-kabilah arab untuk menjaganya dan melindunginya dari rencana-rencana pembunuhan agar beliau dapat menyampaikan risalah Allah azza wa jalla. Para sahabat Anshar berbaiat kepada Nabi saw, dengan baiat Aqabah, untuk menjaga Nabi saw dan menjaga Ahlul baitnya sebagaimana mereka menjaga diri mereka dan keluarga mereka. Dengan demikian, sekiranya ayat ini turun di Mekkah, niscaya tidak perlu semua penjagaan itu.

Kitab-kitab hadis, tafsir dan tarikh di kalangan Ahlussunnah dipenuhi oleh riwayat-riwayat tentang penjagaan terhadap Nabi saw di Mekkah dan di Madinah, khususnya dalam peperangan, sampai beliau wafat.

Musnad Ahmad 2: 222 meriwayatkan bahwa pada tahun perang Tabuk Rasulullah saw melakukan shalat malam, tokoh-tokoh sahabat berkumpul di belakang Nabi saw untuk menjaganya…

Kita tahu bahwa perang Tabuk itu terjadi pada akhir tahun dari kehidupan Nabi saw. Riwayat ini sebenarnya sudah cukup untuk menolah pendapat tersebut. Riwayat ini dijadikan pegangan oleh para ahli hadis, penulis-penulis kitab Sirah untuk menjelaskan penjagaan terhadap Nabi saw, kisah-kisahnya, nama-nama mereka dan kisah-kisah mereka.

Anehnya, sebagaimana kita cermati, sebagian mereka menyebutkan tentang perlunya penjagaan terhadap Nabi saw, kemudian mengatakan tidak perlu lagi penjagaan setelah ayat ini turun di Mekkah sebelum hijrah atau sesudah hijrah. Seolah-olah mereka mengingkari janji dan berusaha menjauhkan ayat ini dari peristiwa Al-Ghadir.

Orang yang menjaga Nabi saw di siang hari dalam perang Badar ketika beliau tidur: Sa’d bin Mu’ad. Dalam perang Uhud: Muhammad bin Musallamah. Dalam perang Khandaq: Zubair bin Awwam. Yang menjaga malam hari dalam perang Khaibar: Abu Ayyub Al-Anshari. Kemudian Rasulullah saw berdoa: “Ya Allah, jagalah Abu Ayyub sebagaimana ia tidak tidur untuk menjagaku.” Adapun yang menjaga di lembah-lembah pegunungan: Bilal, Sa’d bin Abi Waqqash, dan Dzikwan bin Abdu Qais; di bawah pimpinan ‘Ubbad bin Basyir. Ketika ayat ini turun, mereka meninggalkan penjagaan. (‘Uyunul Atsar 2: 402)

Kesimpulannya, pendapat yang mengatakan bahwa Nabi saw tidak perlu lagi penjagaan, tidak punya dalil dari Sirah Nabi saw, justru dalil yang mereka gunakan bertentangan dengan Sirah Nabi saw. Yakni, Bani Hasyim menjaga Nabi saw di Mekkah sampai beliau hijrah, kemudian sebagian sahabat-sahabatnya menjaga beliau di Madinah sampai beliau wafat.

Pendapat yang keempat

Ayat ini turun di Madinah pada tahun kedua hijrah, sesudah perang Uhud.

Suyuthi mengutip riwayat dalam Ad-Durrul Mantsur 2: 291: Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Athiyah bin Sa’d, ia berkata: Ubadah bin Shamit dari Bani Harits bin Khazraj datang kepada Rasulullah saw, lalu ia berkata: Ya Rasulallah, aku punya pemimpin dari yahudi yang jumlahnya banyak, dan aku berlindung kepada Allah dan Rasul-Nya dari kepemimpinan yahudi, aku berpemimpin kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kemudian Abdullah bin Ubay berkata: Aku takut pada segala yang memusingkan, dan aku tidak berlepas dari kepemimpinan para pemimpin. Kemudian Rasulullah saw bersabda: Wahai Aba Hubbab, tahukah kamu orang yang dituju oleh Ubadah tentang kepemimpinan yahudi, dia adalah kamu bukan yang lain. Kemudian aku menghadap, lalu turunlah ayat ini.

Pendapat yang kelima

Ayat ini turun ketika ada seseorang berusaha memperdaya dan membunuh Nabi saw dalam perang Bani Anmar yang dikenal Dzatur Riqa’.

As-Suyuthi mengutip riwayat ini dalam kitabnya Ad-Durrul Mantsur 2: 298-299:
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Ketika Rasulullah saw berada dalam peperangan Bani Anmar, beliau berhenti di Dzat Ar-Riqa’. Ketika beliau sedang duduk di dekat sumur dan menyelonjorkan kedua kakinya, Ghaurits bin Harits berkata: Aku akan membunuh Muhammad. Kemudian para sahabatnya berkata kepadanya: Bagaimana mungkin kamu bisa membunuhnya? Aku berkata kepadanya: Berikan pedangmu padaku, jika ia memberikan pedangnya kepadaku aku akan membunuhnya. Kemudian ia mendatangi Rasulullah saw dan berkata: Wahai Muhammad, berikan pedangmu padaku, aku ingin melihatnya. Rasulullah saw memberikannya, dan ia gemetar tangannya. Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Kekuatan Allah berada di antara aku dan keinginanmu.” Ketika itulah Allah menurunkan ayat Ya Ayyuhar Rasul balligh ma unzila ilayka min Rabbika …
Dalam riwayat yang lain menyebutkan: Ketika Rasulullah saw berhenti di suatu tempat yang dipilihkan oleh para sahabatnya di dekat pohon, kemudian beliau tertidur di bawah pohon itu. Kemudian datanglah seorang arab dusun lalu menghunus pedangnya dan berkata: Siapakah yang akan menghalangimu dariku? Rasulullah saw menjawab: Allah. Maka gemetarlah tangan orang arab dusun itu dan jatuhlah pedangnya. Perawi riwayat ini mengatakan: Ia tertimpa oleh pohon sampai berserakan otaknya. Ketika itulah Allah menurunkan ayat ini.
Benarkah ayat ini turun dalam peristiwa tersebut?

Dalam Sirah Ibnu Hisyam 3: 225 disebutkan: Perang Bani Anmar (Dzat Ar-Riqa’) terjadi pada tahun keempat hijrah. Yakni, beberapa tahun sebelum turunnya Surat Al-Maidah.

Dalam Sirah Ibnu Hisyam 3: 227 disebutkan: bahwa kisah Ghaurits tidak berkaitan dengan turunnya Surat Al-Maidah: 67, tetapi berkaitan dengan turunnya Surat Al-Maidah: 11. Ini pun tidak benar, karena ayat ini termasuk ke dalam surat Al-Maidah.

Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa perang Dzat-Ar-Riqa’ berkaitan dengan disyariatkannya shalat Khauf, tidak berkaitan dengan Surat Al-Maidah: 67. Riwayat ini terdapat di dalam:
1. Shahih Bukari jilid 5, halaman 53: Bersumber dari Jabir bin Abdullah (ra).
2. Mustadrak Al-Hakim jilid 3, halaman 29; Al-Hakim mengatakan: riwayat ini shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim.
3. Musnad Ahmad jilid 3, halaman 364 dan 390; dan jilid 4 halaman 59.
4. Majma’ Az-Zawaid 8: 9.
5. Al-Kafi 8: 127.

Pendapat yang keenam

Penutur riwayat dalam kelompok ini tidak menyebutkan tahun dan peristiwa penting turunnya ayat ini, mereka hanya mengatakan bahwa ayat ini turun untuk menguatkan Nabi saw dalam hal kewajiban menyampaikan risalah.

Ad-Durrul Mantsur 2: 299 mengutip riwayat yang bersumber dari Abd bin Hamid, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan Abu Asy-Syaikh dari Qatadah tentang ayat ini, ia berkata: Allah telah memberitakan kepada Nabi saw bahwa Dia akan melindungi dan menjaganya dari bahaya manusia, dan memerintahkan kepadanya agar menyampaikan risalah-Nya. Diberitakan kepada kami bahwa Nabi saw pernah ditanyai: Sekiranya engkau dijaga oleh Allah? Nabi saw menjawab: “Demi Allah, Allah tidak akan membiarkan aku dari bahaya manusia apa yang kutinggalkan pada mereka sesudahku.”

Pendapat ini mirip pendapat yang pertama hanya tidak menyebutkan fokus peristiwanya. Pendapat ini sudah terbantah oleh pendapat sebelumnya. Apalagi riwayat ini tidak sesuai dengan makna yang terkandung di dalam surat Al-Maidah: 67.

Renungan bagi kita

Mengapa terjadi bermacam-macam riwayat hadis yang saling berbeda secara subtasial? Apakah sahabat-sahabat Nabi saw tidak mengetahui secara pasti kapan dan apa latar belakang turunnya ayat ini? Apakah mereka tidak berada di dekat Nabi saw ketika ayat ini turun? Atau mereka tidak bertanya kepada Nabi saw? Mungkinkah Nabi saw tidak menjelaskan ayat ini kepada mereka? Ataukah sebagian ulama pasca sahabat yang membelokkan penjelasan sahabat Nabi saw? Jawabannya: Bagi para sahabat Nabi saw tidak mungkin tidak mengetahui secara pasti peristiwa ini, karena hampir seluruh sahabat mengikuti Nabi saw dalam haji wada’ dan menyaksikan khutbahnya di Ghadir Khum.

Yang jelas sebagian dari mereka ingin menghilangkan jejak bahwa ayat ini berkaitan dengan pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib (sa) sebagai pemimpin pasca Rasulullah saw. Tidak jarang ayat Al-Qur’an atau hadis Nabi saw dibelokkan dari makna yang sebenarnya karena kepentingan politik, yang umumnya dilakukan oleh penguasa dan ulama di sekitar penguasa. Hal ini tidak hanya terjadi di zaman dahulu, tetapi juga terjadi di zaman kita. Na’udzu billah, kita berlindung kepada Allah swt, semoga Dia menyelamatkan kita dari kelompok mereka ini.

Pendapat yang sesuai dengan Ahlul Bait Nabi saw

Pendapat ini mengatakan bahwa ayat ini turun kepada Rasulullah saw pada hari Ghadir Khum sehubungan dengan perintah memproklamirkan kepemimpinan Imam Ali bin Abi Thalib (sa) sebagai pemimpin pasca Rasulullah saw.

Ad-Durrul Mantsur 2: 298 mengutip riwayat yang bersumber dari Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih dan Ibnu Asakir dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata: Ayat ini yaitu Ya Ayyuhar Rasul balligh ma unzila ilayka min Rabbika turun kepada Rasulullah saw pada hari Ghadir Khum sehubungan dengan Ali bin Abi Thalib.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Di zaman Rasulullah saw kami membaca: “Ya Ayyuhar Rasul balligh ma unzila ilayka min Rabbika – Anna Ali mawla al-mu’minin (Ali pemimpin orang-orang mukmin) – wa in lam taf’al fama ballaghta risalatahu, wallahu ya’shimuka min an-nasi.”

Dalam Al-Mi’yar wal Mawazin: 213 meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah dan Abdullah bin Abbas, mereka berkata: Allah memerintahkan kepada Muhammad agar mengangkat Ali bin Abi Thalib di hadapan manusia dan memberitakan kepemimpinannya kepada mereka. Rasulullah saw khawatir mereka mengatakan: “Dia terlalu mencintai anak pamannya”. Dan beliau khawatir juga mereka mencerca Ali bin Thalib. Kemudian Allah menurunkan wahyu kepadanya: Ya ayyuhar Rasul balligh ma unzila ilayka min Rabbika. Kemudian Rasulullah saw berdiri memproklamirkan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib pada hari Ghadir Khum.

Riwayat yang semakna dengan riwayat tersebut terdapat dalam:

1. Syawahid At-Tanzil jilid 1 halaman 157, hadis ke 221.
2. Tarikh Damsyiq Ibnu Asakir jilid 2 halaman 85, cetakan pertama, hadis ke 585 dan 586.
3. Tafsir Al-Mizan jilid 6 halaman 45, mengutip dari Tafsir Ast-Tsa’labi tentang ayat ini: Ketika Rasulullah saw memegang tangan Ali, beliau bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya. Ya Allah, sayangi orang yang menyayangi Ali dan musuhi orang yang memusuhinya.”
4. Al-Ghadir Al-Amini jilid 1 halaman 192: Ayat ini turun pada tanggal 18 Dzul-Hijjah tahun Haji Wada’.
5. Asbabun Nuzul Al-Wahidi, halaman 115 cet. Al-Halabi Mesir; halaman 150 cet. Al-Hindiyah Mesir.
6. Tafsir Al-Kabir Fakhur Razi, jilid 12 halaman 50 cet. Mesir 1375 H; jilid 3 halaman 637 cet. Ad-Dar Al-Amirah Mesir.
7. Tafsir Fathul Qadir Asy-Syaukani, jilid 2 halaman 60 cet Al-Halabi; halaman 57 cet. Pertama.
8. Tafsir Al-Manar Syeikh Muhammad Abduh, jilid 6 halaman 463.
9. Tafsir An-Naisaburi jilid 6 halaman 470.
10. Tafsir Ruhul Ma’ani Al-Alusi, jilid 2 halaman 348.

Ali bin Abi Thalib (sa) wazir Rasulullah saw


قَالَ رَب اشرَحْ لى صدْرِى‏.وَ يَسرْ لى أَمْرِى‏. وَ احْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسانى يَفْقَهُوا قَوْلى. وَ اجْعَل لى وَزِيراً مِّنْ أَهْلى‏ هَارُونَ أَخِى. اشدُدْ بِهِ أَزْرِى‏. وَ أَشرِكْهُ فى أَمْرِى‏
“Berkata Musa: ‘Ya Rabbi, lapangkan untukku dadaku, mudahkan untukku urusanku, lepaskan kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, jadikanlah untukku seorang wazir dari keluargaku, dan jadikan dia sekutu dalam urusanku.”

Rasulullah saw memohon kepada Allah swt seorang wazir dari keluarganya, sebagaimana Nabi Musa (as) memohon wazir dari keluarganya. Allah swt mengijabah permohonannya, Ali bin Abi Thalib (sa) menjadi wazir Rasulullah saw sebagaimana Harun menjadi wazir Nabi Musa (as).

Dalam tafsir Al-Kabir, tentang surat Al-Maidah, 55:

“Sesungguhnya tiada lain pemimpin kalian adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang menegakkan shalat dan menunaikan zakat ketika sedang ruku.”

Di bagian akhir tafsir ayat ini Fakhrur Razi mengatakan:
Telah diriwayatkan bahwa Abu Dzar Al-Ghifari berkata: Pada suatu hari kami melakukan shalat Zuhur bersama Rasulullah saw, kemudian datang ke dalam masjid seorang peminta-minta dan tidak ada seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu peminta-minta itu menengadahkan tangannya ke langit dan berdoa: Ya Allah, saksikan aku meminta-minta di masjid Rasulullah saw, tapi tidak ada seorang pun yang memberikan sesuatu kepadaku.” Saat itu Ali (sa) sedang ruku’, lalu ia mengisyaratkan jari kanannya, yang padanya terdapat cincin, lalu peminta-minta itu mengambil cincinnya dan Rasulullah saw melihatnya. Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya saudaraku Musa bermohon kepada-Mu: Ya Rabbi, lapangkan untukku dadaku, mudahkan untukku urusanku, lepaskan kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, jadikanlah untukku seorang wazir dari keluargaku, dan jadikan dia sekutu dalam urusanku’ (Thaha: 25-32). Lalu Engkau turunkan Al-Qur’an dengan menyatakan: ‘Kami akan membantumu dengan saudaramu dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar.’ (Al-Qashash: 35). Ya Allah, aku adalah Muhammad nabi-Mu dan pilihan-Mu, lapangkan untukku dadaku, mudahkan untukku urusanku, lepaskan kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, jadikanlah untukku seorang wazir yaitu Ali dari keluargaku, dan dengannya kokohkan punggungku.”

Abu Dzar berkata: Demi Allah, belum selesai Rasulullah saw menyampaikan permohonannya, Jibril datang dan berkata: Wahai Muhammad, aku datang untuk menyampaikan: “Sesungguhnya tiada lain pemimpin kalian adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang menegakkan shalat dan menunaikan zakat ketika sedang ruku.” (Al-Maidah: 55).

Hadis ini juga disebutkan oleh As-Sablanji dalam kitabnya Nur Al-Abshar, halaman 170. Dan dikutip juga oleh Abu Ishaq Ahmad Ats-Tsa’labi dalam tafsirnya, disebutkan juga dalam:

1. Syawahidut Tanzil, Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 179, hadis ke 235.
2. Tadzkirah Al-Khawwash, As-Sabth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, halaman 15.
3. Nurul Abshar, Asy-Syablanji, halaman 70, cet. As-Sa’idiyah; halaman 71, cet. Al-‘Utsmaniyah.
4. Nizham Durar As-Samthin, Az-Zarnadi, halaman 87.
5. Al-Fushulul Muhimmah, Ibnu Shabagh Al-Maliki, halaman 108.
6. Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 214, cetakan kedua.
7. Mathalib As-Saul, Ibnu Thalhah Asy-Syafi’i, jilid 87.
8. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 192, hadis ke 151.
Wassalam
Dikutip dari blog Syamsuri Rifai

Ahlul bait Nabi saw seperti pintu Hiththah Bani Israil

Surat AL-Baqarah: 58


Allah swt berfirman:
وإذ قلنا ادخلوا هذه القرية فكلوا منها حيث شئتم رغداً وادخلوا الباب سجداً وقولوا حطة نغفر لكم خطاياكم
Ingatlah, ketika Kami berfirman: “Masuklah kalian ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak dan enak sebagaimana yang kalian sukai, dan masuklah kalian ke pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakan: “Bebaskan kami dari dosa-dosa, niscaya Kami akan mengampuni kesalahan-kesalahan kalian.”

Dalam tafsir Ad-Durrul Mantsur, tentang ayat ini Jalaluddin As-Suyuthi berkata:

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib (as) berkata: “Sesungguhnya kami (Ahlul bait) bagi ummat ini seperti bahtera Nuh dan pintu Hiththah (pengampunan dosa).”

Dalam Mustadrak Al-Hakim 2: 343 Al-Hakim mengatakan tentang ayat ini:

Hansy Al-Kinani berkata, aku pernah mendengar Abu Dzar berkata sambil berpegangan pada pintu Ka’bah: Wahai manusia, barangsiapa yang mengenalku, aku adalah orang yang kalian kenal, dan barangsiapa yang mengingkariku, maka aku adalah Abu Dzar, aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan Ahlul baitku seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya ia akan selamat dan barangsiapa yang tertinggal ia akan tenggelam.” Sekanjutnya Al-Hakim mengatakan: Hadis ini shahih menurut persyaratan Muslim.

Dalam Majma’ Az-Zawaid 9:168 disebutkan:

Abu Said Al-Khudri berkata, aku pernah mendengar Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan Ahlul baitku bagi kalian seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya ia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal ia akan tenggelam. Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlul baitku bagi kalian seperti pintu Hiththah bagi Bani Israil, barangsiapa yang memasukinya ia akan diampuni dosa-dosanya.”

Tentang hadis ini secara lebih detail, Anda baca tentang hadis Safinah (bahtera nabi Nuh as). Dan dengan segala macam redaksinya hadis ini terdapat dalam kitab:
1. Kanzul Ummal, jilid 6 halaman 216.
2. Hilyah Al-Awliya’, Abu Na’im, jilid 4 halaman 306.
3. Tarikh Baghdad, Al-Khathib, jilid 12 halaman 19.
4. Dzakhair Al-‘Uqbâ, Muhibuddin Ath-Thabari, halaman 20.
5. Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah, Ibnu Hajar, halaman 75. Hadis ini diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dari Ibnu Abbas.
6. Al-Faydh Al-Qadir, Al-Mannawi, jilid 4 halaman 356.
7. Kunuz Al-Haqâiq, Al-Mannawi, halaman 132, hadis ke 6943.
Wassalam
Dikutip dari blog Syamsuri Rifai

Cara Selawat kepada Nabi SAW dalam Sahih Bukhari


Allah swt berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَ مَلَئكتَهُ يُصلُّونَ عَلى النَّبىّ‏ِ يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صلُّوا عَلَيْهِ وَ سلِّمُوا تَسلِيماً
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi; wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya.” (Al-Ahzab/33: 56)

Ulama dari kalangan mazhab Ahlul bait (sa) sepakat bahwa ayat ini diturunkan untuk menegaskan hak Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa), yaitu perintah bershalawat kepada mereka dan cara bershalawat. Ulama Ahlussunnah juga sepakat kecuali hanya beberapa penulis.

Cara bershalawat

Dalam shahih Bukhari, kitab doa, bab bershalawat kepada Nabi saw:

Abdurrahman bin Abi Layli berkata: Ka’b bin Ujrah menemui aku lalu berkata: Tidakkah kamu diberi hadiah? Nabi saw datang kepada kami, lalu kami berkata: Ya Rasulallah, engkau telah mengajari kami cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: Kalian ucapkan:

اللهمّ صلِّ على محمّد وعلى آل محمّد، كما صلّيت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللّهمّ بارك على محمّد وعلى آل محمّد، كما باركت على إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Dalam Shihih Bukhari, kitab tafsir, bab ayat ini:
Abu Said Al-Khudri berkata, kami berkata: Ya Rasulallah, ini adalah cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: kalian ucapkan:

اللّهمّ صلّ على محمّد عبدك ورسولك كما صلّيت على آل إبراهيم، وبارك على محمّد 
وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu sebagaimana Engkau sampaikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim.

Shahih Muslim, kitab shalawat kepada Nabi saw sesudah tasyahhud:

Abu Mas’ud Al-Anshari berkata: Rasulullah saw pernah mendatangi kami ketika kami berada di majlis Sa’d bin Ubadah. Kemudian Basyir bin Sa’d berkata kepadanya: Allah Azza wa Jalla memerintahkan pada kami agar bershalawat kepadamu ya Rasulallah, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu? Lalu beliau diam sepertinya beliau menghendaki kami tidak bertanya tentang hal itu. Kemudian beliau bersabda: Kalian ucapkan:

اللّهم صلّ على محمّد وعلى آل محمّد كما صليت على آل إبراهم، وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميدٌ مجيد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi keluarga Ibrahim di alam semesta, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Sunan An-Nasa’i 1/190, bab 52, hadis ke 1289:

Musa bin Thalhah dari ayahnya, ia berkata: kami berkata, ya Rasulallah, bagaimana cara bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: Kalian ucapkan:
اللّهمّ صلِّ على محمّد وعلى آل محمّد كما صلّيت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد ، وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia; berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Sunan An-Nasa’i 1: 190, bab 52, hadis ke 1291:
Musa bin Thalhah berkata, aku bertanya kepada Zaid bin Kharijah, ia berkata, aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw. Kemudian beliau bersabda: Bershalawatlah kalian kepadaku dan bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdoa, dan kalian ucapkan:
اللّهم صلِّ على محمّد وعلى آل محمّد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Shahih Ibnu Majah 65, kitab shalat, bab shalawat kepada Nabi saw, hadis ke 906:
Abdullah bin Mas’ud berkata: Jika kalian bershalawat kepada Rasulullah saw, hendaknya kalian memperbaiki shalawat kepadanya, karena kalian tidak tahu kalau shalawat itu hukumnya wajib. Lalu dikatakan kepadanya: ajarkan kepada kami (tentang cara bershalawat). Ia berkata: kalian ucapkan:
اللهم اجعل صلاتك ورحمتك وبركاتك على سيد المرسلين. اللّهم صلّ على محمّد وعلى آل محمّد كما صلّيت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد ، اللهم بارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah, curahkan shalawat-Mu, rahmat-Mu dan keberkahan-Mu kepada penghulu para Rasul. Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Fathul Bari 13: 441, kitab doa, bab 32, hadis ke 6358:
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang shalawat ini, pada hari kiamat aku akan menjadi saksi baginya dan memberi syafaat padanya:
اللهم صل على محمّد وعلى آل محمّد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم ، وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم ، وترحم على محمّد وعلى آل محمّد كما ترحمت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sayangi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau sayangi Ibrahim dan keluarga Ibrahim.

Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i meriwayatkan dalam Musnadnya:
Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami bershalawat kepadamu? Nabi saw menjawab: kalian ucapkan:
اللّهم صل على محمد وآل محمد كما صليت على ابراهيم وبارك على محمد وآل محمد كما باركت على ابراهيم وآل ابراهيم، ثم تسلمون علي
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, dan berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim; kemudian ucapkan salam kepadaku. (Musnad, jilid 2, halaman 97).
Ash-Sha’iqul Muhriqah, hlm 144:

Ibnu Hajar meriwayatkan bahwa Ka’b bin Ujrah berkata: ketika ayat ini turun kami bertanya kepada Rasulullah saw: Ya Rasulallah, kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, tapi bagaimana cara bershalawat kepadamu. Nabi saw menjawab: kalian ucapkan:
اللّهم صل على محمد وآل محمد
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Kemudian beliau bersabda: Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan shalawat yang batra’ (puntung). Lalu para sahabat bertanya: Apa shalawat yang batra’ itu. Beliau menjawab: Kalian hanya mengucapkan:
اللّهم صل على محمد
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad. Tetapi, hendaknya kalian mengucapkan:
اللّهم صل على محمد وآل محمد
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Dalam tafsirnya Al-Qurthubi menyebutkan beberapa riwayat bahwa ayat ini adalah keharusan menyertakan Ahlul bait ketika bershalawat kepada Nabi saw. (Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an 14: 233 dan 234).

Ibnul Arabi Al-Andalusi Al-Maliki juga menyebutkan beberapa riwayat bahwa ayat ini diturunkan untuk menegaskan hak Nabi saw dan keluarganya yang suci (sa). (Ahkamul Qur’an 2: 84).

Jabir (ra) berkata: Sekiranya kamu melakukan shalat dan tidak bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, maka aku tidak melihat shalatnya diterima. (Dzakhairul Uqba:19).

Al-Qadhi ‘Iyadh meriwayatkan dalam Asy-Syifa’, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang melakukan shalat dan dalam shalatnya tidak membaca shalawat kepadaku dan Ahlul baitku, maka shalatnya tidak diterima.” (Al-Ghadir 2: 303).

Ibnu Hajar mengatakatan: Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang melakukan shalat dan dalam shalatnya tidak membaca shalawat kepadaku dan Ahlul baitku, maka shalatnya tidak diterima.” (Ash-Shawaiqul Muhriqah: 139).

Ar-Razi mengatakan: Doa untuk keluarga Nabi saw menunjukkan keagungan kedudukan mereka, karena doa ini ditempatkan di akhir Tasyahhud dalam shalat, yaitu: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa âli Muhammad, warham Muhammadan wa âla Muhammad (Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan sayangi Muhammad dan keluarga Muhammad). Pengagungan ini tidak akan didapatkan pada selain keluarga Muhammad. Hal ini menunjukkan bahwa mencintai keluarga Muhammad adalah wajib. Keagungan kedudukan Ahlul bait Nabi saw terdapat dalam lima hal: Tasyahhud dalam shalat, salam, kesucian, diharamkannya sedekah bagi mereka, dan kewajiban mencintai mereka. (Tafsir Ar-Razi 7: 391).

Hadis-hadis tersebut dan yang semakna juga terdapat dalam:

1. Shahih Bukhari, jilid 6, halaman 12.
2. Asbabun Nuzul, Al-Wahidi, halaman 271.
3. Ma’alim At-Tanzil, Al-Baghawi, catatan pinggir Tafsir Al-Khazin, jilid 5, halaman 225.
4. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 148.
5. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 25, halaman 226.
6. Al-Hafizh Abu Na’im Al-Isfahani, Akhbar Isfahan, jilid 1, halaman 131.
7. Al-Hafizh Abu Bakar Al-Khathib, Tarikh Baghdad, jilid 6, halaman 216.
8. Ibnu Abd Al-Birr Al-Andalusi, Tajrid At-Tamhid, halaman 185.
9. Tafsir Ruh Al-Ma’ani, Al-Alusi, jilid 22, halaman 32.
10. Dzakhairul Uqba, Muhibuddin Ath-Thabari, halaman 19.
11. Riyadhush Shalihin, An-Nawawi, halaman 455.
12. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, halaman 506.
13. Tafsir Ath-Thabari, jilid 22, halaman 27.
14. Tafsir Al-Khazin, jilid 5, halaman 226.
15. Ad-Durrul Mantsur, As-Suyuthi, jilid 5, halaman 215.
16. Fathul Qadir, Asy-Syaukani, jilid 4, halaman 293.

Shalat tidak akan diterima tanpa shalawat

Sunan Al-Baihaqi 2: 379, kitab shalat, bab 471, hadis 3968:
Abu Mas’ud berkata: Sekiranya aku melakukan shalat tanpa bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, niscaya aku memandang shalatku tidak sempurna.

Dalam Sunan Ad-Daruquthni 136, kitab shalat, bab kewajiban shalawat dalam tasyahhud, hadis ke 6:
Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rasululah saw bersabda:
من صلى صلاة لم يصل فيها عليّ ولا على أهل بيتي لم تقبل منه
“Barangsiapa yang melakukan shalat, dan di dalamnya tidak bershalawat kepada ku dan Ahlul baitku, maka shalatnya tidak diterima.”

Dalam Dzakhair Al-‘Uqba 19, bab Fadhail Ahlul bait (sa):
Jabir berkata: Sekiranya aku melakukan shalat, dan di dalamnya aku tidak bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, niscaya aku memandang shalatku tidak diterima.

Dalam Syarah Al-Mawahib halaman 7:
Imam Syafi’i berkata:
يا آل بيت رسول الله حبكم فرض من الله في القرآن أنزله
كفا كم من عظيم القدر انكم من لم يصل عليكم لا صلاة له
Wahai Ahlul bait Rasulullah,
mencintaimu diwajibkan oleh Allah dalam Al-Qur’an yang diturunkan
 
Cukuplah keagungan kedudukanmu

orang yang tidak bershalawat kepadamu (dalam shalatnya)
shalatnya tidak sah.
Perkataan Imam Syafi’i tersebut juga terdapat dalam:

1. Musnad Ahmad, jilid 6 halaman 323.
2. Ash-Shawaiqul Muhriqah, Ibnu hajar, halaman 88.
3. Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn Al-Abshar, Asy-Syablanji, halaman 104, bab 2 manaqib Al-Hasan dan Al-Husayn.

Doa tidak akan diijabah tanpa shalawat
Dalam Kanzul Ummal 1: 173, pasal 2 Adab Doa:
Tidak ada suatupun doa kecuali ada hijab (penghalang) antara doa itu dan Allah sehingga dibacakan shalawat. Ketika shalawat dibacakan, maka robeklah hijab itu dan sampailah doa itu kepada Allah swt. Dan jika tidak dibacakan shalawat, maka kembalilah doa itu.
Pernyataan ini diriwayatkan oleh Ad-daylami dari Ali bin Abi Thalib (sa).

Dalam Ash-Shawaiq Al-Muhriqah haaman 88:

Ad-Daylami meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
الدعاء محجوب حتى يُصلّى على محمّد وأهل بيته ، اللّهم صلِّ على محمّد وآله
“Doa itu akan terhijabi sehingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan Ahlul baitnya, yaitu: Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.”

Dalam Faydh Al-Qadhir 5: 19, hadis ke 6303:

Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
كل دعاء محجوب حتى يُصلّى على محمّد وآل محمّد
“Semua doa akan terhalangi sehingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.”

Al-Haitsami mengatakan: Tokoh-tokoh hadis tersebut dapat dipercaya.
 
Al-Muttaqi Al-Hindi juga menyebutkan dalam kitabnya Kanzul Ummal 1/314, mengutip dari Ubaidillah bin Abi Hafsh 

Al-‘Aysyi. Abdul Qadir Ar-Rahawi menyebutkan dalam Al-Arbain, Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, Al-Baihaqi dalam Syu’b Al-Iman.

Dalam Faydh Al-Qadir 3: 543:

Abu Syaikh meriwayatkan Ali bin Abi Thalib (sa):
الدعاء محجوب عن الله حتى يصلّى على محمّد وأهل بيته
“Doa itu akan terhijabi dari Allah sehingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan Ahlul baitnya.”

Hadis ini juga diriwayatkan Al-Baihaqi dari Asy-Sya’b, At-Tirmidzi dari Ibnu Umar.

Dalam Kanzul Ummal 1: 181:

Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib (sa): Jika disedihkan oleh suatu persoalan, maka bacalah:
اللّهم احرسني بعينك التي لا تنام، واكنفني بكنفك الذي لا يرام. أسألك أن تُصلّي على محمّد وعلى آل محمّد، وبك أدرأ في نحور الأعداء والجبابرة
“Ya Allah, jagalah daku dengan mata-Mu yang tak pernah tidur, dan jagalah daku dengan benteng-Mu yang tak pernah hancur. Aku bermohon pada-Mu sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dengan-Mu aku berlindung dari permusuhan musuh-musuhku dan orang-orang yang sombong.”

Ali, Fatimah, Hasan dan Husein (sa) adalah keluarga Nabi saw

Dalam Musnad Ahmad 6: 324, hadis ke 26206:

Ummu Salam berkata bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Fatimah (sa): “Bawalah kepadaku suamimu dan kedua anakmu.” Kemudian Fatimah (sa) bersama mereka datang kepada Nabi saw. Lalu beliau memayungi mereka dengan kain kisa’ dan meletakkan tangannya pada mereka, lalu bersabda:
اللّهم إن هؤلاء آل محمّد ، فاجعل صلواتك وبركاتك على محمّد وعلى آل محمّد إنّك حميد مجيد
“Ya Allah, sesungguhnya mereka adalah keluarga Muhammad, curahkan shalawat-Mu dan keberkahan-Mu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.”

Ummu Salamah berkata: Kemudian aku mengangkat kain kisa’ itu untuk berkumpul bersama mereka, kemudian Nabi saw menarik kain kisa’ itu (melarang masuk ke dalam kain kisa’) dan bersabda: “Engkau adalah orang yang baik.”

Dalam Mustadrak Al-Hakim 3: 147, kitab ma’rifah Shahabah:

Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib berkata: Ketika Rasulullah saw melihat rahmat Allah turun, beliau bersabda: “Datangkan padaku, datangkan padaku.” Shafiyah bertanya: Siapa yang Rasulallah? Beliau menjawab: “Ahlul baitku, yaitu Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husayn.” Lalu mereka datang kepada Nabi saw, kemudian beliau memayungi mereka dengan kain kisa’, kemudian berdoa dengan mengangkat tangannya:
اللّهمّ هؤلاء آلي ، فصلِّ على محمّد وعلى آل محمّد
“Ya Allah, mereka adalah keluargaku, curahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.” Kemudian Allah Azza wa jalla menurunkan surat Al-Ahzab: 33.
 
Al-Hakim mengatakan hadis ini shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim.

Hadis ini dan yang semakna juga terdapat dalam:
1. Kanzul Ummal, Al-Muttaqi Al-Hindi, jilid 7 halaman 103, bab Fadhail Ahlul bait, hadis ke 37629.

2. Musykil Al-Atsar, Ath-Thahawi, jilid 1 halaman 334.
3. Tafsir Ad-Durrul Mantsur, tentang surat Al-Ahzab: 33.
4. Musnad Ahmad, jilid 6 halaman 296.
5. Majma’ Az-Zawaid, Al-Haitsami, jilid 9 halaman 167, bab keutamaan Ahlul bait (sa).

Larangan shalawat batra’ (terputus)

Shalawat ba’tra’ adalah shalawat yang tidak menyertakan keluarga Nabi saw dalam bershalawat kepadanya.

Dalam Ash-Shawaiq Al-Muhriqah 87, bab 11:
Ibnu Hajar berkata bahwa Nabi saw bersabda: “Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan shalawat batra’.” Kemudian sahabat bertanya: Apakah shalawat batra’ itu? Nabi saw menjawab: Kalian hanya mengucapkan:
اللّهم صلِّ على محمّد
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad. Tetapi hendaknya kalian mengucapkan:
اللّهم صلّ على محمّد وعلى آل محمّد
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Disini terdapat hal yang mengherankan: Mengapa umumnya ummat Islam bershalawat kepada Nabi saw dengan shalawat batra’ yaitu Shallallahu ‘alayhi wa sallam (semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada Muhammad). Padahal para ulama dan para imam ahli hadis dari Ahlussunnah telah meriwayatkan hadis-hadis bahwa doa itu tidak diijabah tanpa bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, shalat tidak diterima tanpa bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, cara bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan hadis-hadis bahwa Nabi saw melarang bershalawat dengan shalawat batra’ (yang terputus).
Wassalam
Dikutip dari blog Syamsuri Rifai