Showing posts with label Studi Kritis Sirah Nabawiyah versi Jalaluddin Rakhmat (2); KANG JALAL. Show all posts
Showing posts with label Studi Kritis Sirah Nabawiyah versi Jalaluddin Rakhmat (2); KANG JALAL. Show all posts

Tuesday, October 11, 2011

Studi Kritis Sirah Nabawiyah versi Jalaluddin Rakhmat (1)


16 09 2010
Beberapa hari yang lalu saya membuka arsip sebuah milis tempat saya berdiskusi. Hal ini bermula karena pekan lalu sebelum Idul Fitri, email saya tiadk bisa dibuka, bahkan ada yang memakainya tanpa saya ketahui. Jadi, tiga hari kemarin saya bikin beberapa email baru. Kemudian pada Rabu kemarin, dicoba lagi dan dimasukkan beberapa kali paswordnya, alhamdulillah terbuka lagi.

Nah, pada arsip milis itu saya mencari komentar tanggapan pada postingan saya yang lama. Ternyata, pada postingan studi kritis sirah nabawiyah, banyak muncul tanggapan. Ustadz Jalaluddin Rakhmat pun memberikan komentar atas beberapa komentar postingan yang dalam tulisan itu saya menyebut-menybut beliau. Kemudian ditanggapi oleh mereka yang kurang suka pada pendapat Ustadz Jalaluddin Rakhmat, khususnya tentang metode studi kritis untuk sejarah Nabi Muhammad saw.

Pada postingan itu, saya sedikit meresensi studi kritis versi Jalaluddin Rakhmat yang tertuang dalam buku “Al-Mushthafa” yang diterbitkan oleh salah satu penerbit di Bandung. Dala buku tersebut, Ustadz Jalal—penggilan saya untuk Prof. Dr.Jalaluddin Rakhmat—secara khusus menulis kritik terhadap hadits-hadits yang dijadikan bahan penulisan Sirah Nabawiyah dan hal-hal yang berkaitan dengan sosok Muhammad dan nubuwwah Rasulullah saw.

Menurut Ustadz Jalal, sejarah Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam sekarang sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa. Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw.

Metode Studi Kritis
Dalam upaya menguji kebenaran sejarah Nabi Muhammad saw, Ustadz Jalal menggunakan tiga tahap (yang saya sebut metode studi kritis versi Jalaluddin Rakhmat). 

Pertama, mengujinya dengan doktrin al-Quran bahwa Muhammad saw adalah teladan yang baik dan berakhlak mulia. Karena itu, Ustadz Jalal menolak hadits atau fakta sejarah yang menggambarkan Nabi Muhammad saw pernah keliru dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi.
Begitu pun tentang peristiwa mendapatkan wahyu yang sampai membuat Muhammad saw ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya (Khadijah) atau bertelanjang dada, bermesraan di depan umum, hendak bunuh diri dan lainnya, oleh Ustadz Jalal ditolak kebenarannya karena telah merendahkan derajat Nabi Muhammad saw. Sangat tidak mungkin manusia yang disebut berakhlak al-quran melakuk perilaku tidak terpuji dan seperti orang bodoh. 

Kedua, mempertemukan riwayat Nabi Muhammad saw dengan pesan Allah dalam al-Quran. Jika hadits atau sunah itu sesuai dengan al-Quran maka bisa diterima. Apabila tidak, wajib ditolak. 

Ketiga, mengujinya dengan kritik sanad (orang yang mengabarkan) dan matan hadits
(isi/materi) dengan tambahan analisa aliran politik dari periwayat hadits.

Tahapan studi kritis yang dikemukakan Ustadz Jalal dalam buku “Al-Mushthafa” yang dipraktikan juga dalam buku tersebut untuk menganalisa beberapa hadits, saya sebut metode kritik sejarah versi Jalaluddin Rakhmat, khususnya untuk kajian Sirah Nabawiyah. 

Kemudian muncul beberapa tanggapan, termasuk Ustadz Jalal yang menanggapi komentar atas postingan saya. Memang ada yang menolak metode tersebut. Alasannya: bukan soal ilmiah tidaknya, tetapi lebih melihat mazhab yang melekat pada sosok Ustadz Jalal. 

Saya sendiri pada waktu munculnya tanggapan dari mereka tidak mengetahui karena email saya tidak bisa dibuka. Baru tahu ketika email tersebut bisa diaktifkan lagi dan sudah tidak panas lagi.

Studi Kritis Sirah Nabawiyah versi Jalaluddin Rakhmat (2)


16 09 2010
Memurnikan Ajaran Islam
Dari berbagai komentar, yang menarik adalah yang disampaikan oleh Oman Abdurahman. Kang Oman menulis:
“Untuk sejarah Sirah Nabawiyyah saya setuju dengan metode Kang Jalal yang ternyata cukup ampuh. Banyak pertanyaan sekitar muatan hadist yang saya rasakan mengganggu dapat terpecahkan dengan solusi hasil dari metode tersebut. 

“Selain dari itu, metode tersebut membuat kita lebih kritis dan mengantarkan pada temuan-temuan yang terkadang mencengangkan, di samping juga lebih memurnikan ajaran Islam dari takhayul, mitos, dan rekaan-rekaan.

“Asumsi bahwa Nabi Muhammad saw sebagai uswatun hasanah sangat ampuh dalam menjawab keraguan-raguan terhadap muatan beberapa hadist yang dikenal selama ini. Sebagai contoh, hadist tentang cara menanam kurma yang mashur sebagai asal-usul atau asbabun nujul hadist yang terkenal “Antum ‘alamu bi umuri dunyaukum” yang membawa konsekuensi pemisahan antara urusan dunia dengan urusan akhirat, dengan metode studi kritis atas hadist (Sirah Nabawiyah) patut dipertanyakan kembali. Masa Rasulullah saw yang mulia yang dalam kehidupan sehari-harinya aktif dalam urusan sosial dan urusan hidup sehari-hari (berdagang, ikut berperang sejak kecil mempertahankan kabilah) tidak mengenal cara menama kurma? Akan sangat mengurangi kemuliaannya apabila seorang Rasul penutup para utusan Allah tidak sadar akan ucapannya yang sangat besar implikasinya itu.

“Demikian pula hadist tentang asababun nuzul turunnya surah Al Falaq dan An Naas yang bertentangan dengan tingkat kesadaran spiritual Nabi saw (sehingga tidak mungkin seorang Nabi saw terkena sihir. Bila hendak menjadikan surah tersebut untuk mencegah sihir dan sejenisnya, Alloh tidak perlu merendahkan derajat Nabi saw – sampai harus terkena sihir segala macam- sebagai asbabun nuzulnya). Banyak lagi peristiwa yang diberitakan sejumlah hadist yang patut kita kritisi. Semua itu tidak bermakna kita harus menjadi atau mendapat label sebagai ‘inkar sunnah’.

Komentar Kang Oman tersebut mengingatkan saya pada sesepuh Jawa Barat Tjetje Hidayat Padmadinata dalam acara diskusi buku “Api Sejarah” di Redaksi Pikiran Rakyat Bandung. Tjetje Hidayat Padmadinata menerangkan, sekarang ini era reformasi sehingga setiap orang bebas untuk berpendapat dan menyampaikan pemikirannya asal berdasarkan dalil yang jelas. Mungkin dalam hal ini didasarkan pada kajian ilmiah yang kebenarannya menjadi standar dunia. Karena itu, label “inkar sunnah” bagi yang mengkritisi sunnah Nabi atau sirah nabawiyah tidak perlu dihiraukan. 

Saya kira munculnya label “inkar sunnah” lahir dari mereka yang tidak mampu untuk “bertarung” secara ilmiah dalam membuktikan kebenarannya.


Abdul Karim Souroush
Saya juga jadi teringat pada Abdul Karim Souroush bahwa pemahaman agama oleh sebagian umat Islam telah dijadikan sakral dan yang sakral berupa “nash-nash” malah ditinggalkan. Dari hal inilah tampaknya kita perlu membedakan antara agama sebagai kebenaran dan agama sebagai identitas yang lahir dari berbagai tafsir atau pemahaman dari “nash” agama.

Saya kira Kang Oman lebih tahu tentang sejarah munculnya aliran yang disebut inkar sunnah di Indonesia kemudian merebak di Malaysia. Pada kajian kali ini, aliran tersebut, saya yakin tidak akan disematkan oleh jamaah yang cerdas dan tercerahkan pada mereka yang bersikap kritis dan hendak ‘membersihkan’ berbagai kotoran yang menodai sosok Baginda Al-Mushthafa Nabi Muhammad saw.