Thursday, June 16, 2011

HURAIAN HADIS TSAQALAIN


Ibn Hajar meriwayatkan  dalam Shawâ’iq-nya hadis tsaqalain ini dengan jalur riwayat yang banyak, dan pada Bab Kesebelas dalam kitab tersebut, ia berkata, “Ketahuilah! Sesungguhnya hadis yang memerintahkan (kaum Muslim) berpegang teguh pada Kitabullah dan Ahlulbait Nabi Saw itu mempunyai jalur riwayat yang banyak, ia diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh sahabat Nabi Saw. Dalarn suatu riwayat, ia mengucapkan hadisnya tersebut pada waktu Haji Wada’ di ‘Arafah; dalam riwayat lain, ia sabdakan di Madinah, yaitu ketika ia sakit parah dan di kamarnya yang ketika itu para sahabatnya berkumpul; dalam riwayat lain, ia mengucapkannya di Ghadir Khum; dan pada riwayat yang lain, beliau mengucapkannya ketika ia  berkhutbah sepulangnya ia dari Thaif.

  1. Para Khalifah Itu Adalah Para Imam Ahlul Bait
Sesungguhnya kata “khulafa” di dalam hadis ini tidaklah dikhususkan untuk satu golongan tertentu, dan penafskan kalangan Ahlus Sunnah bahwa para khalifah itu adalah para khalifah yang empat adalah sebuah pentakwilan yang tanpa dalil. Karena pernyataan (proposisi) yang dikemukakan lebih luas dari klaim, dan bahkan bukti-bukti mengatakan sebaliknya. Yaitu bahwa yang dimaksud dengan para khalifah rasyidin ialah para Imam dua belas dari Ahlul Bait as. Disebabkan dalil-dalil dan riwayat-riwayat yang pasti yang menetapkan bahwa para khalifah rasyidin sepeninggal Rasulullah saw itu berjumlah dua belas orang khalifah. Al-Qanduzi al-Hanafi telah meriwayatkan di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah, “Yahya bin Hasan telah menyebutkan di dalam kitab al-’Umdah melalui dua puluh jalan bahwa para khalifah sepeninggal Rasulullah saw itu berjumlah dua belas orang khalifah, dan seluruhnya dari bangsa Quraisy. Dan begitu juga di dalam Sahih Bukhari melalui tiga jalan, di dalam Sahih Muslim melalui sembilan jalan, di dalam Sunan Abu Dawud melalui tigajalan, di dalam Sunan Turmudzi melalui satu jalan, dan di dalam al-Hamidi melalui tiga jalan. Di dalam Sahih Bukhari berasal dari Jabir yang mengatakan, “Rasulullah saw telah bersabda, ‘Akan muncul sepeninggalku dua belas orang amir’, kemudian Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang saya tidak mendengarnya. Lalu saya menanyakannya kepada ayah saya, ‘Apa yang telah dikatakannya?’ Ayah saya men-jawab, ‘Semuanya dari bangsa Quraisy.’” Adapun di dalam Sahih Muslim berasal dari ‘Amir bin Sa’ad yang berkata, “Saya menulis surat kepada Ibnu Samrah, ‘Beritahukan kepada saya sesuatu yang telah Anda dengar dari Rasulullah saw.’ Lalu Ibnu Samrah menulis kepada saya, ‘Saya mendengar Rasulullah saw bersabda pada hari Jumat sore pada saat dirajamnya al-Aslami, ‘Agama ini akan tetap tegak berdiri hingga datangnya hari kiamat dan munculnya dua belas orang khalifah yang kesemuanya berasal dari bangsa Quraisy.”

Setelah ini tidak ada lagi orang yang bisa berhujjah dengan hadis “Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin..” dengan menerapkannya kepada para khalifah yang empat. Dikarenakan riwayat-riwayat yang mutawatir yang mencapai dua puluh jalan, yang kesemuanya dengan jelas mengatakan khalifah itu ada dua belas orang; dan kita tidak akan menemukan penafsiran bagi riwayat-riwayat ini pada dunia nyata kecuali pada para Imam mazhab Ahlul Bait yang dua belas. Dengan demikian, Syi’ah adalah satu-satunya kelompok yang merupakan personifikasi dari makna hadis-hadis ini, dikarenakan penerimaan mereka kepada kepemimpinan Imam Ali as, kemudian Imam Hasan dan Imam Husain, dan setelah itu sembilan orang Imam dari keturunan Imam Husain, sehingga jumlah mereka seluruhnya berjumlah dua belas orang Imam.

Meskipun kata “Quraisy” yang terdapat di dalam riwayat-riwayat ini bersifat mutlak dan tidak dibatasi, namun dengan riwayat-riwayat dan petunjuk-petunjuk yang lain menjadi jelas bahwa yang dimaksud adalah Ahlul Bait. Dan itu disebabkan adanya banyak riwayat yang menunjukkan kepada kepemimpinan Ahlul Bait. Insya Allah, kita akan memaparkan sebagiannya pada pembahasan-pembahasan yang akan datang.

Pada kesempatan ini saya cukupkan Anda dengan riwayat yang berbunyi, “Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku.”

Agama ini akan tetap tegak berdiri dengan kepemimpinan dua belas orang khalifah, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh riwayat-riwayat sebelumnya. Pada saat yang sama terdapat riwayat-riwayat yang menekankan keseiringan Ahlul Bait dengan Kitab Allah. Ini merupakan sebaik-baiknya dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan “dua belas orang khalifah” itu adalah para Imam dari kalangan Ahlul Bait.

Adapun ungkapan “semuanya berasal dari Quraisy” itu tidak lain merupakan pemalsuan di dalam hadis. Ungkapan ini mereka letakkan supaya petunjuk yang jelas akan wajibnya mengikuti Ahlul Bait menjadi kabur. Karena sesungguhnya ungkapan yang benar ialah “semuanya berasal dari Bani Hasyim”, namun tangan-tangan jahat senantiasa mencari keutamaan-keutamaan Ahlul Bait, untuk kemudian mereka sembunyikan semampu mereka, atau mengganti dan merubah sesuatu dari mereka yang dapat diselewengkan.

Riwayat ini merupakan salah satu korban daripada pengubahan. Namun, Allah SWT menampakkan cahaya-Nya. Al-Qanduzi al-Hanafi sendiri telah menukilnya di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah. Pada mawaddah kesepuluh dari kitab Mawaddah al-Qurba, bagi Sayyid Ali al-Hamadani —semoga Allah SWT mensucikan jalannya dan mencurahkan keberkahannya kepada kita— disebut-kan, “Dari Abdul Malik bin ‘Umair, dari Jabir bin Samrah yang ber-kata, ‘Saya pernah bersama ayah saya berada di sisi Rasulullah saw, dan ketika itu Rasulullah saw bersabda, ‘Sepeninggalku akan ada dua belas orang khalifah.’ Kemudian Rasulullah saw menyamarkan suar-anya. Lalu saya bertanya kepada ayah saya, ‘Perkataan apa yang disamarkan olehnya?’ Ayah saya menjawab, ‘Rasulullah saw berkata, ‘Semua berasal dari Bani Hasyim.”

Bahkan Al-Qanduzi meriwayatkan banyak hadis lain yang lebih jelas dari hadis-hadis di atas. Al-Qanduzi telah meriwayat dari ‘Abayah bin Rab’i, dari Jabir yang mengatakan, “Rasulullah saw telah bersabda, ‘Saya adalah penghulu para nabi dan Ali adalah penghulu para washi, dan sesungguhnya para washi sepeninggalku berjumlah dua belas orang. Yang pertama dari mereka adalah Ali, dan yang terakhir dari mereka adalah al-Qa’im al-Mahdi.”‘

Setelah menyebutkan hadis-hadis ini, Al-Qanduzi al-Hanafi tidak menemukan apa-apa selain harus mengakui dan mengatakan, “Sesungguhnya hadis-hadis yang menunjukkan bahwa para khalifah sesudah Rasulullah saw sebanyak dua belas orang khalifah, telah banyak dikenal dari banyak jalan, dan dengan penjelasan jaman dan pengenalan alam dan tempat dapat diketahui bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah saw dari hadis ini ialah para Imam dua belas dari Ahlul Bait Rasulullah saw. Karena tidak mungkin kita dapat menerap-kannya pada raja-raja Bani Umayyah, dikarenakan jumlah mereka yang lebih dari dua belas orang dan dikarenakan kezaliman mereka yang amat keji, kecuali Umar bin Abdul Aziz, dan dikarenakan mereka bukan dari Bani Hasyim. Karena Rasulullah saw telah bersabda, ‘Seluruhnya dari Bani Hasyim’, di dalam riwayat Abdul Malik, dari Jabir. Dan begitu juga penyamaran suara yang dilakukan oleh Rasulullah saw di dalam perkataan ini, memperkuat riwayat ini. Dikarenakan mereka tidak menyambut baik kekhilafahan Bani Hasyim. Kita juga tidak bisa menerapkannya kepada raja-raja Bani ‘Abbas, disebabkan jumlah mereka yang lebih banyak dibandingkan jumlah yang disebutkan, dan juga dikarenakan mereka kurang menjaga ayat “Katakanlah, ‘Aku tidak meminta upah apapun kepadamu atas risalah yang aku sampaikan kecuali kecintaan kepada keluargaku’” dan hadis Kisa`. Maka mau tidak mau hadis ini harus diterapkan kepada para Imam dua belas dari Ahlul Bait Rasulullah saw. Karena mereka adalah manusia yang paling berilmu pada jamannya, paling mulia, paling warak, paling bertakwa, paling tinggi dari sisi nasab, paling utama dari sisi kedudukan dan paling mulia di sisi Allah SWT. Ilmu mereka berasal dari bapak-bapak mereka, dan terus bersambung kepada datuk mereka Rasulullah saw. Maka penerapan hadis “Kamu harus berpegang teguh pada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku” kepada para Imam Ahlul Bait jauh lebih dekat dibandingkan menerapkannya kepada para khalifah yang empat. Karena sudah jelas bahwa para khalifah sepeninggal Rasulullah saw itu berjumlah dua belas orang khalifah, yang kesemuanya berasal dari Bani Hasyim.

Ahlul Bait, Jalan Untuk Berpegang Kepada Al-Kitab Dan Sunnah.
Adapun hadis “Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan sunahku” tidak bertentangan dengan hadis “Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku”. Dua hal baru bisa dikatakan ta’arud (bertentangan) manakala pertentangan yang terjadi di antara keduanya sedemikian rupa sehingga mustahil untuk dapat dipertemukan. Padahal kedua hadis di atas dapat diper-temukan dan sama sekali tidak ada pertentangan di antara keduanya. Ibnu Hajar al-Juhdhi telah menyakinkan kita tentang mungkinnya menggabungkan kedua hadis di atas. Dia menyebutkan di dalam kitab ash-Shawa’iq-nya, “Rasulullah saw bersabda di dalam hadisnya, ‘Sesungguhnya aku meninggalkan padamu dua perkara yang jika kamu mengikuti keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat. Yaitu Kitab Allah dan Ahlul Baitku.’ Thabrani menambahkan tentang Ahlul Bait, ‘Janganlah kamu mendahului mereka nanti kamu binasa, janganlah kamu tertinggal dari mereka nanti kamu celaka, dan janganlah kamu mengajari mereka karena sesungguhnya mereka lebih tahu dari kamu.’ Pada sebuah riwayat disebutkan bahwa ‘Kitab Allah dan sunahku’ merupakan maksud dari hadis-hadis yang hanya dibatasi pada Kitab Allah, karena sunnah merupakan penjelas bagi Kitab Allah, sehingga penyebutan Kitab Allah saja sudah mencukupi. Alhasil, sesungguhnya anjuran jatuh kepada berpegang teguh kepada Kitab Allah, sunah-sunnah dan manusia-manusia yang mengetahui keduanya dari kalangan Ahlul Bait. Dari keterangan hadis-hadis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ketiga perkara tersebut akan tetap ada hingga hari kiamat.”

Dengan ungkapan yang lebih teliti, sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Ibnu Hajar tersebut ingin mengatakan bahwa peritah berpegang teguh kepada sunah tidak dapat dilakukan kecuali melalui jalan para pemeliharanya, yaitu Ahlul Bait. Karena Ahlul Bait pasti lebih tahu dengan apa yang ada di dalam rumah. Sebagaimana yang telah ditetapkan oleh riwayat-riwayat dan telah disaksikan oleh sejarah. Sehingga dengan demikian, sesungguhnya anjuran yang berasal dari Rasulullah saw telah jatuh pada berpegang teguh kepada Kitab Allah dan Ahlul Bait; dan berpegang teguh kepada sunah sudah merupakan keharusan dari berpegang teguh kepada Ahlul Bait.



Hadis tsaqalain adalah salah satu hadis yang tergolong mutawatir dan makruf di kalangan fariqain, Sunni-Syiah. Bahwa wajib mengikut kepada Ahlulbait Rasulullah tercantum jelas dan tegas dalam hadis ini. Kami persembahkan hadis ini kepada para mereka yang berpikir kritis dan dahaga terhadap realitas sebenarnya. Selamat mengkaji!


Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian tsaqalain (dua peninggalan yang sangat berharga). yaitu: Kitabullah (al-Quran) dan keturunanku Ahlulbaitku, selama kalian berpegang teguh kepada keduanya nisacaya kalian tidak akan sesat selamanya.” 

Hadis di atas sangat terkenal sehingga tidak perlu lagi disebutkan sumbernya karena ia diriwayatkan oleh dua golongan, Ahlus Sunnah dan Syi’ah, dan keduanya pun mengakui kesahihan hadis tersebut. Hadis ini dikenal oleh kalangan khusus dan umum, bahkan dihafal oleh anak kecil, orang besar, alim, dan orang bodoh sekali pun.
Akan tetapi, para perawi berselisih dalam redaksi hadis yang mulia ini, namun perselisihan ini tidak mengubah makna dan substansi hadis tersebut.

Perbedaan ini membuktikan bahwa Rasulullah Saw mengucapkan sabdanya tersebut dalam beberapa tempat dan kesempatan, sebagaimana banyaknya perawi hadis tersebut menunjukkan bahwa beliau mengucapkan sabdanya tersebut dalam beberapa tempat yang berbeda. 

Di antaranya, ketika Nabi Saw melaksanakan Haji Wada’ pada hari Arafah di hadapan kumpulan orang banyak;  dan juga pada hari Ghadir Khum dalam khutbahnya yang terkenal itu; dan di antaranya pula, ketika ia sakit menjelang kewafatannya, yaitu ketika ia berwasiat bagi umatnya.[1]

Kami akan menyebutkan kepadamu wahai pembaca yang budiman, sebagian Imam Ahlus Sunnah yang meriwayatkan hadis tsaqalain tersebut di dalam kitab-kitab sahih mereka, sunan, musnad, tafsir, sejarah, dan lainnya, dengan sanad dan jalur yang beragam agar menambah kejelasan dan ketenangan.

Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Abu Sa’id al-Khudri dari Nabi Saw, ia bersabda, “Sesungguhnya telah dekat bagiku untuk dipanggil (Tuhanku), aku pun akan memenuhi panggilan itu. Dan sesungguhnya aku tinggalkan tsaqalain (dua peninggalan yang sangat berharga) kepada kalian, yaitu: Kitabullah ‘Azza wa Jalla dan keturunanku. Kitabullah adalah tali (Allah) yang terbentang dari langit ke bumi, dan keturunanku Ahlulbaitku. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui telah memberi tahuku bahwa keduanya tidak akan berpisah sehingga keduanya berjumpa denganku di Haudh. Oleh karena itu, perhatikanlah kalian dalam memperlakukan keduanya sepeninggalku. “[2]

Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan dalam sumber yang sama, halaman 26, dari Abu Sa’id al-Khudri hadis yang lain. Demikian juga pada halaman 59, dari Abu Sa’id al-Khudri hadis yang lain.
Ia juga meriwayatkan pada juz keempat, halaman 367, dari Zaid bin Arqam hadis yang lain.

Disebutkan dalam Shahîh Muslim bahwa Nabi Saw bersabda, “Dan aku tinggalkan kepada kalian tsaqalain (dua peninggalan yang berharga), salah satunya adalah Kitabullah (al-Qur’an) yang dalamnya mengandung petunjuk dan cahaya. Ambillah kitabullah itu dan berpegang teguhlah kepadanya,” ia  menganjurkan dengan dorongan yang kuat agar umatnya berpegang teguh kepada Kitabullah. Kemudian ia bersabda, “Dan Ahlulbaitku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlulbaitku.”[3]

Imam Muslim juga menyebutkan hadis yang lain (berkenaan dengan perintah berpegang teguh pada al-Quran dan Ahlulbait) dalam Shahîh-nya,jil. 7, halaman 122.

Al-Muttaqi al-Hindi meriwayatkan dalam Kanzul ‘Ummal[4] hadis yang redaksinya hampir sarna dengan yang diriwayatkan oleh Muslim sebelum ini.

Di dalam Shahîh at-Tirmidzi diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah AI-Anshari yang berkata, “Aku melihat Rasulullah Saw. di dalam Haji Wada’ (Haji Perpisahan) di atas untanya ‘AI-Qushwa’ (nama unta Rasulullah Saw.)’, beliau berkhutbah. Aku mendengar beliau bersabda, “Ayyuhannas, sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian, yang apabila kalian berpegang teguh dengannya, kalian tidak akan tersesat, yaitu: Kitabullah (Al-Quran) dan keturunanku Ahlulbaitku.”[5]

At-Tirmidzi juga menyebutkan di dalam Shahîh-nya dari Zaid bin Arqam bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian, yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku. Salah satunya lebih agung daripada yang lainnya, yaitu: Kitabullah (al-­Quran), ia adalah tali yang terbentang dari langit ke bumi, dan keturunanku Ahlulbaitku. Keduanya (al-Quran dan Ahlulbait) tidak akan pernah berpisah sehingga berjumpa denganku di telaga Haudh. Oleh karena itu, perhatikanlah bagaimana kalian memperlakukan keduanya sepeninggalku.”

At- Tirmidzi berkata setelah meriwayatkan hadis tersebut, “Hadis ini adalah hadis hasan.”

Ath-Thabari meriwayatkan hadis ini di dalam Dzakhâ’irul ‘Uqbâ, halaman 16. AI-Hakim meriwayatkannya dalam al-Mustadrak dari Zaid bin Arqam bahwa Nabi Saw bersabda pada Haji Wada’, “Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian tsaqalain (dua peninggalan yang sangat berharga), yang salah satu dari keduanya lebih besar daripada yang lain: Kitabullah (al-Quran) dan keturunanku. Oleh karena itu, perhatikanlah kalian dalam memperlakukan keduanya sepeninggalku. Sebab, sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga berjumpa denganku di Haudh.”[6]

Al-Hakim juga meriwayatkan hadis ini dalam al-Mustadrak, halaman 148 dan 532, dan setelah menyebutkan hadis tersebut, ia berkata, “Hadis ini sahih sesuai syarat (yang ditetapkan oleh) al-­Bukhari dan Muslim.”

Adz-Dzahabi juga meriwayatkan hadis tersebut dalam Talkhîsh al-Mustadrak. AI-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan hadis tsaqalain ini dalam Yanâbi’ul Mawaddah.

Dan ia juga meriwayatkan, halaman 36, dari Imam ‘Ali ar-­Ridha As sesungguhnya ia berkata tentang al-’itrah (keturunan Rasulullah Saw.) ini, “Dan mereka inilah yang telah disabdakan oleh Rasulullah Saw, “Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian tsaqalain (dua peninggalan yang sangat berharga), yaitu: Kitabullah (al-Quran) dan Itrah (Ahlulbaitku). Ketahuilah! Sesungguhnya keduanya (al-Quran dan Ahlulbait) tidak akan pernah berpisah sehingga keduanya berjumpa denganku di Haudh. Oleh karena itu, perhatikanlah dalam memperlakukan keduanya sepeninggalku.

At-Tirmidzi berkata setelah meriwayatkan hadis tersebut, “Hadis ini adalah hadis hasan.”

Ath-Thabari meriwayatkan hadis ini dalam Dzakhâ’irul ‘Uqbâ, halaman 16.  Al-Hakim meriwayatkannya dalam al-Mustadrak dari Zaid bin Arqam bahwa Nabi Saw bersabda pada Haji Wada “Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian tsaqalain (dua peninggalan yang sangat berharga), yang salah satu dari keduanya lebih besar daripada yang lain: Kitabullah (AI-Quran) dan keturunanku. Oleh karena itu, perhatikanlah kalian dalam memperlakukan keduanya sepeninggalku. Sebab, sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga berjumpa denganku di Haudh..”

Al-Hakim juga meriwayatkan hadis ini dalam al-Mustadrak, halaman 148 dan 532, dan setelah menyebutkan hadis tersebut, ia berkata, “Hadis ini sahih sesuai syarat (yang ditetapkan oleh) al-Bukhari dan Muslim.”

Adz-Dzahabi juga meriwayatkan hadis tersebut dalam Talkhîsh al-Mustadrak. AI-Qundfizi al-Hanafi meriwayatkan hadis tsaqalain ini dalam Yandâi’ul Mawaddah.

Dan ia juga meriwayatkan, halaman 36, dari Imam ‘Ali ar-­Ridha As sesungguhnya ia berkata tentang al- ‘itrah (keturunan Rasulullah Saw.) ini, “Dan mereka inilah yang telah disabdakan oleh Rasulullah Saw., ‘Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian tsaqalain (dua peninggalan yang sangat berharga), yaitu: Kitabullah (al-Quran) dan keturunan (itrah) Ahlulbaitku. Ketahuilah! Sesungguhnya keduanya (al-Quran dan Ahlulbait) tidak akan pernah berpisah sehingga keduanya berjumpa denganku di Haudh. Oleh karena itu, perhatikanlah kalian dalam memperlakukan keduanya sepeninggalku. Ayyuhannas, janganlah kalian mengajari mereka karena sesungguhnya mereka itu lebih tahu daripada kalian.”

Ibn Katsir meriwayatkan hadis tsaqalain ini dalam Tafsir­-nya, jil. 3, halaman 486. Ibn Hajar meriwayatkan  dalam Shawâ’iq-nya hadis tsaqalain ini dengan jalur riwayat yang banyak, dan pada Bab Kesebelas dalam kitab tersebut, ia berkata, “Ketahuilah! Sesungguhnya hadis yang memerintahkan (kaum Muslim) berpegang teguh pada Kitabullah dan Ahlulbait Nabi Saw itu mempunyai jalur riwayat yang banyak, ia diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh sahabat Nabi Saw. Dalarn suatu riwayat, ia mengucapkan hadisnya tersebut pada waktu Haji Wada’ di ‘Arafah; dalam riwayat lain, ia sabdakan di Madinah, yaitu ketika ia sakit parah dan di kamarnya yang ketika itu para sahabatnya berkumpul; dalam riwayat lain, ia mengucapkannya di Ghadir Khum; dan pada riwayat yang lain, beliau mengucapkannya ketika ia  berkhutbah sepulangnya ia dari Thaif.

Riwayat-riwayat tersebut sama sekali tidak bertentangan karena sangat mungkin Nabi Saw mengulangi sabdanya tersebut kepada para sahabatnya di beberapa tempat yang berbeda. Sebab, ia sangat memperhatikan hal yang sangat penting tersebut, yaitu: al-Quran dan al- ‘itrah ath-thahirah (keturunan Nabi Saw yang suci).”
Di dalam Târikh al-Ya’qubi disebutkan bahwa Nabi Saw bersabda, “Ayyuuhannas, sesungguhnya aku akan mendahului kalian (menghadap Tuhanku), sedangkan kalian akan mendatangiku di Haudh. Dan sesungguhnya aku akan menanyakan kepada kalian tentang tsaqalain (dua peninggalan yang sangat berharga). Oleh karena itu, perhatikanlah dalam memperlakukan keduanya sepeninggalku:

Para sahabat bertanya, “Apakah itu tsaqalain wahai Rasulullah?”
Rasulullah Saw menjawab, ‘Tsaqal (peninggalan yang sangat berharga) yang salah satunya adalah Kitabullah, ujung talinya yang satu berada di tangan Allah, sedangkan ujung yang satunya lagi berada di tangan kalian. Maka, berpegang teguhlah kalian dengannya, janganlah kalian sampai tersesat dan jangan pula mengubahnya. Dan Keturunanku Ahlulbaitku.”

Masih banyak para imam hadis yang meriwayatkan hadis tsaqalain ini, di antara mereka adalah: 

Ad-Darimi dalam Sunan-nya,jil. 2, halaman 432. An-Nasa’i dalam Khashâ ‘ish-nya, halaman 30.

AI-Kanji asy-Syafi’i dalam Kifâyatuth Thâlib, Bab Pertama, halaman 2.

Abu Dawud dan Ibnu Majah al-Quzwaini dalam kitab keduanya.
Abu Na’im aI-Ishfahani dalam Hilyah-nya, jil. I, halaman 355.

Ibnu al-Atsir dalam Asadul Ghâbah, jil. 2, halaman 12, dan jil. 3. halaman 147.

Ibn ‘Abdi Rabbih dalam AI-’lqdul Farid, jil. 2, halaman 158 dan 346.

Ibn AI-Jauzi dalam Tadzkiratul Khawâsh, bab kedua belas, halaman 332.

Al-Halibi asy-Syiifi’i dalam lnsânul ‘Uyûn, jil. 3, halaman 308.

Ats-Tsa’iabi dalam al-Kasyfu wal Bayân tentang tafsir ayat al- i’tishâm dan tafsir ayat ats-tsaqalân.

AI-Fakhrur Razi dalam Tafsir-nya, jil. 3, halaman 18, tentang tafsir ayat al-i’tishâm.

An-Naisaburi dalam Tafsir-nya, jil. I, halaman 349, tentang tafsir ayat al-i’tishâm.

Al-Khazin dalam Tafsir-nya, jil. I, halaman 257, tentang tafsir ayat al-a’tishâm, dan dalam jil. 4, halaman 94, tafsir ayat al­-mawaddah. Dan tentang tafsir ayat, ar-rahman.

Ibn Katsir ad-Dimasyqi dalam Tafsir-nya, jil. 4, halaman 113, tentang tafsir ayat al-mawaddah., dan jil. 3, halaman 485, tentang tafsir ayat at-tathhir, dan juga dalam Târikh-nya, jil. 5, tentang hadis Ghadir Khum.

Ibn Abil Hadid dalam Syarh Nahjul Balâghah, jil. 6, halaman 130, tentang makna al- ‘itrah.

Asy-Syablanji dalam Nurul Abshâr, halaman 99.

Ibn Shibagh al-Maliki dalam al-Fushulul Muhimmah, halaman 25.
Al-Hamuyini dalam Farâ’idus Simthain dengan sanadnya dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas.

Dan al-Baghawi asy-Syafi’i dalam Mashâbilush Sunnah, jil. 2, halaman 205-206.

Al-Imam Syarafuddin al-Musawi Ra berkata dalam kitabnya al-Murâja’ât (Dialog Sunnah Syi’ah), halaman 22, “Hadis yang menunjukkan keharusan berpegang teguh kepada tsaqalain (al-­Quran dan Ahlulbait) adalah hadis yang sahih, bahkan mutawatir, yang diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh sahabat. Rasulullah Saw telah menyampaikan hadis tersebut dalam beberapa tempat dan kesempatan.

Nabi Saw pernah menyampaikan hadis tsaqalain itu pada hari Ghadir Khum, ia juga pernah menyampaikannya pada hari Arafah pada waktu Haji Wada’, pernah ia sampaikan sepulang dari Thaif, pernah ia sampaikan di atas mimbarnya di Madinah, dan pernah juga ia sampaikan di kamarnya yang diberkati, yang ketika itu ia sedang sakit dan kamarnya waktu itu dipenuhi oleh para sahabat. Ia bersabda, “Ayyuhannas sudah dekat saatnya nyawaku akan dicabut dengan cabutan yang cepat, lalu aku pun akan meningalkan kalian. Sungguh, aku telah memberikan nasihat kepadamu. Maafkanlah aku. Ketahuilah! Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepadamu Kitabullah dan Itrah Ahlulbaitku.” 

Kemudian ia meraih tangan ‘Ali dan mengangkatnya, ia bersabda, “Ali bersama al-Qur’an dan al-Qur’an bersama ‘Ali, keduanya tidak akan berpisah sehingga berjumpa denganku di Haudh.” 

Hadis ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani, an-Nabhani dalam Arba’inal Arbâi’in, dan as-Suyuthi dalam Ihyâ’ul Mayyit.  

Dan engkau tahu bahwa khutbah Rasulullah Saw, itu tidaklah terbatas pada kalimat itu saja. Sebab, tidaklah mungkin dikatakan kepada orang yang hanya mengucapkan kalimat pendek seperti itu bahwa ia berkhutbah kepada kami. Akan tetapi, politik sungguh telah mengunci lisan para perawi hadis dan menahan pena para penulis. Kendati demikian, setetes air dari lautan tersebut telah memadai dan mencukupi,  dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. 

Ihwal hadis tsaqalain, al-Allamah al-Hujjah al-Kabir as-Sayid Hasyim al-Bahrani menyebutkan dalam bukunya Ghayatul Maram, hal. 211, tiga puluh sembilan jalur riwayat dari Ahlus Sunnah, sebagaimana ia menyebutkannya dalam buku yang sama, hal. 217, delapan puluh dua jalur riwayat dari Syi’ah dari Ahlulbait. 

Hadis tsaqalain ini juga disebutkan oleh as-Sayid al-Ajal al-Mubajjal (yang diagungkan) al-Imam al-Akbar pemuka mazhab Ahlulbait Ayatullah al-Uzmah as-Sayid Mir Hamid Husain an-Naisaburi, kemudian al-Hindi, dalam ‘Aqabât-nya. 

Masih banyak lagi yang meriwayatkan hadis tsaqalain ini, bahkan jumlah mereka mencapai sekitar dua ratus ulama dari berbagai mazhab, dan lebih dari tiga puluh sahabat Nabi Saw, yang seluruhnya meriwayatkan hadis tersebut dari Nabi Saw. 

Aku katakana, siapa saja yang berpikiran jernih dan objektif, niscaya ia akan mengakui kesahihan hadis tsaqalain tersebut, yang menunjukkan bukti yang nyata dan jelas atas kekhalifaan Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib As dan anak keturunannya, sebelas Imam Maksum. Sebab, Nabi Saw, telah menyandingkan mereka (Ahlulbait) dengan al-Qur’an. Al-Qur’an adalah rujukan utama bagi umat Islam, tidak ada yang meragukan hal itu, dari mulai awal dakwah sampai akhir dunia, demikian juga ‘Ali dan anak keturunannya yang diberkati, sebelas Imam Ahlulbait As. 

Rasulullah Saw juga telah menjadikan berpegang teguh kepada keduanya, al-Qur’an dan Ahlulbait, sebagai syarat terbebas dari kesesatan, sedangkan barangsiapa yang berpaling dari keduanya, niscaya akan celaka dan binasa. Oleh karena itu, ia menyandingkan Ahlulbait dengan al-Qur’an dan memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh kepada keduanya secara bersamaan. Dengan demikian, tidak diperbolehkan bagi kaum Muslimin untuk hanya mengikuti salah satu dari keduanya dan meninggalkan yang lainnya.
Oleh karena itu, setiap Muslim dan Muslimah wajib berpegang teguh kepada tsaqalain, al-Qur’an dan Ahlulbait, secara bersamaan; bukan hanya mengikuti al-Qur’an lalu meninggalkan Ahlulbait, atau sebaliknya. Al-Qur’an dan Ahlulbait merupakan satu tali ikatan yang kuat, yang tidak mungkin diputuskan di antara keduanya, satu sama lainnya saling bergandengan erat. Akan tetapi Ahlulbait adalah lisan yang berbicara, sedangkan al-Qur’an diam, tidak berbicara. 

Kita tidak akan mampu berpegang teguh kepada al-Qur’an, tanpa melalui jalan Ahlulbait. Lantaran, pengetahuan tentang al-Qur’an, seperti menyingkap rahasia-rahasianya, membedakan antara yang muhkam dan mutasyabihat, dan nasikh dan mansukhnya tidak akan benar, kecuali dengan keterangan dan penjelasan mereka. Oleh karena itu, mengikuti keduanya secara bersamaan adalah jalan keselamatan, tidak ada keraguan tentang hal itu. 

Adapun orang yang berpaling dari keduanya, atau salah satu darinya, ia akan binasa dan merugi, ia tidak akan mendapatkan keselamatan. Lantaran, Rasulullah Saw sendiri yang memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh kepada keduanya secara bersama-sama, sedangkan ia tidaklah pernah memerintahkan atau melarang sesuatu yang sia-sia. Ia tidaklah mengucapkan sesuatu mengikuti hawa nafsunya, ucapannya itu tidak lainya hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. Oleh karena itu, merupakan keharusan dan kewajiban berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Ahlulbait Nabi Saw yang telah disucikan, demi mendapatkan keselamatan dan keberuntungan yang besar serta kenikmatan yang abadi. 

Imam Syarafuddin al-Musawi berkata dalam al-Murâja’ât (Dialog Sunni-Syiah), hal. 23 (dalam edisi Arabnya), “Sesungguhnya pemahaman (yang benar) dari sabda Nabi Saw, “Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian, yang apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah dan Itrahti (keturunanku),” adalah siapa saja yang tidak berpegang teguh kepada keduanya secara bersamaan, niscaya ia akan tersesat. 

Hal ini dikuatkan dalam sabda Nabi Saw, ihwal hadis tsaqalain yang diriwayatkan oleh ath-Thabarani, ia bersabda, “Janganlah kalian mendahului keduanya sehingga kalian akan binasa, janganlah kalian tertinggal dari keduanya sehingga kalian akan binasa, dan janganlah kalian mengajari mereka karena sesungguhnya mereka itu lebih tahu daripada kalian.” 

Ibnu Hajar berkata, “Sabda Rasulullah Saw, Janganlah kalian mendahului keduanya sehingga kalian akan binasa, janganlah kalian tertinggal dari keduanya sehingga kalian akan binasa, dan janganlah kalian mengajari mereka karena sesungguhnya mereka itu lebih tahu daripada kalian,” menunjukkan bahwa mereka (Ahlulbait) harus didahulukan dalam kedudukan-kedudukan yang tinggi dan tugas-tugas keagamaan…”[7]

Aku katakan, “Sesungguhnya Rasulullah Saw menamakan keduanya (al-Qur’an dan Ahlulbait) “tsaqalain” lantaran keduanya sangat penting dan sangat berharga. Dalam bahasa Arab, sesuatu yang sangat serius dan agung serta sangat berharga nilainya biasanya disebut sebagai “tsaqal.” Sebab berpegang teguh kepada keduanya bukanlah perkara yang mudah dan sederhana. Beramal dengan apa yang telah diwajibkan Allah Swt berkenaan dengan hak-hak keduanya sangatlah berat, di antaranya Ibnu Hajar dalam ash-Shawâ’iq, bab “wasiat Nabi Saw” dan juga as-Suyuthi. 

Oleh karena itu, hal itu menunjukkan bahwa khilafah dan imamah terbatas pada mereka saja. Semoga Allah Swt merahmati orang yang melantunkan syair ini: 

Mereka (Ahlulbait) sejajar dengan Kitabullah
Hanya saja, Kitabullah itu diam sedangkan mereka itu kitab yang berbicara
Hadis tsaqalain ini juga dapat dijadikan dalil kemaksuman Ahlulbait, sebagaimana al-Qur’an merupakan kitab yang maksum, tidak ada keraguan tentang kemaksumannya. Sebab, Nabi Saw telah memerintahkan umatnya untuk merujuk kepada mereka sepeninggalnya, yang hal ini tidak terwujud kecuali terhadap orang-orang yang telah dipelihara Allah Swt dari kesalahan dan dosa. 

Kemaksumam mereka (Ahlulbait) juga merupakan petunjuk jelas bahwa khilafah dan imamah hanya berlaku bagi mereka karena ia merupakan syarat dalam khilafah dan imamah. Sedangkan orang-orang selain mereka tidaklah maksum dari kesalahan dan dosa, sebagaimana disepakati oleh kaum Muslimin.


Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma'arif Beirut – Lebanon :

Muslim meriwayatkan di dalam kitab sahihnya, "Telah berkata kepada kami Muhammad bin Bakkar bin at-Tarian, "Telah berkata kepada kami Hisan (yaitu Ibnu Ibrahim), dari Sa'id (yaitu Ibnu Masruq), dari Yazid bin Hayan yang berkata, 'Kami masuk kepada Zaid bin Arqam dan berkata, 'Anda telah melihat kebajikan. Anda telah bersahabat dengan Rasulullah saw dan telah salat di belakangnya. Anda telah menjumpai banyak kebaikan, ya Zaid (bin Arqam). Katakanlah kepada kami, ya Zaid (bin Arqam), apa yang Anda telah dengar dari Rasulullah saw.' Zaid (bin Arqam) berkata, 'Wahai anak saudaraku, demi Allah, telah lanjut usiaku, telah berlalu masaku dan aku telah lupa sebagian yang pernah aku ingat ketika bersama Rasulullah. Oleh karena itu, apa yang aku katakan kepadamu terimalah, dan apa yang aku tidak katakan kepadamu janganlah kamu membebaniku dengannya.' Kemudian Zaid bin Arqam berkata,

'Pada suatu hari Rasulullah saw berdiri di tengah-tengah kami menyampaikan khutbah di telaga yang bernama "Khum", yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat dan peringatan Rasulullah saw berkata,

'Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.' Kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya, 'Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.

hadis itu diucapkan Rasulullah saw di Arafah pada waktu haji wada' dan ketika sakit menjelang wafat, di hadapan para sahabat yang memenuhi kamar beliau. Riwayat lain lagi menyebutkan bahwa beliau mengucapkannya di Ghadir Khum. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengucapkan ucapannya itu pada saat beliau pulang dari Thaif, ketika beliau berpidato di hadapan para sahabat. Rasulullah saw sengaja mengulang-ulang pesannya itu di berbagai tempat dan situasi untuk menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap Al-Qur'an dan Ahlul Bait yang suci.
Sungguh benar Imam Ja'far ash-Shadiq as manakala mengatakan, "Mereka mengklaim mencintai kami namun pada saat yang sama mereka melakukan pembangkangan terhadap kami." pada saat yang sama mereka mengambil agama mereka dari orang-orang yang telah menzalimi Ahlul Bait

Al-Quran juga mengatakan ihwal wujudnya orang-orang munafik di antara kaum muslimin: "Orang-orang Arab Badui itu lebih sangat kekafirannya dan kemunafikannya dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah dan Rasulnuya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. " (Qs.Taubah [9]:97)

Setelah Umar dan kelompoknya yang memaksa kaum Ansar (Penduduk Madinah) untuk membai’at Abu Bakar di Saqifah, mereka datang ke Masjid Nabi dan mengumumkan bahwa Abu Bakar telah dipilih sebagai khalifah dan meminta semua orang untuk membaiatnya. Mereka diberitahu bahwa Ali dan anggota lain dari Bani Hasyim dan beberapa sahabat utama Nabi berkumpul di rumah Fatimah, menolak untuk membaiat Abu Bakar. Abu Bakar mengirim pesan tapi tidak ada satu pun dari mereka (orang-orang yang berkumpul di rumah Fatimah, -AK.) yang membaiatnya. Lalu Umar dengan orang-orangnya mendatangi mereka dan bahkan mengancam akan membakar rumah itu jika tidak ada yang mau keluar! Mereka akhirnya mendobrak pintu, mencederai Fatimah yang saat itu lagi hamil, dan memaksa orang-orang yang ada di rumah itu ke masjid dan membaiat Abu Bakar.

Imam Ali juga ditawan dan dibawa ke masjid. Di sini terjadi obrolan antara Imam dan Abu Bakar yang isinya Imam Ali hanya digunakan oleh Quraisy Mekkah terhadap orang Ansar. Quraisy memiliki keutamaan daripada Ansar karena Nabi berasal dari suku mereka, oleh karena itu, mereka lebih berhak untuk menjabat sebagai khalifah; Imam Ali melebarkan adu argumen itu dengan mengatakan bahwa kami berasal dari keluarga Nabi, oleh karena itu, kami lebih berhak atas khalifah daripada engkau.

Ibnu Qutayba ad-Dinwari, seorang sejarawan Sunni tentang masalah khalifah, melanjutkan cerita ini :

Mereka berkata kepada Ali: Nyatakan Baiat!

Ali menjawab: “Jika aku tidak mau, lalu apa?

Mereka berkata: “Kalau begitu, Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, kami akan menggorok lehermu!”

Ali berkata: “Kalau begitu, kalian ingin membunuh seorang hamba Allah dan saudara Nabi-Nya!”

‘Umar berkata: “Sebagai hamba Allah, iya; tapi sebagai saudara Nabi-Nya, tidak!”

Apa yang dikatakan oleh Umar ini? Di luar dari ketiga hal yang disabdakan oleh Nabi tentang Ali, ancaman terakhir adalah “saudaraku ” namun hari itu, ‘Umar bahkan tidak bersedia menerima Ali sebagai “saudara Nabi”! Sekarang katakan kepadaku mengapa Ali tidak berkata: ” Aku juga adalah wasiy Nabi dan khalifahnya”?

Ibnu Qutaybah meneruskan ceritanya: Selagi percakapan antara Imam Ali dan ‘Umar berlangsung, ” Abu Bakar tutup mulut, dan tidak berkata sepatah-kata pun. Lalu Umar berbalik padanya dan berkata : “Mengapa engkau tidak mengeluarkan perintah untuk menghukumnya? Abu Bakar berkata : ” Aku tidak ingin memaksakan segala sesuatunya selagi Fatimah berada di sisinya.”

Ali dalam ketertindasannya, ia pergi ke pusara Nabi dan mengeluhkan dukanya kepada Nabi: “Wahai putra ibuku! Orang-orang menindasku dan hampir saja membunuhku.”

Tidak seorang pun yang menyalahkan Ali karena klaim atau menyodorkan bukti-buktinya hingga hari ini. Ia sendiri berkata: “Tidak seorang pun yang dapat disalahkan atas terlambatnya (menjaga) ia meraih haknya, namun kesalahan terletak pada orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya.”

Pada tahun 35 H, sewaktu Imam berada di Kufah, ia mendengar bawha orang-orang sangsi atas klaimnya sebagai lebih utama dan lebih prioritas atas ketiga khalifah sebelumnya. Oleh karena itu, ia mendatangi majelis dan memohon kepada saksi-saksi yang hadir di Ghadir Khum untuk menyatakan kebenaran deklarasi Nabi Saw tentang dirinya sebagai “mawla (tuan, pemimpin, junjungan) bagi mereka yang menjadikan Nabi sebagai mawlanya sendiri. Dalam banyak kitab, kita mempunyai dua puluh empat sahabat Nabi yang menyatakan kesaksian akan kebenaran klaim Imam Ali ini. Sumber-sumber lain seperti Musnad Ahmad bin Hanbal dan Majmâ az-Zawâid karya al-Haytami menyebutkan sebanyak tiga puluh.

Anda harus ingat bahwa peristiwa ini terjadi dua puluh lima tahun setelah peristiwa Ghadir Khum, dan selama berabad-abad saksi-saksi sejarah telah meninggal dunia atau gugur dalam medan perang. Dan sebagai tambahan bahwa kejadian ini terjadi di Kufa yang jauh dari Madinah, pusat para sahabat.

Yang terakhir, banyak riwayat Ahli Sunnah yang meriwayatkan bahwa Nabi menggunakan ayat ini kepada Ahlu Kisa. Misalnya, ketika ayat ini diturunkan, orang-orang bertanya kepada Nabi: “Siapakah Qurbah, yang kecintaan kepada mereka wajib bagi kami?” Nabi menjawab, “Ali, Fatimah, dan kedua anak-anak mereka.” Nabi mengulangi jawabannya ini tiga kali.

Dari Sa’ad bin Abi Waqash yang berkata, “Ketika ayat ini turun, ‘Katakanlah, ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu…’ Rasulullah saw memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Lalu Rasulullah saw berkata, ‘Ya Allah, mereka inilah Ahlul Baitku.”‘. Sahih Muslim, jld 2, hal 360; Isa al-Halabi, jld 15, hal 176; Sahih Turmudzi, jld 4, hal 293, hadits nomer 3085; al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jld 3, hal 150   

The Various Occasions Related to Hadith al­Thaqalayn:

The various narrations of Hadith al­Thaqalayn also indicate the occasion on which the Prophet (S) proclaimed it publicly. `Allamah `Abd al-`Aziz Tabataba'i, who has studied the various narrations of Hadith al-Thaqalayn as recorded by various traditionists mentions four occasions on which the Prophet (S) proclaimed it publicly. First of these is the occasion when the Prophet (S) proclaimed it during his last hajj at `Arafat. On this occasion, the Prophet (S) was accompanied by more than a hundred thousand Muslims. The second occasion relates to his proclamation at Ghadir Khumm, during the course of his return journey to Madinah. The third occasion relates to his proclamation in the Mosque of Madinah. The fourth one relates to his pronouncement of Hadith al­Thaqalayn in his chamber during his last illness. All these occasions lie within a period of ninety days and pertain to the Prophet's last days.

There are, however, many narrations of the hadith - in fact, most of them - which do not contain any clue about the time and place of its pronouncement. In the following are given instances of the narrations of Hadith al­Thaqalayn relating to each of these occasions, accompanied by the sources which record them. [2]

1. At `Arafat

Al­Tirmidhi in his Sunan (v, 662, no. 3786) records the following tradition


....Jabir ibn `Abd Allah said: "I saw the Messenger of Allah - upon whom be God's peace and benedictions - in the course of his hajj pilgrimage on the day of `Arafah. The Prophet (S) was seated on his camel, al­Qaswa', and was delivering a sermon. I heard him say: 'O people, I am leaving among you that which if you hold on to you shall never go astray: the Book of Allah and my kindred, my household."
Al­Tirmidhi states that the same tradition has been narrated by Abu Dharr, Abu Sa`id, Zayd ibn Arqam and Hudhayfah ibn Usayd.

Among others who have recorded this tradition are:
  1. al­Hafiz Ibn Abi Shaybah, as in Kanz al­`ummal (1st ed.), i, 48;
  2. al­`Uqayli in al­Du`afa' al­Kabir, ii, 250;
  3. al­Hakim al­Tirmidhi, Nawadir al-'usul, 68, 50th asl;
  4. al­Tabarani, al­Mu`jam al­kabir, iii, 63, no. 2679;
  5. al­Khatib, al­Muttafiq wa al­muftariq, cf. Kanz al­`ummal, i, 48 and Majma' al­zawa'id, v, 195; ix, 163, x, 363, 268;
  6. al­Baghawi, al-Masabih, ii, 206;
  7. Ibn al­'Athir, Jami` al­'usul, i, 277, no. 65;
  8. al-Rafi`i, al­Tadwin, ii, 264 (in the biographical account of Ahmad ibn Mihran al­Qattan; this hadith has been deleted in the Indian print, but is present in the manuscripts of the book ! );
  9. al­Mizzi, Tahdhib al­kamal, x, 51, and Tuhfat al­'ashraf, ii, 278, no. 2615;
  10. al­Qadi al­Baydawi, Tuhfat al­'ashraf;
  11. al­Khwarazmi, Maqtal al­Husayn (A), i, 144;
  12. al­Khatib al­Tabrizi, Mishkat al­masabih, iii, 258;
  13. Ibn Kathir, Tafsir (Bulaq edition, on the margin of Fath al­bayan), ix, 115;
  14. al-Zarandi, Nazm al­durar al­simtayn, 232;
  15. al­Maqrizi, Ma`rifat ma yajib li Al al­Bayt al­Nabawi, 38.
2. At Ghadir Khumm:

Al­Nasa'i in his al­Sunan al­kubra, 96, No. 79, records the following tradition in the chapter "Khasa'is `Ali":


Al­Nasa'i narrates from Muhammad ibn al­Muthanna, he from Yahya ibn Hammad, from Abu 'Uwwanah, from Sulayman, from Habib ibn Abi Thabit, from Abu al­Tufayl, from Zayd ibn Arqam, who said, "When the Messenger of Allah (A) returned from the last hajj and came down at Ghadir Khumm....
"Then he declared: 'I am about to answer the call (of death). Verily, I have left two precious things (thaqalayn) among you, one of which is greater than the other: the Book of God and my `Itrah, my Ahl al­Bayt. So watch out how you treat them after me. For, indeed, they will never separate until they return to me by the side of the Pond.' Then he said, 'Verily, God is my master (mawlaya) and I am the wali of every believer.' Then he took `Ali's hand and declared, 'To whomever I am his wali, this one is also his wali. My God, befriend whoever befriends him and be hostile to whoever is hostile to him.'" Abu al­Tufayl says: "I said to Zayd, 'Did you hear it from the Prophet(S)?' He replied, 'There was no one in the caravan who did not see it with his eyes and hear it with his ears,'"
Khasa'is `Ali is part of al­Nasa'i's al­Sunan al­kubra as shown by the 3rd volume of the MS in the king's collection in Morocco, written in 759/1358 folios 81-117. See also in this regard the introduction of al­Khasa'is (Kuwait: Maktabat al­Mu`alla, 1406), ed. by Ahmad Mirayn Balushi. The editor states that this tradition is sahih and its transmitters are thiqah.

Among others who have recorded it in their books are:
  1. Al-Bukhari, al­Ta'rikh al­kabir, iii, 96;
  2. Muslim, Sahih, bab fada'il `Ali, no. 2408;
  3. Ahmad, Musnad, iii, 17, iv, 366;
  4. `Abd ibn Humayd, Musnad, no. 265;
  5. Ibn Sa`d, and
  6. Abu Ya`la from Abu Sa`id, as mentioned in Jam` al­jawami` and Kanz al­`ummal;
  7. Ishaq ibn Rahwayh, in his Sahih., as mentioned by Ibn Hajar in al­Matalib al­`aliyah, iv, 65, no. 1873, where he states that its isnad is sahih, and also by al-Busayri in Ithaf al­sadah (MS in Topcopi Library, vol. 3, F.55b) who, too, considers the isnad as sahih;
  8. Ibn Khuzaymah, Sahih, MS in Topcopi Library, F.240;
  9. al­Darimi, Sunan, ii, 310, no. 2319;
  10. Abu Dawud, Sunan, as mentioned in Sibt ibn al­Jawzi, Tadhkirat khawass al­'ummah, 322;
  11. Abu 'Uwwanah, Musnad, as mentioned in al­Shaykhani, al­Sirat al­sawi;
  12. al­Bazzaz, from Umm Hani, as mentioned in Wasilat al­ma'al;
  13. Ibn Abi 'Asim, Kitab al­Sunnah, 629, no. 1551, 630, no. 1555, 629, no. 1551;
  14. al­Ya`qubi, Ta'rikh, ii, 112;
  15. al­Baladhuri, Ansab al­'ashraf, 110, no. 48, the biographical account of `Ali (A);
  16. al­Hafiz al­Hasan ibn Sufyan al­Nasawi, the author of Musnad, from Hudhayfah ibn Usayd, as mentioned by Abu Nu`aym, al­Hilyah, i, 355,
  17. al­Fasawi, al­Ma`rifah wa al­ta'rikh, i, 536;
  18. Ibn Jarir al­Tabari, from Hudhayfah ibn Usayd, Zayd ibn Arqam (with al­Nasa'i's wording as well as with the wording of Muslim), Abu Sa`id al­Khudri, as cited in Jam` al­jawami`, ii, 357, 395, Kanz al-`ummal, 12911, xiii, 36441, 36340, 37620, 37621, 36341, Jami` al-'ahadith, vii, 14523, 15112, 15122, 15113, iv, 7773, 8072, 8073;
  19. al­Dulabi, al­Dhurriyyat al­tahirah, no. 228;
  20. al­Hafiz al­Tahawi, Mushkil al 'athar, ii, 307, iv, 368;
  21. al­Hakim al­Tirmidhi, Nawadir al-'usul, from Hudhayfah ibn Usayd;
  22. al­Tabarani, al­Mu`jam al­kabir, iii, 2679, 2681, 2683, 3052, v, 4969, 4970, 4971, 4986, 5026, 5028;
  23. al­Hakim, al­Mustadrak `ala al­Sahihayn, iii, 109, 110 where he expressly states, as mentioned above, that the tradition is sahih in accordance with the criteria of al­Bukhari and Muslim; al­Dhahabi has confirmed his judgement;
  24. Abu Nu`aym, Hilyat al­'awliya', i, 355, ix, 64;
  25. al­Bayhaqi, al­Sunan al­kubra, ii, 148, vii, 30, x, 114;
  26. al­Khatib, Ta'rikh Baghdad, viii, 442;
  27. Ibn al­Maghazili, Manaqib Amir al­Mu'minin (A), 23;
  28. Ibn `Asakir, Ta'rikh Dimashq, ii, 45, no. 547, the biographical account of `Ali (A), and v, 436 of Badran's edition in the biographical account of Zayd ibn Arqam;
  29. al­Baghawi, Masabih al­Sunnah, ii, 205 and Sharh al­Sunnah (MS in Topcopi Libary, vol. 2, F. 718), bab Manaqib Ahl al­Bayt;
  30. Ibn al­'Athir, Usd al­ghabah, iii, 92 in the biographical account of 'Amir ibn Layla, no. 2727;
  31. Ibn Hajar, al­'Isabah in the biographical account of 'Amir;
  32. al-Mizzi, Tuhafat al­'ashraf, iii, 203, no. 3688 from Muslim and al­Nasa'i;
  33. al­Diya' al­Muqaddisi, al­Mukhtarah, as cited by al­Samhudi and al­Sakhawi;
  34. Ibn Taymiyyah, Minhaj al­Sunnah, iv, 85;
  35. al-Dhahabi, Talkhis al­Mustadrak, iii, 109;
  36. Ibn Kathir, al­Bidayah wa al­nihayah, v, 209, vi, 199, from al­Nasa'i, where he quotes al­Nasa'i's statement that this narration is sahih;
  37. al­Khazin, Tafsir under verses 42:23 and 3:103;
  38. al­Mulla, Wasilat al­muta`abbidin, v, 199;
  39. al-Haythami, Majma` al­zawa'id, ix, 163 from Zayd, 164 from Hudhayfah.
3. In the Mosque of Madinah:

Ibn `Atiyyah in the introduction of his tafsir, al­Muharrar al­wajiz, i, 34 records the following narration:


...It is narrated that he (i.e. the Prophet) - upon whom be peace - said in the last sermon that he delivered during his illness: "O people, I leave behind two precious things (thaqalayn) amongst you...: the Book of God - which is a rope between Him and you, whose one end is in His hand and whose other end is in your hands ­ so act according to its muhkamat and believe in its mutashabihat; consider as lawful that which it regards as lawful and consider as forbidden that which it regards as unlawful - and my `Itrah and my Ahl al­Bayt, who are the second thaql. So don't outstrip them (fa la tasbiquhum ), for then you shall perish."
Unfortunately in the printed versions of it fa la tasbiquhum has been altered as fa la tasbi`uhum (a meaningless expression). This tradition has also been narrated by:
  1. Abu Hayyan in his tafsir, al­Bahr al­muhit, i, 12 (with identical wording, except that in a published version of it there is fa la tasubbuhum, i.e. so don't curse them, instead of fa la tasbiquhum);
  2. Ibn Hajar, al­Sawa`iq al­muhriqah, 75, 136;
  3. Yahya ibn al­Hasan, Akhbar al­Madinah with his isnad from Jabir, as cited in Yanabi` al­mawaddah, 40.
4. In the Prophet's Chamber During His Last Illness:

Ibn Abi Shaybah, as cited by Al­`Isami in Simt al­nujum al­'awali, ii, 502, no. 136, has narrated the following tradition:



The Messenger of Allah (S) said during his last illness: "Soon I am going to pass away and I have extended to you my plea of excuse. Lo, verily I leave behind amongst you two precious things: the Book of Allah , the Almighty and the Glorious, and my kindred (`Itrah)." Then he took `Ali's hand and raised it, saying, "This `Ali is with the Qur'an and the Qur'an is with `Ali. The two will not separate until they return to me by the Pond. Then I will ask the two as to how they were treated after me."
Among the narrators of this tradition are:
  1. al­Bazzaz, Musnad, as mentioned in Kashf al­'astar, iii, 221, no. 2612;
  2. Muhammad ibn Ja`far al­Razzaz, from Umm Salamah (where she is explicit that the Prophet [S] made this pronouncement in his chamber which was filled by the Companions), as cited in Wasilat al­ma'al;
  3. Al­'Azhari, Tahdhib al­lughah, ix, 78;
  4. al­Khatib al­Khwarazmi, Maqtal al­Husayn (A), i, 164, from Ibn `Abbas;
  5. Ibn Hajar, al­Sawa`iq al­muhriqah, 89, from Umm Salamah.

No comments:

Post a Comment