Showing posts with label KANG JALAL. Show all posts
Showing posts with label KANG JALAL. Show all posts

Tuesday, October 11, 2011

Berpikir Positif untuk Hidup Bahagia


Jum'at, 13 Mei 2011 - 08:40 wib

Berpikir positif untuk hidup bahagia. (Foto: Getty Images)
BANYAK cara yang bisa dilakukan untuk menghilangkan stres. Namun, sebenarnya hanya ada satu cara mudah yang bisa membuat hidup ini jauh lebih bahagia. Apa itu? Berpikir positif.

Ya, kalimat inilah yang diyakini ampuh sebagai obat penghilang stres. Sekilas memang terdengar sederhana, tapi dengan membiasakan diri berpikir positif, hidup kita terasa lebih ringan dalam menghadapi berbagai persoalan.

Menurut psikolog sekaligus penulis buku psikologi komunikasi Prof Dr Jalaluddin Rahmat, pikiran seseorang itu ajaib karena dapat mengubah kehidupan.Ia dapat mengubah kebahagiaan menjadi kesedihan, begitu juga sebaliknya, kesedihan dapat diubah jadi kebahagiaan, semua bergantung pada apa yang seseorang pikirkan.

“Sebenarnya hidup kita ini dikendalikan oleh pikiran. Senang atau sedih itu pilihan. Kita bisa memilih bahagia kalau kita berpikir positif, sebaliknya kalau kita sedih, ya itu karena diri kita sendiri yang memilih untuk sedih,” ujarnya di sela-sela diskusi bertema “Mengelola Stres dengan Benar” yang diadakan Pfizer Press Cycle (PPC), beberapa waktu lalu.

Dengan berpikir positif, seseorang dapat melahirkan sikap optimis. Sikap seperti inilah yang dibutuhkan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Stres pun bisa berakibat baik jika kita mampu mengelolanya dengan cara yang positif.

“Orang kalau hidupnya selalu pesimis tidak akan bisa maju. Ada kalanya stres itu bermanfaat jika disikapi dari sudut pandang positif karena bisa menjadi media pembelajaran bagi seseorang,” kata pria yang akrab disapa Kang Jalal ini.

Banyak orang beranggapan bahwa berpikir positif itu sulit, terlebih di tengah himpitan beban hidup yang semakin meningkat. Padahal, berpikir positif itu bisa dilatih. Bagaimana cara melatihnya?

Pertama, mulailah dari hal kecil pada pagi hari, seperti tersenyum saat melihat matahari terbit dan berkata, "Terima kasih Tuhan atas hidup yang masih Kau beri". Konon, cara simpel ini memiliki pengaruh besar dalam menimbulkan sikap positif seseorang pada hari itu.

“Coba saja praktikkan sendiri setiap pagi, setelah bangun tidur ucapkan rasa syukur kepada Tuhan, pasti itu berimbas baik seharian. Keliatannya sepele, tapi efeknya luar biasa,” tutur Kang Jalal.

Cara kedua yang bisa melatih kita berpikir positif, yaitu dengan meningkatkan selera humor. Bisa dengan menonton film komedi atau bergaul dengan orang yang humoris. Berdasarkan beberapa penelitian, orang yang memiliki selera humor yang tinggi jauh lebih bahagia dan dapat meminimalkan stres dalam dirinya.

Lewat sifat yang humoris pula, seseorang juga dapat dengan mudah melihat sisi baik dari setiap peristiwa. Inilah inti dari berpikir positif, selalu melihat sisi baik sebuah peristiwa dan meredam sisi buruknya.

“Orang yang punya pikiran positif, pembawaannya selalu tenang dan cenderung mampu mengambil sisi baik dari sebuah kejadian, dia tidak hanyut oleh kejadian tersebut melainkan dialah yang mengendalikan pikirannya atas kejadian itu,” sebut Kang Jalal.

Pada dasarnya, setiap peristiwa atau kejadian sifatnya netral.Adapun yang membuat dia positif atau negatif adalah cara berpikir seseorang. Sebagai contoh, peristiwa patah hati yang hampir semua orang alami dapat disikapi secara positif jika kita mampu mengambil sisi baik dari situ.

Patah hati itu kan biasa, mungkin nanti ada yang lebih baik daripada dia. Pemikiran seperti ini dapat membangkitkan kembali semangat seseorang. Namun, jika patah hati disikapi dengan kesedihan berlarut-larut, tentu saja hasilnya pun tidak baik. Orang itu akan diam di tempat dan hidupnya berujung pada kesedihan.

Sering melakukan introspeksi diri juga dapat menumbuhkan sikap positif. Dengan cara ini, seseorang akan mengenali dirinya sendiri, menerima segala kelebihan maupun kekurangannya.

Dikatakan Kang Jalal, dalam kondisi marah atau jengkel, usahakan cari 100 alasan yang membuat kita pantas diperlakukan buruk sehingga menyebabkan kita bereaksi negatif.

“Ketika kita sudah tahu alasan kepantasan itu, pelan-pelan marah kita akan reda dan hati kita juga terasa lebih lapang. Bukalah hati dan pikiran kita untuk menerima apa pun yang sulit atau bahkan tidak bisa kita ubah, setelah itu bangkit dan melangkahlah lebih baik,” paparnya.

Selain dapat meminimalkan stres, berpikir positif dapat membuat keadaan fisik kita jauh lebih sehat. Hormon-hormon yang berperan penting dalam proses metabolisme tubuh akan tersekresi dengan baik. Begitu juga dengan kinerja fungsi tubuh yang optimal. Lebih lanjut, berpikir positif juga dapat membantu proses penyembuhan seseorang.

“Pikiran yang sehat akan menular ke kondisi tubuh yang sehat pula.Moodseseorang akan bagus, kinerja organ tubuhnya pun akan maksimal. Bagi pasien penyakit berat, pola pikir yang positif ini akan sangat membantu proses penyembuhan,” kata dr Surjo Dharmono SpKJ (K), ahli kesehatan jiwa dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Khusus bagi pasien penyakit berat seperti kanker, dibutuhkan peran serta keluarga dan lingkungan dalam menstimulasi diri pasien untuk berpikir positif. Meski tidak dapat mengobati penyakitnya secara langsung, terapi berpikir positif dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga kualitas hidup pasien akan lebih baik dan persentase angka harapan hidupnya bisa lebih panjang.

‘SBY Akan Dikenal Pemimpin yang Tak Peduli Kaum Minoritas’


16 02 2011
Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rakhmat berpendapat SKB 3 Menteri ambigu dan multitafsir. Ia juga menganggap Presiden SBY tidak tegas dalam menanggapi kasus-kasus kekerasan antar umat beragama di Indonesia.

“Kalau pemerintah tidak tegas, SBY akan dikenal sebagai presiden yang tidak peduli golongan minoritas,” ujarnya usai Diskusi ‘Tebarkan Senyum Sang Nabi’ di Pusdai, Jalan Diponegoro, Selasa (15/2/2011).

Menurutnya, kekerasan umat beragama ini mulai terjadi pada akhir jaman orde baru (orba). “Ini baru terjadi sekarang-sekarang ini, dulu damai-damai saja. Mulai ada tindakan kekerasan terhadap agama ini akhir jaman orba. Harusnya mereka membela Ahmadiyah, karena Ahmadiyah dalam keadaan terdzalimi,” jelasnya.

Ia pun menganggap Ahmadiyah tidak perlu dibubarkan. “Dibiarkan saja, kenapa harus dibubarkan?” tegasnya.

Di Jawa Barat sendiri, menurut Jalaludin, kaum minoritas akan mungkin menjadi sasaran seperti di Cikeusik. “Akan mungkin terjadi di Jabar kalau ada yang bermain. Untuk mencegahnya harusnya di Jabar ini ada dialog, kerjasama antar agama lain. Pendekatan dialognya tentu untuk saling memahami, bukan untuk saling menghakimi. Saya pernah ceramah di Gereja Protestan,” katanya.

Selaku penganut Syiah, Jalaluddin pun mengaku khawatir suatu saat akan menjadi sasaran. “Sebagai Syiah yang juga kaum minoritas juga ada kekhawatiran juga. Mungkin juga suatu saat saya yang menjadi sasaran,” ujarnya.

Namun Jalaluddin menganggap kaum Syiah itu sulit untuk diserang dibanding Ahmadiyah. “Ketika Ahmadiyah diajak dialog di televisi, mereka tampaknya tidak punya ustad, jadi kalah argumen. Kalau sekarang kita bawa Quraiss Shihab yang katanya Syiah juga, siapa yang tidak kenal dia. Dan banyak orang seperti dia yang bukan Syiah yang akan belain Syiah,” terangnya. 


(avi/ern) Selasa, 15/02/2011 18:25 WIB.

http://bandung.detik.com/read/2011/02/15/182551/1571570/486/sby-akan-dikenal-pemimpin-yang-tak-peduli-kaum-minoritas

Islam Amerika versus Islam Arab?


6 04 2011
Oleh JALALUDDIN RAKHMAT
Sore itu, di sebuah restoran hotel berbintang, saya berkumpul dengan sekelompok muslimah. Sambil makan siang, kita merencanakan sebuah seminar internasional di Jakarta.”Subhannalah sekali, yah, kita bisa berkumpul sekarang ini,” kata perempuan paling muda di situ, “Insya Allah, kita akan mengundang syaikh kita. Masya Allah, beliau bersedia datang ke Indonesia .” Kemudian, perempuan muda itu nyerocos memimpin rapat dengan memasukkan setiap ungkapan bahasa Arab dalam setiap kalimatnya.

Saya segera menyela dengan menanyakan apakah ia pengikut Ustadz Fulan. Saya mengenal ustadnya itu sebagai orang yang sangat saleh. Kesalehan itu ditampakkan dengan banyak memasukkan zikir dalam pembicaraan. Jika Anda datang ke pesantrennya, Andaakan menemukan pengumuman semacam, “Toko 100 meter lagi, insya Allah,” “Alhamdulillah, ini ruang makan,” atau “Allahu Akbar, ini mushalla.” (Kalimatnya tentu saja tidak persis seperti itu. Saya mengubahnya hanya supaya pesantren itu mudah-mudahan tidak teridentifikasi). Ustadnya sendiri memakai pakaian Arab – jubah dan serban. Jika Anda agak dekat dengan beliau, Anda akan mencium minyak kesturi, asli dibeli dari Madinah. Satu botol kecil minyak itu pernah diberikannya kepadaku. Bila saya memakai parfumnya itu, keluarga saya segera mendengus sambil berkata, “Bau Arab!”

“Kesalehan” perempuan itu dan ustadznya mengingatkan saya kepada serangan kawan saya yang kejawen: “Aku tidak mau mengikuti kamu, karena agama kamu itu agama Arab.Mungkin lebih baik bagiku ikut Kristen saja.” Saya menjelaskan kepadanya bahwa Islam itu agama universal, melintas ruang dan waktu. “Omong kosong,” kata dia, “buktinya kamu harus sembahyang dengan bahasa Arab. Dalam Kristen kita membaca Alkitab dalam bahasa Indonesia , dan sembahyang dengan menggunakan bahasa Indonesia .”
Untunglah waktu itu dan sampai sekarang, walaupun saya sudah diberi gelar kyai, saya tidak pernah memakai jubah atau serban yang dirancang gaya Arab. Saya tegaskan bahwa bahasa Arab itu hanya dipergunakan untuk membaca Al-Quran dan doa-doa standar dalam salat. Untuk menyampaikan doa sendiri, baik di dalam maupun di luar salat, kita boleh menggunakan bahasa Indonesia . Sambil sedikit menyerang balik, saya juga menyebut kebiasaan orang Katolik untuk menyampaikan doa-doa baku mereka dengan bahasa Latin atau para mahasiswa yang menyanyikan lagu Godiamus Igitur atau kalangan kedokteran yang terus menerus menggunakan bahasa Latin.
Sekiranya saya berdebat lagi dengan teman Kejawen itu sekarang, saya mungkin tidak berkutik. Ia akan menyebut perempuan muda itu (maaf, saya berulangkali menyebutnya karena kekaguman saya) dan berbagai contoh Islamisasi yang berbentuk Arabisasi: Protes kepada Gus Dur karena mau mengganti assalamu ‘alaikum dengan selamat pagi. Bank Islam yang mengganti istilah-istilah perbankan dari bahasa Inggris ke bahasa Arab. Hotel yang disebut Islami karena memasang kaligrafi Arab di setiap ruangan. Organisasi yang disebut Islami karena menyebut Anggaran dasar dengan Qanun Asasi. Sebuah buku Islam yang dikritik karena tidak ada tulisan Arab di dalamnya. Pesta pernikahan yang memisahkan tamu pria dari tamu perempuan. Lasykar Jihad yang gentayangan dengan jubah putih dan serban. Keharusan berwajah brewok dan berjanggut. Perempuan yang menutup seluruh mukanya (Empat contoh terakhir ini tidak berkaitan dengan penggunaan Bahasa Arab, tetapi merujuk pada kebudayaan Arab).

Betulkah kita harus menjadi orang Arab untuk menjadi Muslim yang baik? Betulkah namaapa pun sebaiknya harus diganti dengan nama Arab, bila kita masuk Islam atau naik haji? Inilah pertanyaan yang mengusik Dr. Jeffrey Lang (seorang mualaf yang menulis buku Even Angels Ask tentang pengalamannya sebagai muslim di Amerika, –red.) ketika ia masuk Islam. Ia memutuskan untuk tidak mengganti namanya, seperti Cassius Clay yang menjadi Muhammad Ali. Ia juga tidak melepaskan dasi dan jasnya untuk diganti dengan jubah dan serban seperti Cat Stevens, yang mengganti namanya menjadi Yusuf Islam. Ia juga pernah berusaha menggunakan thank God sebagai pengganti alhamdulillah dalam percakapan ringan di sebuah Islamic Center. Saya akan mengutip satu bagian dari buku Dr. Lang untuk Anda -masih dalam bahasa Inggris.

At the Islamic Center one evening, I was greeted by an American Muslim who asked me how things were going.
“Very well, thank God. And how are you?” I responded.
“Alhamdulillah!” (All praise belongs to God) he answered. “And how are you?” he asked again.
“Fine, thank God!” I repeated.

He looked dissatisfied and a few seconds later repeated his question, and I repeated my answer. Another few conversation, and then the same question and answer. I realized he would not give up until he received a satisafactory reply. I held on a little longer but finally gave him the answer he wanted: “Alhamdulillah, “I sighed.

With an approving look on his face he nodded, “Alhamdulillah.”

Banyak orang Islam memang merasa belum puas kalau belum menggunakan kata-kata seru –interjections– dalam bahasa Arab. Dengan jenaka, Dr. Lang menceritakan kawannya, yang tertarik dengan Islam. Supaya diterima penuh dalam masyarakat Islam, kawannya itu sudah menemukan kuncinya: “Pakai tutup kepala timur tengah, pelihara janggut panjang, katakan al hamdu lillah, ma sya Allah, as salamu alaikum, jazakallahu khayran dalam situasi yang tepat.” Kawannya yang lain, yang sudah masuk Islam, berkomentar bahwa orang Islam itu tampaknya menduga Tuhan hanya mengerti Bahasa Arab.

Kesan bahwa Islam itu agama orang Arab adalah salah satu di antar stereotip yang popular di Barat. Kita menyebutnya stereotip, karena kesan itu terus bertahan walaupun “survei membuktikan” bahwa lebih dari 85 persen umat Islam itu bukan Arab. Karena itu, tidak mengherankan jika para mualaf umumnya, termasuk Dr. Lang dan kawan-kawannya menangkap kesan itu.

Delapan tahun setelah masuk Islam, Dr. Lang membawa semua keluarganya pergi hijrah ke Arab Saudi. Ia ingin menikmati Islam dalam lindungan negara Islam, the land of the Prophet! Delapan tahun ia hidup bersama komunitas Islam dalam lingkungan budaya Amerika. Ia tertarik kepada Islam bukan karena perilaku orang Islam di Amerika. “My only Muslim contacts for many years were drug users, adulterers, and gamblers,” tulis Dr. Lang. Selama delapan tahun ia telah menyaksikan bagaimana Muslim yang salih saling mendengki, saling memaki, dan saling memfitnah. Dengan sedih ia harus menyaksikan kawannya, seorang Muslim bule juga, yang akhirnya pindah ke agama Budha, karena dalam agama Budha ia menemukan pemeluk agama yang mempraktekkan apa yang diajarkan agamanya. Dengen kecewa ia harus melihat di depan matanya bagaimana orang-orang Islam yang saleh itu menjual –Dr. Lang menggunakan kata “melacurkan”– agamanya untuk tujuan-tujuan duniawi (Hal yang tidak aneh di negeri kita dan juga di negeri-negeri Islam yang lain).

Ia melakukan hijrah ke Saudi bukan untuk menemukan masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Ia tahu keadaan masyarakat Islam seperti yang dipelajarinya dalam pengalaman hidupnya sebagai Muslim. Ia pergi ke negeri Rasulullah untuk menemukan kedamaian dan ketentraman dalam menjalankan ajaran Islam. Ia ingin menjalankan salat berjamaah, salat Jumah, puasa Ramadan dan liburan-liburan Islam bersama saudara-saudaranya kaum muslimin. Tetapi, setahun kemudian, ia terbang kembali, pulang ke kampung halamannya, ke Universitas Kansas . Ia menyadari bahwa “there was no escape for being American.” Karena alasan yang tidak bisa dipahaminya, Arab Saudi telah mencekiknya secara ruhaniah:

Di negeri yang menyaksikan kebangkitan Nabi Muhammad, yang mengandung dua kota Islam yang paling suci dan Ka’bah yang menjadi arah salat saya, negeri yang didominasi oleh kaum muslimin, dan tanah air bagi kebudayaan yang dipenuhi agama, saya merasa beku secara spiritual, tanpa harapan sama sekali. Di Arab Saudi, Islam berhenti sebagai kekuatan untuk perkembangan kepribadian, dan iman saya segera kehilangan daya hidupnya. Bukan karena negeri itu kekurangan orang-orang saleh dan beragama –sebaliknya, saya banyak berjumpa dengan kaum Muslimin yang ihklas dan taat di sana– tetapi dalam pandanganku, gerakan Islam di kerajaan Saudi diarahkan menuju masa lalu yang diidealisasikan. Saya tidak bisa menjadi bagian daripadanya; sesuatu pemahaman agama yang didasarkan pada penafsiran Islam, yang secara cepat kehilangan kepercayaanku.

Dr. Lang ingin meninggalkan watak keamerikaannya dan menjadi Muslim. Ia gagal. Tetapiia berhasil menemukan pencerahan baru. No escape for being American. Ia tidak perlu lari dari keamerikaannya. Menjadi Islam tidak berarti harus menanggalkan semua latar belakang budaya kita. Islam tidak pernah datang pada suatu vakum kultural. Karena itu, kita menemukan Islam Arab, Islam Iran , Islam India , Islam Cina, Islam Indonesia .Mengapa tidak boleh ada Islam Amerika?

Sebelum Dr. Lang sampai ke situ, di benua Eropa seorang mantan Komunis yang menjadi Muslim, Dr. Roger Garaudy menegaskan bahwa ada hambatan besar bagi kaum muslimin untuk mengembangkan ijtihad: keterikatan kepada masa lalu dan taklid kepada Barat.Yang pertama melihat masa lalu sebagai rujukan ideal. Pemikiran Islam terdahulu, hasil ijtihad orang-orang Islam ratusan tahun yang lalu dianggap begitu sakral sehingga sebagian kaum Muslim dengan bangga menyebut dirinya Salafi (Secara harafiah berarti merujuk kepada yang terdahulu, masa lalu, masa yang sudah lewat. Menurut Kamus, salafa berarti to be over, be past, be bygone, precede, antecede). Karena ratusan tahun pertama sejarah Islam bergabung dengan sejarah Arab, maka Islam masa lalu berjalin berkelindan dengan kearaban. Dari sinilah muncul anggapan bahwa menjadi Muslim adalah menjadi orang Arab. Mereka tidak bisa memisahkan antara kebudayaan Arab dengan ajaran Islam. Islam yang melintas ruang dan waktu sekarang dibatasi pada Ruang Arab dan Waktu yang lalu.

Dr. Lang pernah ditegur oleh orang Maroko karena tidak berpakaian yang sesuai dengan Sunnah. Pakaian yang “menyunnah” itu mestilah jalabiyah gaya orang Maroko. Iamengingatkan kawannya bahwa bahkan pakaian yang dikenakan oleh orang Saudi sekarang tidak sama dengan pakaian Hijaz abad keenam, pada zaman Rasulullah. Saya teringat kepada jenis-jenis busana Muslim sekarang ini. Menurut kawan saya dari Jemaat Tabligh, yang di situ Lang pernah menjadi salah seorang anggotanya, pakaian Islam bagi pria itu adalah pakaian orang India ( Pakistan ); yakni, kemeja yang memanjang sampai ke atas lutut. Bagi kebanyakan orang Indonesia , busana Muslim untuk salat dan acara keislaman adalah baju koko tanpa kerah. Bagi saudara saya dari Lasykar Jihad, pakaian Islami adalah pakaian orang Arab Selatan. Bagi saudara saya yang lain, yang terpengaruh Syiah, busana Muslim adalah apa yang dipakai oleh para mullah di Iran. Maka sah-sah saja kalau Dr. Jeffrey Lang mengusulkan agar busana Muslim bagi orang Barat ialah pakaian lengkap, dengan jas dan dasi.

Tapi, jika kita menerima usulan Lang, tidakkah kita jatuh pada hambatan besar kedua: mengekor Barat? Memang, di samping kaum “fundamentalis” yang mengekor kebudayaan Arab, kita menemukan juga kaum “liberal” yang mengekor Barat. Kelompok ini melihat Barat sebagai puncak peradaban. Mereka kemudian membungkus kebudayaan Barat dengan kemasan Islam. Saya pernah mendengar seorang mubalig –yang sekaligus doktor lulusan Amerika– bercerita di depan saya bahwa di Amerika Islamnya banyak tetapi Muslimnya sedikit; di Arab Saudi, Muslimnya banyak tapi Islamnya sedikit. Dari pemujaan kepada Barat yang berlebihan tidak jarang sebagian di antara mereka meninggalkan sebagian syariat, yang dianggapnya bukan ajaran Islam. Kelompok kedua ini juga jatuh pada jebakan kelompok pertama: tidak dapat memisahkan antara kebudayaan Arab dan ajaran Islam.

Agar tidak jatuh kepada jebakan-jebakan itu, Dr. Lang menganjurkan agar kita tetap mengembangkan sikap kritis. Ia menulis, “The most effective way to counter either danger is not to discourage questioning and criticism, but, on the contrary, the Muslim community should encourage both. We are most prone to error when we refuse to be self-critical.”Kita harus selau bertanya dan mempertanyakan. Even Angels Ask, bahkan malaikat pun bertanya! Lihatlah, bagaimana malaikat yang sangat dekat dengan Tuhan “berani” mempertanyakan kebijakan Tuhan untuk menujuk khalifah di muka bumi: Apakah Engkauakan jadikan di sana makhluk yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah (QS. Al-Baqarah; 30).

Pertanyaan malaikat inilah yang sangat mengesankan Dr. Jeffrey Lang. Ini juga yang membawanya kepada Islam. Jika ia ditanya mengapa masuk Islam, jawabannya singkat saja: Al-Quran. Bacalah Al-Quran dengan terus bertanya. Pada Bab 2 dari buku Even Angels Ask, Dr. Lang menunjukkan bagaimana setiap pertanyaan yang mengusik dia dijawab oleh rangkaian ayat-ayat Al-Quran satu demi satu. Membaca Al-Quran menjadi dialog ruhani yang menyejukkan.

Pada akhir bukunya, Dr. Lang menyarankan agar Islam Amerika harus menciptakan iklim intelektual yang mendukung penelitian kritis. Ia menyaksikan pada masyarakat Muslim di Amerika ada keengganan untuk menerima kritik satu sama lain. Mereka cenderung saling menuduh dengan tuduhan kafir atau bid’ah. Di antara sesama Muslim disebarkan desas-desus dan fitnah, berita dusta, dan pergunjingan. Seorang mualaf baru kawan Lang pernah berkata kepadanya bahwa hiburan favorit orang Islam adalah bergunjing dan menyebarkan fitnah.

Membaca buku ini dari awal sampai akhir adalah mengikuti perjalananan spiritual bukan saja seorang Muslim Amerika tetapi juga perjalanan intelektual Muslim di mana pun, ketikaia dihadapkan pada kegelisahan karena benturan Islam konseptual dengan Islam aktual.Dr. Lang menulis buku ini untuk anaknya. Ia sudah menjawab beberapa pertanyaan yang mengganggunya. Ia ingin agar anaknya melanjutkan penelitian kritis ini dengan berpijak pada hasil kajian kritisnya.

Apa saja yang sudah ia pertanyakan dan sudah ia temukan jawabannya? Secara singkat, iamengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini: Betulkah menjadi Muslim berarti menjadi Arab? Betulkah setiap Muslim harus berjuang mendirikan negara Islam, kalau perlu dengan menghancurkan negara Amerika? Betulkah Islam agama yang misoginis –yang membenci perempuan? Bagaimanakah strategi dakwah Islam di Barat, agar kita menarik non-Muslim ke pangkuan Islam dan sekaligus mempertahankan putra-putra Islam dalam pangkuan Islam? Seluruh buku ini menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang sangat menakjubkan. Ia menulis dengan sangat persuasif. Ia meyakinkan kita tidak saja dengan argumentasi yang logis dan tidak terbantahkan, bukan hanya dengan dalil akli dan nakli. Iajuga menyentuh emosi kita dengan kisah-kisah yang terkadang jenaka, terkadang mengharukan.
Seperti Dr. Murad Hofmann, muslim Jerman yang menulis Islam als Alternative, saya juga ingin menggaris-bawahi anjuran Lang agar kita tidak bersandar secara membuta pada masa lalu kita, tidak mendogmakan pendapat, kecuali kalau kita ingin jatuh pada atrofi dan kehancuran. Dengan latar belakang budaya kita masing-masing, marilah kita kembangkan Islam yang kontekstual, Islam yang tumbuh subur pada tanah mana pun. Bukan hanya Islam Arab, tetapi juga Islam Amerika, Islam India , dan tentu saja Islam Indonesia.

Kata Pengantar KH. Jalaluddin Rakhmat pada terjemahan bahasa Indonesia dari buku Jeffrey Lang, Even Angels Ask; A Journey to Islam in America.

DUA WAJAH ISLAM


14 09 2010
24 November 1990
Ketika media cetak sedang ramai membicarakan kasus Monitor, saya menemui Gus Dur di kantornya. Dengan suara datar, ia mengkritik umat Islam yang mengecam Asrwendo. 

“Saya baru saja mengirimkan tulisan buat EDITOR. Buat saya Arswendo memang gila, ia melakukan kesembronoan. Tetapi umat Islam juga gila, karena memprotes kasus ini dengan kasar. Jadi gila kasus ketemu kasus gila”, ujar Gus Dur sambil tertawa.

Gila, saya pikir, Gus Dur gila. Orang Gila membahas kasus gila dan gila kasus. Beberapa jam sebelumnya, saya dengan bangga membicarakan kasus ini sebagai ekspresi kekuatan politik Islam. Demonstrasi-demonstrasi itu adalah penegasan identitas Islam (halusnya, unjuk gigi). 

“Bukankah dengan begitu umat Islam dapat menakut-nakuti musuh-musuhnya!”, saya menegaskan. 

“Tetapi citra Islam sebagai agama pembawa rahmat, agama kebebasan, agama perdamaian menjadi rusak”, jawab Gus Dur masih dengan suara yang datar. 

Ketika banyak orang kecewa dengan Gus Dur, saya tidak. Kecuali hari itu. Saya meninggalkan kantor PBNU dengan sejumlah pertanyaan. Tidak ada yang lebih menyakitkan kecuali dikecewakan oleh orang yang kita cintai. 

Ketika kawan-kawan menanyakan pendapat saya tentang tulisan Gus Dur di EDITOR, saya menjawab seenaknya saja, Gus Dur itu orang yang istiqamah. Ia selalu konsisten menentang arus. Ketika kebanyakan umat sedang melakukan Islamisasi, Gus Dus mengemukakan kasus selamat siang. Ketika orang ramai mengecam Syiah, ia mengatakan (secara bergurau- menurut pengakunnya kemudian) bahwa NU secara kultural sudah syiah. Ketika banyak Kyai melihat film sebagai pembawa maksiat, Gus Dur menjadi juri festival film. Ketika di mana-mana orang “berlomba menjadi pahlawan Islam dari Arswendo” ia memilih menjadi “pahlawan Arswendo dari Islam”. 

Lama setelah itu, ketika protes terhadap Arswendo sudah mereda, saya melihat kembali tulisannya. Ia benar. Islam adalah agama rahmat, kebebasan, perdamaian, dan perbaikan. Sebagai pembela Islam, kita wajib menampilkan Islam dalam citra itu. Bukankah selama ini musuh-musuh Islam menyajikan Islam sebagai agama teror kekerasan, kerusakan dan hal-hal yang bizarre. Banyak tokoh Islam menuntut kebebasan pers dan demokrasi, tetapi kini mereka, mendukung pembredelan surat kabar.

Saya tiba-tiba merasa seperti Bismar Siregar. Begitu ia mendengar kasus gila itu, ia langsung berkata, gantung dia. Tetapi waktu itu juga ia teringat akan sikap pemaaf Rasulullah SAW. Ia buru-buru istighfar. Ia menyadari, ia dikuasai emosi sehingga tidak bisa lapang dada dan sabar seperti Nabi. Boleh jadi di tengah gejolak kasus Monitor, saya terbawa emosi sehingga melupakan citra Islam sebagai agama rahmat. Gus Dur telah mengingatkan saya.

Anehnya, segera saya membaca istighfar, terbayang lagi adegan demonstrasi yang saya saksikan. Massa yang dengan khusuk menyampaikan shalawat dan salam kepada nabi tercinta. Anak kecil yang pingsan tetapi mulutnya tetap meneriakkan nama Nabi Muhammad. Ustad yang terisak-isak menangis ketika mendengar nama Nabi yang mulia diletakkan di bawah Arswendo. 

Sayup-sayup dalam kenangan, saya mendengar Husein Fazlullah, Pemimpin Hizbullah Libanon: Bila kaum muslim tidak mendapatkan rasa aman – karena dihina, ditindas, dipojokkan – maka tidak boleh seorang pun memperoleh rasa aman di dunia ini. Pada saat penindasan menimpa kaum muslim, dan ketika mereka bangkit untuk menentangnya, mereka disuruh memaafkan. Mengapa kita harus menyebarkan rahmat kepada para penindas, tetapi tidak kepada orang tertindas. 

Perlahan-lahan wajah Gus Dur muncul lagi. Tampaknya ada dua wajah Islam. Pertama, wajah ramah, pemaaf dan pemelihara. Inilah wajah yang dipilih Gus Dur. Kedua, wajah yang tegas, keras dan penyerang. Inilah wajah yang dipilih Husein Fazlullah. Karena baik Gus Dur maupun Fazlullah ulama, saya ingin memilih kedua-duanya. Masalahnya bukan yang mana, tetapi bilamana. (Jalaluddin Rakhmat)
Sumber: http://almunawwarah.com

Jalaluddin Rakhmat: Dahulukan Akhlak di Atas Fikih


10 03 2011
SALAH satu perkembangan memprihatinkan di masyarakat Islam Indonesia belakangan ini adalah makin kuatnya kecenderungan meninggalkan akhlak ketika menghadapi perbedaan dalam paham keagamaan. Karena itu, Dr. Jalaluddin Rakhmat menulis buku Dahulukan Akhlak di Atas Fikih, yang akan diluncurkan pekan ini di Jakarta. Apa isi buku itu dan bagaimana Kang Jalal—sapaan cendikiawan muslim itu—melihat perkembangan masyarakat Indonesia?

Salah satu perkembangan memprihatinkan di masyarakat Islam Indonesia belakangan ini adalah makin kuatnya kecenderungan meninggalkan akhlak ketika menghadapi perbedaan dalam paham keagamaan. Karena itu, Dr. Jalaluddin Rakhmat menulis buku Dahulukan Akhlak di Atas Fikih, yang akan diluncurkan pekan ini di Jakarta. Apa isi buku itu dan bagaimana Kang Jalal—sapaan cendikiawan muslim itu—melihat perkembangan masyarakat Indonesia? Berikut perbincangan Burhanuddin dan M. Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (KIUK) dengan beliau, Kamis (29/9) lalu. 

JIL: Kang Jalal, tanggal 8 Oktober ini, Anda akan meluncurkan buku Dahulukan Akhlak di Atas Fikih. Apa latar belakang penulisannya?

DR. JALALUDDIN RAHMAT: Saya harus mengingat kembali pengalaman hidup saya. Saya dilahirkan dalam keluarga nahdliyin. Kakek saya punya pesantren di puncak bukit Cicalengka. Ayah saya pernah ikut serta dalam gerakan keagamaan untuk menegakkan syariat Islam. Begitu bersemangatnya, beliau sampai meninggalkan saya pada waktu kecil dan bergabung dengan para pecinta syariat. Saya lalu berangkat ke kota untuk belajar, dan bergabung mula-mula dengan kelompok Persatuan Islam (Persis) dan masuk kelompok diskusi yang menyebut dirinya Rijâlul Ghad, atau pemimpin masa depan.

Pada saat yang sama, saya juga bergabung dengan Muhammadiyah, dan dididik di Darul Arqam Muhammadiyah, dan pusat pengkaderan Muhammadiyah. Dari latar belakang itu, saya sempat kembali ke kampung untuk memberantas bid’ah, khurafat, dan tahayul. Tapi sebetulnya, yang saya berantas adalah perbedaan fikih antara fikih Muhammadiyah dengan fikih NU orang kampung saya. Misi hidup saya waktu itu saya rumuskan singkat: menegakkan misi Muhammadiyah dengan memuhammadiyahkan orang lain.

Tapi apa yang kemudian terjadi? Saya bertengkar dengan Uwa’ (paman) saya yang masih membina pesantren, dan penduduk kampung. Sebab, ketika semua orang berdiri untuk salat qabliyah Jumat, saya duduk secara demonstratif. Saya hampir-hampir dipukuli karena membawa fikih yang baru itu. Singkat cerita, melalui pengalaman hidup, saya menemukan bahwa fikih hanyalah pendapat para ulama dengan merujuk pada sumber yang sama, yaitu Alqur’an dan sunnah. Hanya saja, kemudian berkembang pendapat yang berbeda-beda. Kekeliruan saya waktu itu: berpikir bahwa fikih itu sama dengan Alqur’an dan sunnah. Artinya, kalau orang menentang Alqur’an dan sunnah, jelas dia kafir. Tapi kalau hanya menentang pendapat orang tentang Alquran dan sunnah, kita tidak boleh menyebutnya kafir. Itu perbedaan tafsiran saja.
Karena itulah kemudian saya berpikir bahwa sebenarnya ada hal yang mungkin mempersatukan kita semua, yaitu akhlak. Dalam bidang akhlak, semua orang bisa bersetuju, apapun mazhabnya. Lalu saya punya pendirian: kalau berhadapan dengan perbedaan pada level fikih, saya akan dahulukan akhlak. Kalau datang ke jamaah NU yang qunut subuh, demi ukhuwwah dan memelihara akhlak di tengah-tengah saudara saya, saya akan ikut qunut, walau saya misalnya orang Muhammadiyah yang tidak qunut. Tapi, ketika bergabung dengan orang-orang Muhammadiyah, saya mungkin tidak qunut demi menghargai jamaah sekitar saya. Itu yang saya maksud mendahulukan akhlak di atas fikih.

JIL: Akhlak di sini dalam makna seperti apa, Kang? Bukankah pandangan tentang akhlak juga berbeda-beda dan cenderung sektarian juga?

Menurut saya, akhlak sebenarnya tidak ada yang sektarian. Saya percaya, tidak ada relativisme moral, termasuk relativisme akhlak. Ada yang mengatakan bahwa akhlak itu relatif. Menurut saya, orang baik yang menurut orang lain bukan orang baik itu tidak ada. Apakah membantu orang lain, menyebar cinta kasih, menolong mereka yang teraniaya, baik menurut mazhab tertentu, tapi buruk menurut mazhab lain? Saya ingin tahu: adakah akhlak yang sektarianistis? Beri saya satu contoh agar saya tidak kebingungan. Katanya, orang bingung membaca buku saya, karena definisi akhlaknya membingungkan. Menurut saya, akhlak tidak usah didefinisikan. Sebab semua orang tahu mana akhlak baik dan mana yang buruk. Yang ingin saya tahu: kira-kira, apa akhlak yang baik menurut satu mazhab tapi buruk menurut mazhab lain?

JIL: Apakah dalam menentukan akhlak tidak akan terjadi perbedaan standar?

Menurut saya, boleh saja orang lain memakai standar berbeda-beda. Tapi, standarnya adalah akhlak yang disepakati bersama. Kalau bicara tentang akhlak, saya bicara tentang sesuatu yang kebaikannya disepakati bersama. Itulah yang disebut nilai-nilai universal, universal values. Dalam setiap agama, termasuk Islam, terdapat nilai-nilai universal itu. Kita bisa berbagi, hatta dengan agama lain dalam soal nilai-nilai universal ini. Kalau dianalogikan dengan hukum, jadinya kira-kira begini. Di hukum itu, sebenarnya ada masalah antara kepastian hukum dan keadilan. Kalau kita berpegang pada aksara, kepada hukum secara letterlijk, akan ada suatu situasi di mana hukum menjadi tidak adil. Di situlah kepastian hukum bertabrakan dengan ketidakadilan. Analogi itu bisa mengibaratkan soal akhlak dan fikih. Akhlak menurut saya adalah sesuatu yang pasti. Semua orang sepakat soal keutamaan akhlak. Yang tidak sepakat adalah tentang fikih. Jadi, daripada berpegang pada fikih yang tidak pasti, lebih baik kita berpegang pada akhlak yang sudah pasti.

JIL: Kang Jalal, apakah buku-buku fikih betul-betul alpa membahas soal akhlak? Saya kira, buku fikih Imam al-Ghazali, Bidâyatul Hidâyah, juga cenderung membahas soal akhlak.

Memang, al-Ghazali sendiri misalnya bercerita tentang sirr, ataurahasia dari semua aturan fikih. Misalnya, puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tapi juga mengendalikan diri dari segenap perbuatan yang dilarang Allah. Jadi ada juga unsur akhlaknya. Tapi kalau kita bicara fikih sebagai ilmu, tentu tidak begitu. Bacalah buku fikih apa saja, misalnya Kitâbul Fiqh `alal Madzâhib al-‘Arba`ah. Di situ sudahtidak ada lagi pembicaraan soal akhlak. Dan ingat, Imam al-Ghazali pun berbicara di situ dalam konteks pengajaran tasawuf; mencari rahasia di balik ritual, di balik syariat. Soal syariatnya sendiri tetap berpusat pada fikih. Sampai ada yang mengatakan fikih itu soal al-hukm biz dzawâhir. Jadi, fikih itu secara umum memang berpegang teguh pada hal-hal yang lahiriah. Sementara, al-Ghazali sendiri membedakan antara khalq dan khuluq, walaupun dalam penulisannya Arabnya sama. Khalq adalah gambaran lahir atau tubuh kita, sementara khuluq gambaran batin.

Jadi, khalq itu urusan fikih, sementara khuluq “sepatutnya” diurus oleh tasawuf. Artinya, dalam kenyataan, fikih terpisah dari studi akhlak, walau para ulama membahas fikih sekaligus menyertakan akhlak sebagai ilmu. Tapi yang ingin saya tekankan: walau kita mungkin belajar fikih tidak boleh terlepas dari akhlak, bahkan fikih harus menyempurnakan akhlak, dalam kenyataan sehari-hari, kita tetap sering menemukan tuntutan fikih yang bertentangan dengan tuntutan akhlak. Misalnya, tuntutan fikih saya sebagai orang Muhammadiyah adalah: membaca qunut waktu subuh, bid’ah hukumnya. Tapi sekarang saya hidup dalam komunitas NU. Tuntutan fikih saya “jangan qunut subuh”, tapi jemaah NU di tempat saya mengangkat saya sebagai imam.

Kalau saya tidak punya tuntutan akhlak untuk menjaga silaturahmi dengan masyarakat sekitar, lalu saya tidak qunut, pecahlah silaturahmi saya dengan kaum nahdliyyin. Mereka bisa pada lari dan mengulang salat, karena perbedaan fikih. Makanya, daripada menimbulkan keributan, lebih baik saya dahulukan akhlak. Apakah qunut itu sunnah atau bid’ah, itu soal pendapat dan pilihan hadis.
Saya ingin beri contoh yang bagus dari tokoh al-Ikhwan al-Muslimun, Hasan al-Banna. Konon, al-Banna masuk sebuah masjid pada bulan puasa ketika orang-orang sedang bertengkar soal jumlah rakaat tarawih. Satu kempok bilang 11, yang lain condong ke 23 rakaat. Itu jelas pertengkaran fikih. Al-Banna lalu bertanya pada kelompok yang mendukung 11 rakaat: “Menurut kalian, apa hukumnya salat tarawih?” “Sunnah!” jawab mereka. Kepada yang 23 juga ditanya hal sama. Jawabnya: “Sunnah!” Lalu dia bertanya lagi: “Apa hukum bertengkar antara sesama kaum muslimin di masjid?” Semua sepakat menjawab “haram”. Al-Banna lalu menyadarkan mereka, “Mengapa kalian melakukan yang haram demi mempertahankan yang sunnah?” Artinya, sebenarnya al-Banna sedang menjalankan prinsip mendahulukan akhlak di atas fikih.

JIL: Ada yang bilang, kalau sedang memberantas bid’ah yang dilarang agama, tidak relevan lagi bicara akhlak. Bukankah Nabi menyebut “kullu bid`atin dlalâlah wa kullu dhalâlatin fin nâr”? Jadi ini soal memberantas kemungkaran.

Pertama kita harus definisikan dulu makna bid’ah, atau bagaimana ia didefinisikan di tengah masyarakat. Pada awalnya, bid’ah bermakna sesuatu yang tidak diperintahkan Rasulullah. Ini merujuk hadis Nabi yang diriwayatkan dalam Kitab Shahîh Bukhari, “Man ahdatsa fî mâ laitsa `alaihi min amrinâ fahuwa radd”. Artinya, semua hal yang tidak kami perintahkan harus ditolak. Jadi, kalau sesuatu itu tidak diperintahkan Rasulullah, itu namanya bid’ah. Saya kira, semua setuju soal itu.

Bahkan, dalam riwayat Nabi yang lain bid’ah itu disebut muhdatsât, sesuatu yang baru, yang tidak pernah ada di zaman Nabi. Hadisnya: “Alâ iyyâkum wa muhdatsâtil umûr”, atau jauhilah olehmu perkara yang baru-baru dalam agama. Sebab, setiap yang muhdats itu bid’ah, dan setiap bid’ah sesat, dan setiap kesesatan akan ke neraka. Dulu ketika masih jadi kader Muhammadiyah, saya hapal sekali hadis itu. Jadi, bid’ah adalah sesuatu yang baru, yang tidak ada dalam perintah Rasulullah.

Tapi dalam perkembangan zaman dan pada kenyataan di masyarakat, yang disebut bid’ah itu ialah soal ibadah-ibadah. Dan anehnya, memang yang kita sebut bid’ah hanya ada dalam aspek ibadah, khususnya yang dijalankan orang lain, yang dalilnya tidak sama dengan kita. Maksudnya, qunut pada waktu subuh itu bid’ah, karena dalil tentang qunut subuh itu dla`îf atau lemah menurut orang Muhammadiyah, tapi tidak dla`îf menurut orang NU. Bahkan dalam sahih Bukhari dikatakan bahwa, Rasulullah qunut pada waktu subuh dan maghrib. Artinya, ada dalilnya, dan ada contoh Nabi. Yang pertama tadi juga punya contoh dari Nabi. Hanya saja, karena kita berbeda-beda dalam memilih hadis, maka yang mengambil hadis lain disebut bid’ah. Makanya, dalam soal seperti itu, perbedaannya kadang soal memilih hadis, atau dalam mendla`ifkan atau mensahihkan hadis.
Tapi, saya tetap setuju bahwa bid’ah yang benar-benar tidak ada keterangannya dalam Alqur’an dan hadis harus kita tolak. Tapi, kalau ternyata ada keterangannya dalam hadis, walau menurut kita dla`îf, kita harus bertoleransi pada orang lain untuk berpendapat dan menganutnya. Dan kalau kita menjalankan hal seperti itu, kita tidak berbuat dosa, tidak masuk neraka, dan tidak sesat.
Saya beri satu contoh kecil dari Imam Abu Hanifah dan Imam Syafii. Suatu saat, Imam Sayfii salat di Baghdad yang dulu bernama Kufah. Dia tidak qunut pada waktu subuh. Lalu orang-orang bertanya: “Kenapa Anda tidak qunut?” Imam Syafii menjawab, “Aku menghormati shâhib tilkal maqbarah” (penghuni kuburan di situ). Ketika itu, Imam Abu Hanifah sudah meninggal dunia dan orang di sekitar situ tetap mengikuti pahamnya. Maka, demi menghormati Abu Hanifah, Imam Syafii tidak membaca qunut. Menurut saya, itu adalah prinsip mendahulukan akhlak di atas fikih.

JIL: Mengapa umat Islam lebih mementingkan fikih daripada akhlak?

Saya tidak tahu apakah telah membuat beberapa alasan dalam buku saya soal itu atau tidak. Buku saya itu sebenarnya terbagi dua. Pertama membahas mengapa kita harus mendahulukan akhlak di atas fikih, berujung pada contoh Rasulullah, para sahabat, dan para imam mazhab. Pada bab kedua saya menceritakan târîkhut tasyrî`al-islâmî atau sejarah legislasi hukum Islam dengan al-manhaj al-naqdî. Jadi buku ini mencoba mengkritik ushul fikih juga.

Kita ini selalu merasa yakin bahwa fikih kita yang paling benar dan fikih orang lain keliru. Itu sebenarnya bersumber dari kepercayaan yang berlebih-lebihan akan kebenaran fikih kita. Padahal, fikih itu dalam prosesnya selalu membuka ruang kritik. Dulu, Imam Syafii mengkritik konsep istihsân mazhab Abu Hanifah. Kalau cara dan argumentasi Imam Syafii itu kita gunakan sekarang, dia bisa dipakai untuk mengkritik konsep qiyâsh yang diajarkan Imam Syafii sendiri. Jadi ushul fikih itu selalu membuka peluang kritik.

Apa arti semua itu? Artinya, kita harus tawâdlu` atau rendah hati; bahwa semua fikih mengandung unsur manusia di dalamnya. Karena itu, semua fikih mengandung unsur kesalahan. Anda tentu tahu ucapan seorang ulama: fikih dia benar, tapi mengandung kemungkinan keliru (ra’yî shawâb wa yahtamilul khata’); begitu juga sebaliknya. Saya tidak tahu sejak kapan aliran mushawwibûn itu tersingkir dari masyarakat dan diambil-alih aliran mukhatti’ûn. Tapi tampaknya, aliran yang suka menyalah-nyalahkan orang itu muncul sejak adanya aliran pembaharuan yang juga suka menyalah-nyalahkan.

JIL: Apakah mindset atau paradigma berpikir tertentu juga menjadi soal?

Ya, betul. Saya pernah cerita tentang dua paradigma atau cara memandang persoalan. Pertama, paradigma akidah. Dalam paradigma ini, hanya ada satu akidah yang benar, dan hanya satu kelompok yang masuk surga. Dengan begitu, hanya ada satu kebenaran. Baik-buruknya seseorang diukur berdasarkan akidah. Padahal, walau banyak orang mengatakan akidah itu ushûl atau sesuatu yang pokok, ia seringkali juga bersifat furû’ atau cabang. Jadi ada furû`-furû` akidah.

Ini sebenarnya penjelasan untuk orang awam karena mereka sering ditipu bahwa akidah adalah ushûl, dan kalau akidah seseorang tidak sama, maka ia akan kafir dan seluruh amal salihnya tidak diterima Tuhan. Orang kemudian diukur dari akidah; kalau akidahnya sama dengan kita, dia akan sama mulianya. Kalau akidahnya tidak sama, dia langsung direndahkan, mungkin disamakan dengan binatang, bahkan dihapuskan dari segala unsur kemanusiaannya. Seluruh hak-hak dia sebagai manusia hilang karena urusan akidah.

Nah, paradigma yang saya promosikan adalah paradigma akhlak. Dalam paradigma kedua ini, manusia selalu diukur dari kemuliaan akhlak, kontribusinya terhadap kehidupan sosial, dan pemihakannya pada keadilan. Itulah paradigma akhlak. Menurut saya, paradigma ini lebih bersih dari manipulasi pemikiran. Paradigma akidah bisa ditafsirkan macam-macam. Misalnya, ziarah kubur itu menurut sebagian orang musyrik. Tawâshul dan tabarruk juga dianggap kemusyrikan. Begitulah paradigma akidah. Akibat lanjut paradigma ini, kalau betul-betul konsisten diterapkan—untungnya, kebanyakan tidak konsisten—bisa menjurus pada perpecahan luar biasa di kalangan umat Islam.

JIL: Kang Jalal, kalau ditanya mana yang lebih baik, muslim yang taat ibadahnya tapi tidak baik akhlaknya, atau yang kurang taat tapi berakhlak baik, mana yang Anda pilih?

Dulu saya selalu menjawab soal ini dengan cara mengelak. Saya katakan, yang baik ialah yang salat dan akhlaknya bagus. Tapi jawaban itu tidak jujur, karena pilihannya hanya dua: (a) salatnya baik, tapi berakhlak buruk; (b) salatnya buruk, tapi akhlaknya baik. Jadi tidak ada pilihan (c) yang salat dan akhlaknya baik di situ. Kalau jawaban berkelit itu saya berikan dalam ujian, jelas saya tidak lulus, karena memang tidak ada dalam kategori.

Karena itu, sekarang saya akan menjawab: lebih baik yang akhlaknya bagus sekalipun salatnya buruk, ketimbang salatnya bagus tapi akhlaknya buruk. Dalilnya: satu, karena sebaik apapun salat kita akan terhapus pahalanya oleh akhlak yang buruk. Haji juga begitu. Sekalipun ia dijalankan sebaik-baiknya, malah mungkin setiap tahun, kalau di dalam pelaksanaannya ada rafats, fusûq, dan jidâl, hajinya tidak sah. “Faman faradla fî hinnalhajja falâ rafatsa walâ fusûqa walâ jidâla fil hajj,“ Itu dalil Alqur’annya.

Dalam ayat lain juga disebutkan, kalau sedekah kita disusul dengan ucapan yang menyakiti hati, maka sedekahnya akan batal. Dalam Alqur’an diterangkan, “La tutbi’û shadaqâtikum bil manni wal ‘adzâ”, atau jangan kamu batalkan sedekahmu dengan menggerutu dan menyakiti hati orang yang menerima.
Alqur’an juga mengatakan, kalau orang menyakiti sesama manusia akan dilaknat Allah di dunia dan akhirat. Dalam surah al-Ahzâb: 56 dikatakan, “Innalladzîna yu’dzûnalLâh wa rasûlah la`anahumulLâhu fid dunyâ wal âkhirah, wa ‘a`adda lahum adzâban mubîna. Wallladzîna yu’dzûnal mu’minîna wal mu’minâti bighairi mâ iktasabû faqad ihtamalû buhtânan wa itsman mubîna”. Intinya, mereka yang menyakiti orang lain itu sedang menghapus seluruh amalnya.
Sebuah hadis qudsi juga mengatakan: “Ya Ahmad, katakan kepada orang-orang yang zalim itu agar tidak masuk rumah di antara rumahmu, karena sudah menjadi kewajiban bagi-Ku untuk menyebut orang yang menyebut namamu. Dan kalau seseorang menyakiti orang lain dan menyebut namamu, Aku akan menyebut namanya juga”. Dan di situ diterangkan, “wa dzikrî iyyâhu ‘an al`anahu” (zikirku padanya adalah: Aku melaknat dia). Jadi, setiap kali orang salat, tapi akhlaknya buruk, suka menyakiti orang lain, maka setiap kali dia menyebut “Allahu akbar” dalam salat, Allah justru melaknatnya. Artinya, salatnya hanya berfungsi untuk mengumpulkan laknat Allah. Jadi, betapa kasihan orang yang salatnya baik tapi akhlaknya buruk, karena seluruh ibadah salatnya gugur.
Satu lagi nilai paling penting yang perlu disampaikan di bulan puasa ini adalah hadis yang termuat di kitab Ihyâ `Ulûmiddîn. Saat itu, kepada Rasulullah dilaporkan bahwa “Inna fulânah tashûmun nahâra wa taqûmul lailâ walâkin tu’dzî jirânaha bilisâniha” (ada seorang yang rajin puasa siang dan salat malam, tapi suka menyakiti tetangga dengan lidahnya). Apa kata Rasulullah? “Hiyâ fin nâr” (dia di neraka). Kesimpulan saya: lebih bagus yang akhlaknya baik tapi salatnya jelek, ketimbang salatnya baik tapi akhlaknya jelek. 

JIL: Bagaimana kalau ada yang mengatakan itu karena salatnya memang tidak benar. Kalau salatnya sudah benar, semua akan benar?

Kita memang pernah mendengar hadis bahwa “yang pertama kali diperiksa dari seorang hamba di akhirat kelak adalah salatnya”. Artinya, “Ídza shaluhat, shaluha sâ’iru `amalih, wa idzâ fasadat, fasada sa’iru `amalih,” (kalau beres salatnya, bereslah seluruh amalnya, dan jika rusak, rusaklah seluruh amalnya). Hadis ini bisa diartikan bahwa kalau seseorang menjalankan salat dengan baik, pastilah akhlaknya akan baik. Tapi tadi kita berhadapan dengan pertanyaan yang contradictio in terminis; “salatnya baik, tapi akhlaknya buruk”. Karena itu, ada yang menjawab hal itu tidak mungkin. Sebab kalau salatnya baik, pasti akhlaknya akan baik.

Tapi, sayang kriteria salat yang baik itu sangat fiqhiyyah atau berbau fikih. Artinya, tetap saja bergantung pada mazhab yang mana. Menurut mazhab Syafii, salat yang baik adalah dengan qunut. Tapi menurut Hanbali, salat yang baik tanpa qunut, kecuali pada saat perang. Dan begitulah seterusnya. Artinya, ada asumsi kalau salat itu sesuai dengan mazhab tertentu, barulah ia dikatakan baik.

Saya pernah menemukan beberapa kitab yang berjudul Shalatun Nabi. Waktu saya baca, ternyata salat ala mazhab Hanafi. Saya beli lagi buku dengan judul yang sama; ternyata salat menurut mazhab Hanbali. Orang Syiah juga punya buku tuntunan salat ala Syiah. Judulnya juga senada, Shalatun Nabi. Jadi, apa yang disebut salat yang paling sesuai contoh Nabi itu, dan dengan itu menjadi salat yang paling baik, juga bergantung pada mazhab tertentu.
Yang kedua, dalam kenyataan sosial di masyarakat, kita tak jarang menemukan orang yang rajin dan khusuk salat, rajin haji, tapi juga khusyuk korupsi. Nah, apakah hadis itu salah dan Rasulullah keliru? Saya yakin, Rasulullah tidak salah. Yang salah adalah penafsiran kita terhadap hadis itu. Karena itu, tafsiran saya ialah: ukuran baik-buruknya salat bukan pada standar mazhab, tapi dilihat dari ukuran akhlaknya di tengah masyarakat. Kata Rasulullah, “Idzâ shaluhat, shaluha sâ’iru `amalih”.

Jadi, kalau ingin tahu baiknya salat seseorang, lihatlah amalnya di masyarakat. Kalau amalnya baik, itu berarti salatnya baik, tidak peduli apa mazhabnya. Jadi, test case-nya tetap di masyarakat. Kalau saya datang ke sebuah kampung dan bertemu seseorang yang akhlaknya bagus, tapi kebetulan fikihnya berbeda dengan saya, saya akan tetap menghormati dan mencium tangannya. Orang-orang yang dermawan akan saya cium tangannya, tidak peduli dari mazhab, bahkan agama apa pun. Tapi soal ini jangan dikomentari macam-macam; seperti ada maksudnya.

Sekarang tesis saya yang terakhir, bukan yang terbaru: hablun minalLâh atau hubungan baik dengan Tuhan itu diukur dari hubungan baik dengan sesama manusia (hablun minan nâs). Jangan ada yang merasa sudah takwa pada Allah hanya karena ibadahnya baik. Tapi, lihatlah apa kontribusi dia bagi kemanusiaan. Alqur’an sendiri mengatakan bahwa orang-orang yang membanggakan ritus-ritus agama tapi tidak ada buktinya dalam kehidupan bermasyarakat—misalnya tetap sombong, suka menindas, dan tidak punya empati pada penderitaan orang—mereka dianggap pendusta agama. Ayatnya: “Ara’aital ladzî yukaddzibu bid dîn, fadzâlikal ladzî yadu`ul yatîm…” (Tahukah Engkau siapa para pendusta agama? Mereka adalah orang yang tidak peduli pada anak yatim…, Red).

Jadi, hablun minallâh juga akan rusak kalau hablun minan nâs kita rusak. Tapi jika hablun minan nâs seseorang baik, itu berarti hablun minalLâh-nya juga baik. Jadi ukuran hablun minalLâh adalah hablun minan nâs agar ukurannya bisa kita lihat. Sebab, ukuran hablun minalLâh itu tidak bisa kita lihat; bagaimana sih tali yang merentang kepada Allah itu?! Kalau tali yang merentang di antara sesama manusia, kita akan bisa melihatnya, dan ukurannya cukup banyak. []