Tuesday, October 11, 2011

JALALUDDIN RAKHMAT: Dikotomi Sunni-Syi’ah Tidak Relevan Lagi


23 03 2011
TANYA: Ada yang bilang bahwa Syi’ah di Indonesia itu sebenarnya bukan mazhab baru, tetapi sudah lama. Hanya saja mungkin ia tidak tersebar luas sebagaimana mazhab Sunni. Bagaimana Kang Jalal melihat perkembangan Syi’ah di negeri ini?

JAWAB: Ada beberapa teori tentang kedatangan Syi’ah di Indonesia. Teori pertama merujuk pada masa penyebaran Islam di Indonesia. Jadi, menurut teori ini, dahulu orang-orang Syi’ah yang dikejar-kejar oleh penguasa Abbasiyah lari dari Timur Tengah sebelah utara, yang sekarang mungkin daerah Irak, ke sebelah selatan –dibawah pimpinan seorang yang bernama Ahmad Muhajir– sampai ke Yaman. Mereka menghentikan pelarian di puncak-puncak bukit yang terjal. Kisah ini dimuat dalam beberapa kitab Syi’ah. Alkisah, pemimpinnya, Ahmad Muhajir, waktu itu mematahkan pedangnya dan kemudian mengatakan, “Wahai saat ini kita ganti perjuangan kita dengan pena.”

Kemudian mereka semua secara lahir menganut mazhab Syafi’i. Mereka bertaqiyyah sebagai pengikut mazhab Syafi’i di daerah Yaman, Hadramaut. Sehingga di dalam kamus Munjid edisi lama, pada kata ‘Hadramaut’ ditulis: sukkanuha syi’iyyuna syafi’iyyuna; penduduknya orang-orang Syi’i yang bermazhab Syafi’i. Saya kira Munjid itu merekam mereka. Dari Hadramaut inilah menyebar para penyebar Islam yang pertama, khususnya kaum ‘Alawiy, orang-orang keturunan Sayyid, atau yang mengklaim sebagai keturunan Sayyid. Mereka datang ke Indonesia dan menyebarkan Islam. Tetapi ketika mereka datang ke Indonesia, di luar, mereka Syafi’i, di dalam, mereka Syi’i.
Belakangan ada bukti-bukti lain yang memperkuat teori ini. Misalnya, pernyataan Abdurrahman Wahid bahwa NU secara kultural adalah Syi’ah. Hal itu karena tradisi Syafi’i di Indonesia –berbeda dengan tradisi Syafi’i di negeri-negeri lain– sangat kental diwarnai tradisi-tradisi Syi’ah. Ada beberapa shalawat khas Syi’ah yang sampai sekarang masih dijalankan di pesantren-pesantren. Ada wirid-wirid tertentu yang jelas menyebutkan lima keturunan Ahlul Bait. Kemudian juga tradisi ziarah kubur, lalu membuat kubah pada kuburan. Itu semua tradisi Syi’ah. Tradisi itu lahir di sini dalam bentuk mazhab Syafi’i. Jadi di luarnya Syafi’i di dalamnya Syi’i.
Masih ada juga bukti-bukti ritus khas Syi’ah –bukan khas Syafi’i– yang populer di Indonesia. Salah satunya ialah tahlilan hari ke satu atau keempatpuluh (setelah kematian seseorang) dan juga haul. Itu tradisi Syi’ah yang tidak dikenal pada mazhab Syafi’i di Mesir. Lalu, di kalangan NU setiap malam Jum’at sering dibacakan shalawat diba’. Pada shalawat itu disebutkan seluruh Imam Syi’ah yang dua belas. Dan itu mereka lakukan setiap malam Jum’at, seperti pembaruan bai’at, kepatuhan pada dua belas Imam.
Untuk memperkuat itu, ada juga kebiasaan orang-orang Indonesia yang menganut mazhab Syafi’i untuk menghormati –kadang-kadang secara berlebihan– keturunan Nabi yang mereka artikan sebagai Ahlul Bait. Saya sebut secara berlebihan karena menurut orang-orang Syi’ah, Ahlul Bait itu hanya terbatas kepada dua belas Imam yang ma’shum. Jadi, tidak semua keturunan Nabi adalah termasuk Ahlul Bait. Mereka juga percaya bahwa semua Ahlul Bait itu pasti masuk surga, dan mereka tak berdosa. Kepercayaan itu merata, khususnya pada kalangan Muslim yang awam.
Kemudian di Surabaya ada seorang peneliti (kalau tidak salah namanya Agus Sunyoto) dari sebuah lembaga penyiaran Islam (nama lembaganya saya lupa; dipimpin oleh Dr. Saleh Jufri), yang pernah melakukan penelitian terhadap kuburan-kuburan di Jawa Timur. Ia menemukan bahwa kuburan-kuburan itu adalah kuburan-kuburan orang Syi’ah. Ia punya dugaan keras bahwa Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia itu Islam Syi’ah. Kemudian, Ali Hsymi juga pernah menulis buku tentang Syi’ah di Indonesia dan ia punya teori bahwa Isalm yang pertama datang ke Indonesia ini adalah Islam Syi’ah. Menurut Agus Sunyoto, sebagian besar dari wali yang sembilan itu adalah Syi’ah, kecuali satu (kalau tidak salah Sunan Kalijaga atau entah siapa, saya tidak ingat betul; itulah yang suni). Itu dari segi bukti-bukti sejarah.
Teori kedua, Islam yang datang ke Indonesia itu Islam Sunni. Tetapi kemudian Syi’ah masuk terutama melalui aliran-aliran tarekat. Soalnya, dalam tarekat, Syi’ah dan Sunni bertemu sudah sejak lama. Ambillah contoh tarekat Qadriyyah-Naqsabandiyyah. Silsilahnya bersambung kepada imam-imam Syi’ah. Sisilahnya begini: dari Allah, Malaikat Jibril, Rasulullah, Ali, Husain, Ali bin Husain, terus kepada Imam Syi’ah sampai Imam Ali Ridha. Dari situ barulah keluar kepada silsilah yang lain. Tetapi tujuh atau delapan yang awal itu adalah para imam Syi’ah.
Tampaknya, menurut teori kedua ini, Islam yang datang ke Indonesia ialah Islam Sunni. Tetapi, karena Islam yang pertama datang itu Islam yang bersifat mistikal, maka pengaruh-pengaruh Syi’ah masuk lewat Islam yang mistikal itu. Ritus-ritus yang disebutkan tadi tidak menunjukkan bahwa Syi’ahlah yang pertama datang ke Indonesia. Itu hanya sekedar menunjukkan adanya pengaruh Syi’ah yang masuk ke dalam pemikiran Ahlussunnah lewat Syafi’i. Ada juga yang punya teori Islam itu dulu pernah disebarkan ke Indonesia lewat orang-orang Persia. Ada yang menyebutkan mereka juga pernah tinggal di Gujarat, di India Barat yang kebanyakan adalah Syi’ah.
Teori ketiga, Syi’ah itu baru datang setelah peristiwa Revolusi Islam Iran (RII), dimulai antara lain dengan tulisan-tulisan Ali Syariati dan disusul dengan tulisan-tulisan pemikir Islam Iran lain. Sebetulnya, banyak orang yang terpengaruh Syi’ah hanya kerena peristiwa RII. Belakangan, kadang-kadang orang mendefinisikan Syi’ah sebagai siapa saja yang bersimpati terhadap RII. Misalnya, Mas Amien Rais, pernah menerima gelar Syi’ah juga. Bahkan sebuah buku kecil pernah ditulis tentang ciri ke-Syi’ah-an Amien Rais. Saya kira sebabnya sederhana saja: karena mas Amien Rais memang sering memuji RII. Boleh jadi ada juga orang yang menyebut mas Dawam Rahardjo itu Syi’ah, karena ia sangat apresiatif terhadap Iran, sampai seringkali memuji-muji ulama Iran.

TANYA: Sementara ini ada dugaan bahwa di antara empat mazhab fikih (Sunni), tampaknya yang paling dekat dengan Syi’ah adalah mazhab Syafi’i. Misalnya, Imam Syafi’i sendiri pernah mendapat tuduhan dari ulama-ulama lain bahwa dirinya itu Syi’ah. Bagaimana pendapat Kang Jalal?

JAWAB: Salah satu dugaan yang mungkin bisa kita pahami sebagai argumentasi untuk menolak Syi’ah yang berbaju Syafi’i ialah kenyataan bahwa Imam Syafi’i itu sangat simpatik terhadap Syi’ah. Banyak syairnya tentang mazhab Ahlul Bait. Dalam syair-syair itu tampak jelas simpati Imam Syafi’i kepada Sayyidina Ali. Misalnya, “Keluarga Rasulullah wasilahku”, atau “Aku mengendarai perahu Ahlul Bait”, atau ada dikatakan “Sekiranya mencintai keluarga Rasul itu Syi’ah, biarlah seluruh jin dan manusia tahu bahwa aku Syi’ah.” Dan masih banyak lagi
Jadi argumentasinya bukan bahwa Islam yang datang ke Indonesia itu Syi’ah yang berbaju Syafi’i, tetapi memang mazhab Syafi’i. Sebab Imam Syafi’i memang sangat simpatik terhadap Syi’ah. Menurut riwayat, Imam Syafi’i itu pernah diseret dari Hijaz ke Syria dalam belenggu besi dan dihadapkan kepada Harun al Rasyid. Satu demi satu kawannya ‘dipotong’ dan hanya Imam Syafi’i yang selamat. Konon, Imam Syafi’i itu diseret karena simpatinya terhadap Syi’ah.
Sebagian malah menduga bahwa Imam Syafi’i sebetulnya bukan hanya simpati, tetapi juga termasuk orang yang berpaham Syi’ah. Jalaluddin al Suyuti, yang menulis tafsir Al Dur al Mantsur fi al Tafsir bi al Ma’tsur, juga dicurigai sebagai Syi’ah hanya karena banyak meriwayatkan tentang keutamaan keluarga Nabi. Hal seperti itu tidak baru pada Syafi’i. Banyak ahli hadits yang juga dituduh sebagi Syi’ah hanya karena banyak meriwayatkan tentang keutamaan keluarga Nabi. Al Turmudi, misalnya, dikeroyok orang, malah tubuhnya diinjak-injak sampai meninggal dalam perjalanan, hanya karena meriwayatkan keutamaan sayyidina Ali. Al Turmudzi itu perawi hadis di kalangan Ahlu Sunnah. Ada seorang perawi hadis, ulama besar, namanya Sulaiman al-A’mas. Ia termasuk salah seorang rijal dalam Shahih Bukhari. Al A’mas juga dituduh sebagai Syi’ah karena meriwayatkan tentang sayyidina Ali. Ketika dipanggil Al Mansur, ia hampir dihukum mati.
Imam Syafi’i boleh jadi bukan Syi’ah. Ia seorang yang dengan pemikiran ilmiahnya harus meriwayatkan hadis-hadis tentang Ali. Dari Imam Syafi’i lah misalnya keluar ucapan, “Ajaib benar hadis-hadis tentang Ali. Musuh-musuhnya tidak ingin meriwayatkannya, karena kebenciannya. Para pengikutnya juga tidak ingin melaporkannya, karena ketakutan mereka. Walaupun begitu, hadis-hadis tentang keutamaan Ali memenuhi di antara dua jilid (maksudnya hadis-hadis itu bisa dikumpulkan menjadi satu buku yang tebal).”
TANYA: Dari penjelasan Kang Jalal tadi, tampaknya definisi atau identifikasi tentang Syi’ah di Indonesia itu masih kabur. Menurut Kang Jalal sendiri bagaimana?
JAWAB: Memang sulit kita mengidentifikasikan Syi’ah di Indonesia ini. Dr. Farid Alatas (keponakan Prof. Dr. Naquib Alatas) pernah melakukan penelitian tentang Syi’ah di Indonesia. Ia mengalami kesulitan untuk mendefinisikan Syi’ah itu. Jadi kalau saya ‘misalnya’ ingin meneliti Syi’ah di Indonesia, saya harus mengenal populasinya. Siapa yang akan saya wawancarai itu. Tentu haruslah orang-orang Syi’ah di Indonesia. Nah, itu sulit definisinya. Karena itu, juga sulit untuk menghitung berapa jumlahnya di Indonesia.
Di sini saya ingin sebutkan beberapa definisi tentang Syi’ah di Indonesia. Pertama, Syi’ah itu adalah orang-orang yang meyakini bahwa Sayyidina Ali adalah yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah. Syi’ah seperti ini banyak. Boleh jadi masuk ke dalamnya Syi’ah Zaidiyyah yang memang punya akar di Indonesia. Ada juga beberapa orang di antara ‘Alawiy yang merupakan pengikut Syi’ah Zaidiyyah. Markasnya di Yaman. Mereka tidak menjalankan ritus-ritus Syi’ah, tetapi akidahnya Syi’ah.
Kedua, orang Syi’ah adalah orang yang memegang akidah dan juga menjalankan ritus-ritus Syi’ah. Fiqihnya juga fikih Syi’ah. Saya tidak enak untuk menyebutkan contohnya di sini.
Ada orang yang menyebut Ustad Muhammad Bagir, sebagai Syi’ah karena telah menerjemahkan rujukan-rujukan yang membela Syi’ah. Ia juga membela Syi’ah apabila Syi’ah diserang. Tetapi, orang yang datang ke rumahnya akan tahu bahwa ia seorang Sunni, betul-betul Sunni. Karena ritus-ritusnya, ibadah-ibadahnya, semua serba Sunni. Pernah seorang ulama Syi’ah kecewa melihat Ustad Bagir karena tidak se-Syi’ah seperti yang ia duga. Itu, lagi-lagi, karena masalah definisi.
Jadi, buat orang seperti ulama itu, Pak Bagir bukan Syi’ah. Tetapi buat yang lain, yang menggunakan definisi yang lain, Pak Bagir itu Syi’ah. Mungkin juga kalau ada orang yang mengikuti saya dalam kegiatan ibadah saya, misalnya, bermalam satu hari bersama saya, dan menyaksikan saya salat di masjid Sunni, saya beribadah secara Sunni, maka mereka akan mengambil kesimpulan bahwa saya bukan Syi’ah.
Akan tetapi, lewat definisi yang lain, yakni definisi ketiga, Syi’ah itu adalah orang-orang yang terpengaruh oleh pemikiran Syi’ah, baik dalam bidang akidah, filsafat, atau tasawuf dan menggunakan buku-buku Syi’ah sebagai rujukan. Atau juga, mereka yang dikenal membela ajaran-ajaran Syi’ah disebut Syi’ah. Dengan definisi itu, mungkin saya termasuk.
Kalau definisi-definisi itu kita persempit saja pada orang-orang yang, misalnya, akidahnya sudah Syi’ah dan ritus-ritusnya sudah mereka jalankan, kitapun mengalami kesulitan. Sebab, masalahnya bukan terletak pada apakah ia menjalankan ritus-ritus Syi’ah? Atau, apakah ia menjalankan fikih Syi’ah atau tidak? Sebetulnya bukan masalah “Ya” atau “Tidak”, tetapi masalah jumlah, masalah proporsi. Ada orang yang sudah menjalankan fikih Syi’ah itu 10% saja. Misalnya, ia hanya ikut ritus-ritus Syi’ah pada acara-acara muharraman saja. Kemudian pada doa-doa saja. Ada beberapa ulama di Indonesia sekarang ini yang rajin membacakan doa-doa Syi’ah. Bahkan, ada beberapa pengajian ibu-ibu di Jakarta yang Sunni betul –atau barangkali mereka tidak tahu apakah mereka Sunni atau Syi’ah– yang sering melazimkan doa-doa Syi’ah.
Jadi, ketika kita berbicara bahwa yang disebut Syi’ah ialah mereka yang ritus-ritusnya adalah ritus Syi’ah, maka kita akan mengalami kesulitan karena proporsi menjalankan ritus Syi’ah itu bermacam-macam. Ada yang 50%, ada juga yang sudah 70%, dan sebagainya. Kesulitan kita mengidentifikasikan Syi’ah bukan saja karena orang-orang Syi’ah ‘katanya’ selalu taqiyyah, dan tidak mau menyatakan dirinya Syi’ah, tetapi juga karena proses sosialisasi nilai-nilai Syi’ah itu yang bertahap-tahap, tidak sama, sehingga kita sulit mendefinisikan secara tepat siapa orang-orang Syi’ah.
TANYA: Tetapi, lepas dari definisi Syi’ah yang agak ketat, bagaimana sebenarnya perkembangan Syi’ah di Indonesia secara umum?
JAWAB: Di sini saya ingin membagi babakan penyebaran Syi’ah di Indonesia dalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang sebelum peristiwa RII. Saya punya bukti kuat bahwa sebelum Revolusi Islam Iran (RII) Syi’ah sudah ada di Indonesia. Baik Syi’ah Imamiyah, Zaidiyah maupun Isma’iliyah. Tetapi waktu itu Syi’ah sangat eksklusif. Mereka tidak punya semangat misionaris untuk menyebarkan ajarannya kepada orang lain. Mereka menyimpan itu sebagai keyakinnya sendiri. Di luar itu, mereka menjadi pengikut Ahlu Sunnah, berakomodasi dengan lingkungan. Boleh jadi di antara mereka adalah ulama-ulama besar yang dikenal dengan ulama Sunni.
Mereka menyimpan keyakinan itu hanya untuk diri mereka sendiri dan mungkin untuk keluarga yang sangat terbatas. Kita menduga mereka tidak hadir di tengah-tengah kita. Kita menduga bahwa tidak ada Syi’ah sebelum RII. Paling tidak, saya tidak menduga bahwa sebelum RII itu ada Syi’ah. Ada seorang al-Muhdor, salah satu famili arab yang terkenal. Al-Muhdor tampaknya adalah keluarga yang memelihara Syi’ah itu khusus untuk keluarga mereka. Mungkin secara sedikit-sedikit mereka menyebarkan ajarannya lewat orang-orang terdekat.
Setelah RII, masuklah Syi’ah gelombang kedua. Gelombang kedua ini ditandai dengan sifatnya yang intelektual. Orang-orang yang simpatik terhadap Syi’ah ini kebanyakan berasal dari perguruan tinggi. Kebanyakan di antara mereka juga tertarik kepada Syi’ah sebagai alternatif terhadap pemikiran-pemikiran Islam yang ada. Waktu itu, ketika banyak orang tertarik kepada Teori Kritis, tertarik kepada kelompok Neo Marxian, sebagian orang Islam menemukan hal yang mirip dengan itu pada pemikiran-pemikiran Syi’ah, seperti pemikiran Ali Syariati. Konsep-konsep ‘kiri’, seperti orang-orang tertindas, atau struktur yang korup, memperoleh padanannya dalam Islam pada istilah-istilah mustadh’afin, pada misi para nabi untuk menentang para tiran. Dan yang dengan jernih menyampaikan persoalan itu adalah para pemikir Syi’ah.
Karena itu, banyaklah orang yang tertarik kepada Ali Syariati. Orang cerita tentang mazhab Qum di samping mazhab Frankfurt, untuk kritik-kritik sosial. Tetapi kemudian, dari Ali Syariati mereka masuk pada pemikiran-pemikiran yang lebih mendalam, misalnya, pemikiran Muthahhari, Thabatabai, dan belakangan mulai populer juga pemikiran Mulla Sadra. Saya sepakat dengan Martin van Bruinessen yang menulis bahwa salah satu sumbangan Syi’ah gelombang kedua ini adalah kontribusinya pada kekayaan wacana intelektual Islam di Indonesia. Salah satu yang mereka sumbangkan adalah pemikiran filosofis pasca Ibnu Rusyd. Dulu, kalau belajar filsafat Islam, orang-orang tersebut mengakhiri pelajaran itu pada Ibnu Rusyd. Setelah kedatangan Syi’ah, kita diperkenalkan pada tradisi filsafat yang terus berkembang. Kalau kata Corbin, filsafat Islam itu justru dimulai setelah kematian Ibnu Rusyd dan mencapai puncaknya pada Mulla Sadra.
Jadi, orang-orang yang pertama kali tertarik kepada Syi’ah adalah kelompok-kelompok yang terdidik, yang intelektual. Mereka lebih tertarik kepada pemikiran Syiah ketimbang pada ritus-ritus atau fiqihnya. Kalau kita buat statistik, dari segi struktur sosial, para penganut Syi’ah itu berasal dari kelompok menengah ke atas, kebanyakan mahasiswa dan orang-orang perguruan tinggi. Dari segi mobilitas, banyak di antara mereka itu yang punya akses kepada hubungan Islam internasional. Dari segi ideologis, mereka cenderung radikal. Mereka lebih mirip dengan –atau padanan dari– kelompok Neo-Marxian, Teori Kritis atau kelompok ‘kiri’ di dunia Islam atau di kalangan Islam.
Kemudian, belakangan, Syi’ah mulai menyebar di Indonesia dan mendapat reaksi keras, terutama dari sementara kalangan Sunni. Ketika berhadapan dengan tuduhan-tuduhan Syi’ah, Syi’ah gelombang kedua ini berusaha menangkisnya. Karena serangan-serangan itu banyak ditujukan kepada akidah-akidah Syi’ah yang doktriner, bukan pada pemikiran yang intelektual, misalnya masalah imamah, maka mulailah Syi’ah gelombang kedua itu pun bergerak ke luar dari hal-hal yang intelektual dan memasukkan konsep-konsep imamah yang dijadikan serangan oleh orang-orang Sunni.
Ternyata kemudian, karena pertimbangan politik, dan karena pengaruh Saudi Arabia, buku-buku yang ditulis untuk menyerang Syi’ah menjadi lebih banyak. Isinya sekarang lebih mengarah kepada hal-hal yang bersifat fiqhiyyah. Jadi serangan-serangan beralih terhadap fikih Syi’ah, misalnya tentang mut’ah, sujud di atas tanah, atau yang lain. Serangan-serangan ini mendorong Syi’ah gelombang kedua ini untuk bergerak lebih jauh lagi dan lebih mempelajari fikih Syi’ah. Apa betul yang mereka tuduhkan itu? Menurut saya, ketertarikan kepada ritus-ritus Syi’ah, kepada fikih Syi’ah, itu lebih banyak terjadi karena ‘provokasi’ yang dilakukan oleh sementara ulama Ahlu Sunnah. Mereka akhirnya menemukan, ternyata fikih Syi’ah itu punya dasar dan argumen juga.
Pada akhir gelombang kedua ini, pemikiran Syi’ah di Indonesia sudah bergerak dari pemikiran yang murni intelektual ke arah yang lebih mendalam secara filosofis, dan pada akhirnya juga memasuki bidang akidah dan fikih Syi’ah. Nah, pada gelombang kedua inilah terjadi dialog-dialog yang tak jarang menimbulkan friksi yang tajam di berbagai tempat antara kalangan Syi’ah dan Sunni. Yang paling keras, saya kira, terjadi di Surabaya, ketika kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai Syi’ah berhadapan langsung dengan kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai Ahlu Sunnah. Saya kira, itu menandai perguliran pada gelombang berikutnya, yaitu Syi’ah gelombang ketiga.
Setelah Syi’ah menyebar di Indonesia, terutama dari segi pemikiran, pada akhir gelombang kedua itu kita melihat ada kebutuhan akan fikih Syi’ah. Orang ingin belajar fikih Syi’ah. Buku-buku yang masuk ke sini sangat sedikit yang berkaitan dengan fikih. Umumnya buku-buku yang bersifat pemikiran, sementara buku-buku fikih jarang. Padahal kebutuhan akan fikih itu mulai muncul, terutama karena serangan-serangan sementara kalangan Sunni terhadap fikih Syi’ah.
Ketika kebutuhan itu muncul, datanglah orang-orang Indonesia yang pernah dididik di Qum. Ada di antara mereka yang dididik sebelum RII. Fenomena itu juga membuktikan bawa Syi’ah sudah ada di Indonesia sebelum RII sekalipun. Buktinya orang Indonesia yang belajar di Iran sebelum RII. Kalau saya harus menyebut nama, contohnya adalah Ustad Umar Shahab. Ia belajar di Iran sebelum RII sampai sesudahnya. Tetapi Ustad Umar ini dulu masih masuk dalam Syi’ah gelombang pertama. Jadi, walaupun ia dididik di Iran, orientasinya intelektual dan tidak fiqhiyyah.
Gelombang ketiga ini ditandai dengan kehadiran alumnus-alumnus Qum yang belakangan (setelah Ustad Umar). Orientasi mereka fikih. Ketika mereka datang ke Indonesia, mereka memenuhi kebutuhan akan fikih ini. Mulailah mereka memberikan pengajian-pengajian Syi’ah di berbagai tempat. Syi’ah gelombang ketiga ini juga ditandai dengan semangat misioner yang sangat tinggi. Mereka pulang dengan romantisme lulusan-lulusan muda. Bukankah biasanya romantisme lulusan muda itu merasa terpanggil untuk menyelamatkan dunia, yang salah satu caranya ialah membawa orang kepada fikih Syi’ah. Maka mulailah mereka mengajarkan fikih Syi’ah ini di berbagai pengajian.
Tentu saja, boleh jadi karena pendekatan yang sangat fiqhiyyah itu, atau memang karena latar belakang pendidikan mereka, dimensi intelektual pada kelompok ini sangat kurang. Dan akhirnya, mereka merekrut dan membina Syi’ah yang juga dari kalangan yang tidak begitu terpelajar. Ada juga di antara mereka yang membina kelompok Syi’ah gelombang kedua. Tetapi akhirnya Syi’ah gelombang kedua ini kecewa, mungkin karena orientasi yang berbeda. Belakangan Syi’ah gelombang ketiga ini menganggap Syi’ah gelombang kedua itu sebagai bukan Syi’ah yang sebenarnya. Jadi. Kalau saya dimasukkan ke dalam Syi’ah gelombang kedua, maka mereka menganggap saya bukan Syi’ah. Di dalam wacana internal Syi’ah sendiri, sekarang ini terjadi serangan yang cukup kuat terhadap Syi’ah gelombang kedua itu. Boleh jadi karena mereka ingin menghadirkan dirinya sebagai pemimpin Syi’ah di Indonesia. Boleh jadi juga karena mereka meyakini asumsi-asumsi mereka bahwa orang seperti saya ini bukan Syi’ah, dengan definisi yang berbeda itu.
TANYA: Untuk waktu yang akan datang, kira-kira Syi’ah di Indonesia itu bagaimana?
JAWAB: Beberapa waktu yang lalu, saya diundang ke IAIN Ujung Pandang. Fakultas Ushuluddin IAIN Ujung Pandang mengadakan Seminar Nasional “Rekonsiliasi Sunnah-Syi’ah.” Kira-kira enam bulan sebelumnya, saya juga diundang ke Universitas Hasanuddin Ujung Pandang untuk dialog Sunnah-Syi’ah. Penyelenggaranya adalah mahasiswa yang menyebut dirinya MPM (Mahasiswa Pecinta Mushalla). Dialog ukhuwah Islamiyah itu ditandai dengan kekerasan. Saya sebagai pembawa makalah dibantai, dicaci-maki. Saya sendiri tidak membalas. Menurut saya, ini sebetulnya gejala dari massa Syi’ah gelombang kedua, ketika terjadi konflik Syi’ah-Sunni yang cukup berat. Ini mirip sekali ketika saya berdiskusi dengan Pak Rasjidi di Pesantren Darunnajah. Biasanya saya tidak menanggapi diskusi yang seperti itu. Jadi, saya tidak menjawab. Suasananya sangat tegang.
Tetapi, awal Oktober 1995, ketika saya kembali ke sana lagi, seminar semacam itu dikunjungi oleh peserta yang jauh lebih banyak. Mungkin lebih dari 1000 orang. Suasananya sangat ilmiah. Tidak ada saling membantai, saling menyerang. Tetapi intinya, bagaimana setiap kelompok bisa belajar satu sama lain. Seakan akan ada pesan dari situ: Biarlah Sunni tetap Sunni. Syi’ah tetap Syi’ah. Hendaknya di antara kedua kelompok itu ada saling belajar satu sama lain. Saya sendiri membawakan makalah tentang apa yang bisa dipelajari dari Syi’ah oleh Sunni.
Saya menunjukkan bagaimana orang-orang Syi’ah sudah lebih dahulu belajar dari Sunni. Saya sebut antara lain Sayyid Ali Khameini, yang menjadi Imam Syi’ah sekarang ini, adalah penerjemah Kitab Fi Zhilal al-Quran ke dalam bahwa Persia. Kitab Ihya’ ‘Ulum al Din, tulisan Al-Ghazali, diberi syarh oleh ulama-ulama Syi’ah dan dipelajari di pesantren-pesantren mereka. Imam Khomeini menyebut Ibn Arabi sebagai salah seorang gurunya. Padahal Ibn Arabi adalah Syeikh Akbar kalangan Sunni.
Contoh lain, kalau kita pergi ke Qum, di situ ada pasar kitab. Walaupun tidak menghitung dengan cermat, saya bisa melihat bahwa 80% dari kitab yang ada di situ adalah kitab-kitab Ahlu Sunnah. Di kalangan Syi’ah tidak ada ketakutan untuk membaca kitab-kitab Sunni. Mereka sudah belajar tentang Sunni. Adalah giliran kita sekarang untuk belajar dari mereka, sehingga kehadiran kedua kelompok ini memperkaya wacana perbincangan kita.
Dari situ saya menyaksikan ada suatu perkembangan baru, khususnya untuk penyebaran Syi’ah. Kalau peristiwa di IAIN itu bisa dijadikan sebagai sebuah tonggak dalam perkembangan pemikiran Islam di Indonesia., maka saya berani mengatakan bahwa eksistensi Syi’ah sudah diakui. Kecenderungan untuk hidup secara damai antara Sunni-Syi’ah sudah tumbuh. Ini sebuah kecenderungan baru. Karena sebelumnya, pikirannya ialah bagaimana saling meniadakan, saling menafikan satu sama lain. Sekarang muncul upaya untuk saling memahami, saling menghormati dan saling belajar. Sebagian orang mungkin akan beranggapan itu pertanda bahwa sudah banyak sekali yang menjadi Syi’ah.
Dari indikator-indikator itu saya berfikir, mungkin pertanyaannya bukan apakah Syi’ah akan berkembang pesat di Indonesia, tetapi –lebih persis lagi– apakah pemikiran Syi’ah akan mendapat tempat yang lebih luas di Indonesia. Dan untuk itu, jawabannya “ya”. Karena, paling tidak, sekarang sudah ada pengakuan akan eksistensi mereka. Nanti penerusnya akan muncul. Bahkan bukan label Sunni dan Syi’ah saja. Sunni dan Syi’ah itu mungkin sudah tidak relevan lagi. Karena yang Sunni sudah sangat terpengaruh Syi’ah, yang Syi’ah juga sudah sangat terpengaruh Sunni.
Label Sunni dan Syi’ah itu mungkin hanya diletakkan pada tataran abstrak saja, pada tataran konsepsual saja. Pada kehidupan sehari-hari, mungkin pengelompokan menjadi kelompok Syi’ah dan kelompok Sunni tidak terjadi. Bahkan menurut saya, tidak bakal terjadi satu ormas Syi’ah. Atau saya bisa menduga, di masa depan, orang-orang Syi’ah akan terdapat pada setiap organisasi Sunni. Pada organisasi Sunni akan ada unsur Syi’ah, tanpa rasa risih. Mereka diterima hadir sebagai bagian dari umat Islam, sebagaimana juga sekarang telah ada saling melintas batas antara orang NU dan Muhamadiyah.
TANYA: Sementara ini, komentar pemerintah terhadap gerakan Syi’ah di Indonesia bagaimana?
JAWAB: Saya melihat ada toleransi dari pemerintah terhadap orang-orang Syi’ah. Sebab mereka melihat bahwa Syi’ah di Indonesia ini hanyalah Syi’ah intelektual. Jadi, mereka tidak merasa harus khawatir terhadap Syi’ah sebagai sebuah gerakan revolusioner.
TANYA: Mengenai fatwa dari MUI?
JAWAB: Memang ada fatwa dari MUI untuk berhati-hati terhadap Syi’ah. Tetapi untuk melarang Syi’ah tidak ada. Karena pada waktu MUI mengeluarkan fatwa itu (melarang) beberapa tokoh cendekiawan Islam di MUI keberatan. Sehingga akhirnya kata-katanya diperlunak: tidak lagi melarang, tetapi pokoknya harus mewaspadai aliran Syi’ah. Sekiranya nanti ada kecurigaan dari pihak pemerintah terhadap Syi’ah, saya menduga kecurigaan itu hanyalah akibat dari lobbying yang dilakukan oleh orang-orang yang anti Syi’ah. Jadi orang-orang yang anti Syi’ah itu berusaha memberikan gambaran tertentu kepada pemerintah, sehingga mereka kemudian mencurigai Syi’ah.
Sebagi contoh, beberapa waktu lalu di Semarang ada diskusi antara Depag dan ormas-ormas Islam. Setelah diskusi mereka mengajukan resolusi untuk melarang Syi’ah, khususnya di Jawa Tengah. Itu terjadi setelah ada peristiwa seorang ustad yang katanya mut’ah dengan beberapa orang muridnya di Sragen. Ustad itu, menurut saya, termasuk Syi’ah gelombang ketiga, yang lahir setelah hadirnya Syi’ah fiqhiyyah yang dibawa oleh sebagian lulusan Qum itu. Tetapi mereka sampai sekarang tetap merupakan minoritas.
Jadi, mayoritas Syi’ah yang ada di Indonesia sekarang adalah Syi’ah gelombang kedua. Sementara yang gelombang ketiga itu minoritas. Kalau saya berbicara dari segi pemerintah, Syi’ah gelombang kedua itu lebih mudah diterima oleh pihak pemerintah daripada yang ketiga. Tetapi, saya pikir, Syi’ah gelombang ketiga itupun hanya entry point saja. Pada waktu yang lama mereka akan lebih toleran. Aliran apapun dalam Islam, kalau orientasinya fikih, itu akan cenderung mendorong konflik. Konflik Muhammadiyah dan NU itu sebenarnya dari segi fikih. Jadi aliran apapun, kalau dasarnya fikih, akan melahirkan konflik.
TANYA: Mungkin Syi’ah gelombang ketiga yang sangat fiqhiyyah itu, yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang-orang Sunni selama ini. Sebab, walaupun menurut Kang Jalal mereka itu minoritas, tetapi gerakan-gerakannya cukup eksklusif dan sekaligus agresif sehingga kelihatannya besar. Ini bagaimana menurut Kang Jalal?
JAWAB: Ciri setiap orientasi Islam yang bersifat fiqhiyyah adalah mendorong konflik dan cenderung eksklusif. Sebab fikih kemudian menjadi identitas golongan. Jadi, kalau fikih Anda sama dengan fikih saya, Anda satu golongan dengan saya. Kalau fikih Anda tidak sama, Anda di luar golongan saya. Fikih menjadi stempel kelompok. Menurut saya, hal semacam itu bukan terjadi pada Syi’ah saja, tetapi juga terdapat pada kelompok-kelompok harakah Sunni. Ia cenderung eksklusif kalau orientasinya fikih. Sekali lagi, yang eksklusif itu bukan hanya kelompok Syi’ah gelombang ketiga tadi, atau yang dibina oleh mereka, juga kelompok-kelompok harakah yang sekarang berada di universitas-universitas umum, misalnya di UI. Mereka juga cenderung eksklusif. Lalu mengapa mereka kelihatan lebih banyak, karena mereka cenderung konfrontatif. Di sana-sini bikin masalah. Kelihatannya memang banyak, tetapi secara statistik, jumlah mereka ini boleh dibilang negligible, bisa diabaikan. Saya pikir mereka tidak akan mewarnai Syi’ah di masa depan. Pada akhirnya mereka hanya akan termasuk kontributor, memberi nuansa fikih. Karena saya pikir itu pun diperlukan.
TANYA: Menyinggung buku-buku Syi’ah di Indonesia. Kita tahu bahwa banyak buku yang diterbitkan untuk meng-counter pemikiran Syi’ah. Sebaliknya, sekarang banyak juga buku yang apresiatif terhadap Syi’ah.
JAWAB: Kalau dari segi buku, saya kira yang sangat populer tentang Syi’ah adalah buku Dialog Sunnah-Syi’ah. Sesudah itu kemudian bermunculan buku-buku yang menyerang Syi’ah. Antara lain yang ditulis oleh Ihsan Ilahi Zahir, al-Tunsawi. Kemudian disusul dengan buku-buku yang ditulis orang Indonesia, antara lain ditulis Pak Rasjidi. Akan tetapi buku-buku itu lebih merupakan kumpulan kutipan dari buku-buku terjemahan. Lalu, pada saat yang sama, orang-orang Syi’ah juga menulis buku-buku. Umumnya, kalau kita menganalisis buku-buku itu, saya tidak menemukan buku Syi’ah yang khusus ditulis untuk menyerang akidah Ahlu Sunnah. Buku Ihsan Ilahi Zahir tidak memperoleh jawaban dari kalangan Syi’ah.
Mestinya ada buku yang membantah buku tersebut, sebagaimana orang Sunni pernah menulis bantahan terhadap Dialog Sunnah-Syi’ah. Orang-orang Syi’ah tidak menulis bantahan terhadap buku-buku yang menyerang mereka. Mereka masih tetap melanjutkan tradisi dialogis, bukan monologis. Misalnya, Penerbit Mizan kemudian menerbitkan buku Isu-Isu Penting Ikhtilaf Sunnah-Syi’ah. Saya membaca buku itu dan mendapat kesan bahwa pengarangnya tetap membawa misi persaudaraan Islam, walaupun di situ ia membela paham-paham Syi’ah.
Kemudian, belakangan mulai ada orang-orang Syi’ah –yang sulit didefinisikan itu– yang menulis buku. Sebetulnya mereka tidak membela paham Syi’ah, tetapi dianggap membela Syi’ah. Misalnya, Ustad Hussen al Habsyi menulis buku kecil berjudul Rasulullah Tidak Bermuka Masam. Ia mempertahankan bahwa Rasulullah itu ma’shum, dan bahwa salahlah orang yang menuduh bahwa ‘abasa wa tawalla itu ditujukan kepada Nabi. Itu keliru katanya, dengan keinginan untuk membela kesucian Nabi dengan argumentasi-argumentasi. Setelah itu muncul lagi buku kecil (kalau tidak salah judulnya Rasulullah Memang Bermuka Masam), yang membantah Ustad Hussein. Sayangnya beliau tidak menjawab lagi, karena meninggal dunia, bukan karena diserang buku itu.
Jadi, dialog terjadi dalam bentuk tulisan polemis. Menurut saya itu gejala yang sehat. Kita bisa melihatnya dengan gembira bahwa sekarang dialog-dialog itu sudah diangkat dari konflik-konflik yang bersifat fisik, ke arah dialog yang bersifat intelektual –lepas dari seberapa besar kualitas intelektualnya.
Contoh lain adalah buku saya Islam Aktual. Menurut saya, buku itu sama sekali tidak mencerminkan pemikiran Syi’ah secara khusus, tetapi lebih merupakan pemikiran yang dipengaruhi Syi’ah. Artinya tema-temanya adalah tema-tema umum yang bisa diterima oleh semua mazhab. Tidak ada fikihnya di situ. Tetapi sebagian orang menganggapnya buku Syi’ah. Ada seorang penulis buku dari Solo yang mengkritik buku saya. Judulnya –kalau tidak salah– Santri Menjawab Kritik Cendekiawan. Jadi saya di anggap cendekiawan, dan penulis menyebut dirinya santri. Pokoknya ia mengkritik buku itu habis-habisan, walaupun kritiknya itu tidak relevan.
Pada perkembangan berikutnya, ada juga beberapa tulisan tentang Syi’ah yang sangat apresiatif terhadap pemikiran-pemikiran Syi’ah, atau sangat dipengaruhi oleh pemikiran Syi’ah. Tulisan-tulisan Sayyid Hussein Nasr, misalnya, juga memperoleh pembaca yang banyak.
TANYA: Mengenai hubungan antara Syi’ah di Indonesia dengan Syi’ah di pusat, di Iran. Apakah hubungan atau network itu ada.
JAWAB: Dulu tidak ada hubungan sama sekali, sampai dengan gelombang pertama dan kedua, baik secara organisatoris maupun hubungan sosial. Yang saya maksud dengan hubungan sosial itu begini. Dalam Syi’ah ada konsep marja’iyyah. Seorang Syi’i harus mempunyai seorang marja’, seorang ulama yang diikuti dalam urusan fikih. Syi’ah-Syi’ah gelombang kedua itu tidak punya marja’ tertentu. Pada Syi’ah gelombang ketiga masuklah para penyebar fikih Syi’ah. Sejalan dengan itu masuk juga sistem marja’iyyah. Hubungan Syi’ah dengan marja’-nya itu harus kita lihat sebagai hubungan sosial saja: seorang murid yang mengikuti gurunya, bukan hubungan organisatoris seperti anggota Muhammadiyyah. Jadi sewaktu-waktu ia bisa berganti marja’, kalau menurut pertimbangannya bahwa marja’ yang lain itu lebih masuk akal.
Di Indonesia, saya kira ada yang mengikuti marja di Iran. Ada juga yang mengikuti marja’ di Irak. Ada beberapa Syi’ah yang mengikutinya, dan kerena mereka mempunyai marja’, jadi hubungan sosial mereka hanya dengan kelompok-kelompok satu marja’
TANYA: Kang Jalal bisa cerita tentang proses belajar atau nyantri di Qum. Sebab ternyata banyak juga mahasiswa Indonesia yang ke sana. Juga mengenai beasiswanya, apa ada dari pihak Iran, misalnya?
JAWAB: Kalau Anda belajar di pesantren Iran, apakah Anda itu orang asing ataupun orang Iran, Anda akan mendapat santunan dari para ulama. Kalau di Indonesia santri yang bayar ulama, di Iran ulama yang bayar santri. Mereka diberi uang bulanan yang kecil, sekitar 50.000 rial. Cukuplah untuk makan yang sangat sederhana. Kemudian tinggal di pondok-pondok itu tidak bayar. Itulah yang mungkin kita sebut beasiswa. Beasiswa dalam benak kita hanyalah diterima sebagian murid. Kalau ini, seluruh murid yang ada di situ dapat uang bulanan.
Sebenarnya tidak ada prosedur resmi seperti beasiswa dari pemerintah Iran. Kalau saya ditanya apakah ada beasiswa dari pemerintah Iran untuk pelajar Indonesia, saya bisa menyebutkan dengan pasti, “Tidak. Tidak ada sama sekali”. Saya dulu pernah ingin belajar di Iran, berharap dapat beasiswa dari pemerintah Iran, atau melalui kedutaannya di sini, tetapi tidak dapat. Saya bayar sendiri. Kemudian di sana, saya sebetulnya melamar ingin belajar teologi, dan sudah disetujui dan diterima oleh Prof. Mehdi Muhaghegh untuk mengambil program doktor di Universitas Teheran. Saya berangkat ke sana dengan biaya sendiri dan tinggal satu tahun. Setelah setahun, saya diberitahu bahwa saya sudah diterima di Universitas. Tetapi sayang, waktu itu saya sudah mengambil keputusan untuk pulang. Jadi saya tidak ambil.
Itulah proses birokrasi Iran. Dan itu menunjukkan betapa sulitnya memperoleh beasiswa dari pemerintah Iran. Lebih mudah memperoleh beasiswa ke Saudi atau ke Mesir ketimbang ke Iran. Hanya saja kalau ada orang yang punya maksud ingin belajar di Iran, itu gampang. Asal ia bisa bayar sendiri ongkos ke Iran. Secara teoretis begitulah, gampang. Namun, secara praktis di sana ia harus mengenal beberapa orang yang akan mengurusnya. Secara teoretis sederhana saja.
TANYA: Ini pertanyaan terakhir. Dalam konteks pembicaraan kita tentang Syi’ah di Indonesia, sebenarnya di mana posisi Yayasan Muthahhari yang Kang Jalal pimpin?
JAWAB: Yayasan Muthahhari tidak didirikan untuk menyebarkan Syi’ah –dan sampai sekarang lembaga ini tidak menyebarkan Syi’ah. Di situ ada SMU. Mereka belajar fikih empat mazhab (Syafi’i, Hambali, Maliki, Hanafi). Mereka tidak mempelajari fikih Syi’ah secara khusus. Dari Muthahhari juga keluar Jurnal al-Hikmah, yang banyak menerjemahkan pikirian-pikiran Syi’ah. Tetapi sekali lagi hanya bersifat pemikiran saja, fikihnya tidak ada. Belakangan al-Hikmah sedikit menampilkan pemikiran Syi’ah. Malah lebih banyak menampilkan pemikiran-pemikiran kalangan orientalis. Sehingga Yayasan Muthahhari, dengan melihat isi al-Hikmah seperti itu, layaklah disebut sebagai “agen zionisme Barat.” Jadi mungkin lebih layak Muthahhari ketimbang Paramadina atau Ulumul Qur’an. Jadi itu yang pertama: Muthahhari tidak didirikan untuk menjadi markas Syi’ah.
Lalu, kalau begitu, mengapa diambil nama Muthahhari? Itu karena tiga pertimbangan. Pertama, Muthahhari itu seorang pemikir Syi’ah yang sangat non sektarian, yang sangat terbuka. Ia sangat apresiatif terhadap pemikiran Sunni. Ia tidak pernah menyerang Sunni. Ia lebih banyak belajar dari Sunni. Karena itu kita ambil tokoh Muthahhari sebagai tokoh yang bersikap non sektarian, terbuka terhadap berbagai pemikiran, bukan karena Syi’ahnya.
Kedua, Muthahhari itu adalah orang yang dibesarkan dalam sistem pendidikan Islam tradisional, tapi setidak-tidaknya cukup well informed tentang khazanah pemikiran Barat. Ia menjembatani dikotomi antara intelektual dan ulama. Kita pilih ia, antara lain karena pertimbangan itu, bukan karena Syi’ah. Karena misi Yayasan Muthahhari yang kedua adalah menjembatani antara intelektual dan ulama. Di Indonesia ini banyak cendekiawan yang menulis tentang Islam, tetapi tidak punya dasar dan tradisi Islam tradisional, sebagaimana juga banyak ulama Islam tradisional yang tidak mempunyai wawasan kemodernan. Muthahhari mencerminkan keduanya.
TANYA: Kalau itu alasannya, mengapa tidak dipilih Cak Nur saja yang lebih lokal? Toh iapun menggabungkan kedua tradisi itu. Ia juga nonsektarian, terbuka kepada berbagai pemikiran. Ia juga mewakili dua tradisi: Islam dan Barat.
JAWAB: Mengapa Cak Nur tidak dipilih? Itu karena ada pertimbangan ketiga, yakni, Muthahhari itu menggabungkan aktivisme dan intelektualisme. Selain seorang intelektual, pemimpin, dan penulis, ia juga aktivis. Seorang aktivis itu adalah seseorang yang punya misi untuk melakukan perubahan sosial dan misi-misi yang sangat konkret. Cak Nur, menurut saya, lebih banyak intelektualismenya ketimbang aktivisnya. Jadi kita ambil Muthahhari.
TANYA: Lalu, dimana posisi Muthahhari dalam penyebaran Syi’ah, atau di kalangan komunitas Syi’ah yang lain?
JAWAB: Dalam penglihatan saya, Muthahhari tidak mempunyai nama yang begitu baik di kalangan Syi’ah, khususnya yang gelombang ketiga. Tetapi ia masih tetap punya banyak massa yang bercorak gelombang kedua itu, yaitu orang-orang Syi’ah tertentu yang lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat intelektual dan tidak bersifat fiqhiyyah. Muthahhari juga masih punya dukungan di kalangan mahasiswa, di kelompok-kelompok terdidik, karena dulu para pendukung Yayasan ini banyak yang berasal dari ITB dan Unpad. Mereka sekarang telah lulus jadi sarjana dan tersebar di berbagai tempat, tanpa membawa nama Syi’ah. Tetapi di kalangan Syi’ah yang belakangan, yang gelombang ketiga itu, Muthahhari tidak begitu oke. Bahkan, ada sekelompok Syi’ah di Jakarta yang mengecam Muthahhari dan mengganggapnya sebagai Syi’ah yang ‘murtad,’ di luar kelompok mereka. 

Diambil dari buku JALALUDDIN RAKHMAT: Catatan Kang Jalal; Visi Media, Politik, Dan Pendidikan (Hal: 433-460); Editor: Miftah F. Rakhmat, Penerbit: PT Remaja Rosdakarya Bandung, Cetakan Kedua April 1998.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment